Selasa 09 Jun 2026 10:39 WIB

Dimensi Hijrah yang Harus Diwujudkan

Hijrah adalah bergerak, berubah dari satu situasi ke situasi lebih baik.

Ilustrasi Hijrah
Foto: Mgrol120
Ilustrasi Hijrah

Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Tidak terasa kita akan kembali memperingati pergantian tahun baru hijriyah. Tahun 1447 H berganti menjadi 1448 H. Tahun berganti, kalender berubah, status WA pun ikut berganti "Selamat Tahun Baru Hijriah". Pertanyaannya adalah apakah diri kita ikut berubah atau tidak?

Hijrah adalah keniscayaan. Tanpa hijrah, mustahil seseorang meraih cita-cita. Hijrah bukan sekadar pindah dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah bergerak, berubah dari satu situasi menuju situasi yang lebih baik, dengan tetap bersandar kepada Allah SWT. 

Baca Juga

Sayangnya, hijrah banyak yang berhenti di level "berganti baju koko" dan "berganti bio Instagram". Padahal Rasulullah SAW berhijrah untuk membangun peradaban. Jika kita hanya merayakan tanpa berubah, maka Muharram hanya akan terus menjadi seremoni kosong. Maka, mumpung tahun baru Hijriah di depan mata, wujudkan hijrah dalam empat dimensi kehidupan. 

Pertama, dimensi personal: berhentilah masuk lubang yang sama. Setiap mukmin harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Alqur’an tidak pernah memuji "amal yang banyak", tetapi selalu "ahsanu amala" atau "amal yang paling baik". Kualitas, bukan kuantitas. Tidak pantas seorang mukmin yang sama terjatuh di lubang maksiat, lubang malas, lubang utang yang sama dua kali. Sepertiga Al-Qur’an berisi kisah umat terdahulu. Mengapa? Agar kita mau belajar dari sejarah, bukan mengulanginya. 

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok atau akhirat, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

photo
Hijrah, ilustrasi - ()

 Kedua, dimensi sosial: harta kita ada hak orang lain. Mukmin sejati tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia punya empati, simpati, dan kepedulian. Hijrah personal tanpa hijrah sosial adalah egois. Itulah rahasia zakat disyariatkan. Di dalam rekening kita, di dalam gaji kita, ada bagian untuk fakir miskin, anak yatim, dan dhuafa.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.” (QS. Al-Ma’arij [70]: 24). 

Ketiga, dimensi dakwah: diamnya seorang mukmin adalah bencana. Seorang mukmin tidak cukup hanya "saya sudah shalat, saya sudah zakat, saya sudah haji, urusan selesai". Seorang mukmin sejati harus turut mengajak. Mengajak keluarga ke masjid. Mengajak teman meninggalkan riba. Mengajak masyarakat menegakkan amar makruf nahi mungkar. 

Pasifnya seorang mukmin bukan hanya melemahkan imannya sendiri. Pasifnya seorang mukmin melahirkan "bakteri" kemaksiatan yang mudah menular. Satu orang diam, seribu kemungkaran merajalela. Jika ulama diam, politikus korup akan bicara. Jika guru diam, konten kreator maksiat akan didengar. Jika kita semua diam, siapa yang akan menyuarakan kebenaran? 

Keempat, dimensi politik: masuk dan isi institusi, jangan hanya mengkritik dari luar. Kita butuh institusi sosial untuk mewadahi dakwah: masjid, sekolah, koperasi, partai, lembaga negara. Tidak cukup berteriak "sistem rusak" dari pinggir jalan. Seorang mukmin harus masuk, lalu mengisi institusi itu dengan nilai Islam. 

Sosial, ekonomi, politik, budaya - semua harus diisi orang beriman. Sebab jika tidak, kursi kosong itu akan diisi orang yang tidak peduli halal-haram. Ingat bahwa Rasulullah SAW tidak hanya membangun masjid, tetapi juga membangun pasar (perekonomian), membangun konstitusi Madinah, membangun sistem pemerintahan. Itulah hijrah politik.

Dengan demikian, tahun berganti, tetapi jika hati tidak berubah, maka kita hanya ganti angka, bukan ganti nasib. Allah SWT tidak menuntut kita langsung menjadi Umar bin Khattab. Allah hanya menuntut kita bergerak. Bergerak dari malas ke produktif. Dari pelit ke peduli. Dari diam ke berdakwah. Dari kritik ke aksi nyata. Hijrah bukan peristiwa setahun sekali. Hijrah adalah keputusan setiap hari setelah Subuh. 

Semoga Allah SWT membimbing kita kaum muslimin agar mampu menjalankan tugas dan fungsi sesuai misi diciptakannya manusia: beribadah dan menjadi khalifah pengelola alam semesta. Amin. Wallahu a‘lam bish-shawab.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement