Jumat 29 May 2026 14:15 WIB

Dunia Semakin Terhubung, Tetapi Manusia Semakin Gelisah

Mengapa dunia yang semakin terhubung tidak otomatis menjadi semakin damai?

Sejumlah siswa menggunakan gawai untuk mengerjakan soal saat mengikuti ujian akhir semester berbasis digital.
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Sejumlah siswa menggunakan gawai untuk mengerjakan soal saat mengikuti ujian akhir semester berbasis digital.

Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECO-FITRAH; keluarga FKPPI dan ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada sesuatu yang aneh dalam dunia modern.Kita hidup di zaman ketika manusia bisa berbicara lintas benua hanya dalam hitungan detik melalui internet global dan teknologi digital. Konsep “global village” ini pernah dipopulerkan oleh Marshall McLuhan dalam karya The Gutenberg Galaxy (1962) dan Understanding Media (1964).

Tetapi anehnya, semakin dunia terkoneksi: perang tetap terjadi, ketimpangan semakin melebar,utang global meningkat, dan manusia modern justru semakin gelisah.

Menurut "The Age of Anxiety" dan berbagai studi kesehatan mental modern, kecemasan sosial menjadi salah satu ciri utama masyarakat kontemporer. Maka muncul pertanyaan besar: mengapa dunia yang semakin terhubung tidak otomatis menjadi semakin damai?

Globalisasi: Janji Besar Peradaban Modern

Setelah Perang Dunia II, dunia mencoba membangun tatanan internasional baru melalui: United Nations, International Monetary Fund, World Bank, dan sistem Bretton Woods Conference.Tujuannya baik: mencegah perang besar, memperkuat perdagangan, dan menciptakan stabilitas ekonomi global.

Pemikir seperti Thomas L Friedman dalam "The World Is Flat" menjelaskan bagaimana teknologi, perdagangan, dan jaringan global membuat dunia semakin “datar” dan saling terhubung.Tetapi kritik mulai muncul. Joseph E Stiglitz dalam "Globalization and Its Discontents" menyatakan bahwa globalisasi seringkali berjalan tidak adil, terutama bagi negara berkembang. Artinya: globalisasi mungkin berhasil menghubungkan pasar,tetapi belum tentu berhasil menghubungkan keadilan.

Modal Menjadi Global, Tetapi Penderitaan Tetap Lokal

Inilah salah satu paradoks terbesar globalisasi.Uang dapat bergerak melintasi dunia dalam hitungan detik melalui sistem finansial internasional. Menurut Capital in the Twenty-First Century, konsentrasi kekayaan global semakin menguat di tangan elite ekonomi dan pemilik modal besar.

Laporan World Inequality Lab juga menunjukkan bahwa ketimpangan kekayaan dunia meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir.Perusahaan multinasional dapat memproduksi di negara murah,menjual di pasar kaya, dan menyimpan keuntungan di tax haven.

Sementara: petani kecil, nelayan tradisional, dan buruh lokal harus bersaing dengan sistem ekonomi global yang sangat besar. Maka lahirlah ironi: pasar menjadi global, tetapi penderitaan tetap lokal.

Financial Capitalism dan Konsentrasi Modal

Dalam sistem kapitalisme modern, dana investasi raksasa memiliki saham di ribuan perusahaan dunia. Nama seperti: BlackRock,Vanguard Group, State Street Corporation sering muncul sebagai pemegang saham institusional besar di perusahaan teknologi,farmasi,energi, media dan industri pertahanan. Fenomena ini dijelaskan dalam berbagai studi tentang “financialization” dan “asset manager capitalism”.

Ekonom seperti David Harvey dalam "A Brief History of Neoliberalism" menjelaskan bagaimana neoliberalisme memperkuat dominasi modal finansial global. Tetapi menariknya,sementara modal bergerak lintas negara, rakyat biasa tetap hidup dalam ketegangan identitas nasional dan geopolitik.

Hari ini Amerika Serikat dan China bersaing keras dalam: semikonduktor, perdagangan, teknologi, AI, dan militer. Tetapi pada saat yang sama, ekonomi mereka saling bergantung.Fenomena ini dibahas oleh Graham Allison dalam "Destined for War". Artinya: negara-negara besar bersaing tetapi juga saling membutuhkan. Seperti dua rival yang bertengkar di atas kapal yang sama.

Teknologi Mendekatkan Jarak, Tetapi Menjauhkan Jiwa

Media sosial menghubungkan miliaran manusia.Tetapi berbagai penelitian menunjukkan peningkatan kecemasan, depresi, kesepian dan krisis perhatian.

Sherry Turkle dalam "Alone Together", menjelaskan bagaimana teknologi digital bisa membuat manusia “sendiri bersama-sama”.Jonathan Haidt dalam "The Anxious Generation" juga membahas dampak media sosial terhadap kesehatan mental generasi muda.Sementara Byung-Chul Han dalam "The Burnout Society" menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat yang kelelahan secara psikologis. Maka lahirlah istilah: hyper-connected loneliness.Terhubung secara digital, tetapi terputus secara batin.

Banyak orang dulu berharap bisnis perdagangan global akan mengurangi konflik. Tetapi abad modern justru melahirkan bentuk perang baru: perang ekonomi,perang mata uang, perang data, perang siber, perang energi,dan perang pangan. Henry Kissinger dalam World Order menjelaskan bahwa rivalitas geopolitik tetap menjadi bagian dari tatanan dunia. Artinya, globalisasi tidak menghapus perebutan kekuasaan. Ia hanya mengubah bentuknya.

Dari AgriCulture ke AgriBusiness

Paradoks globalisasi juga terlihat jelas dalam sektor pangan. Pertanian tradisional yang dahulu berbasis komunitas dan keberlanjutan perlahan berubah menjadi sistem industri besar. Vandana Shiva dalam "Stolen Harvest' mengkritik industrialisasi pangan dan dominasi korporasi agribisnis.

Sementara EF Schumacher dalam "Small Is Beautiful" mengingatkan bahwa ekonomi modern sering kehilangan dimensi manusia dan ekologinya. Pangan akhirnya berubah: dari amanah kehidupan menjadi instrumen pasar global.

Jika dahulu kolonialisme mengambil rempah-rempah, emas, dan minyak, maka kolonialisme modern mulai mengambil: data,perhatian,perilaku,dan psikologi manusia. Shoshana Zuboff dalam "The Age of Surveillance Capitalism" menjelaskan bagaimana data manusia menjadi komoditas ekonomi baru. Sedangkan Yuval Noah Harari dalam Homo Deus membahas kemungkinan masa depan ketika algoritma memahami manusia lebih baik daripada manusia memahami dirinya sendiri.

Pertanyaan besarnya menjadi sangat serius: apakah manusia masih menjadi subjek teknologi, atau perlahan berubah menjadi bahan baku teknologi?

Krisis Peradaban Modern

Mungkin masalah terbesar dunia modern bukan kurangnya teknologi. Karena manusia hari ini sudah memiliki satelit, AI, internet global, bioteknologi, dan superkomputer. Tetapi dunia tetap dipenuhi, polarisasi, utang, krisis makna hidup, kecemasan serta kerusakan lingkungan. Seolah manusia berhasil menguasai mesin, tetapi gagal menguasai dirinya sendiri.

Dalam perspektif fitrah, masalah terbesar globalisasi mungkin bukan pada konektivitasnya. Melainkan pada hilangnya orientasi fitrah.Karena ketika dunia hanya dibangun di atas laju pertumbuhan tanpa batas, akumulasi modal,eksploitasi sumber daya, dan kompetisi tanpa henti,maka bumi akhirnya dipandang sekadar objek produksi dan eksploitasi. Padahal tanah bukan sekadar aset.Air bukan sekadar komoditas.Hutan bukan sekadar angka ekonomi.

Dalam pandangan fitrah, bumi adalah amanah.Dan mungkin disinilah paradoks terbesar globalisasi: manusia berhasil memperpendek jarak geografis, tetapi memperlebar jarak batin. Kita membangun jaringan internet global, tetapi boleh jadi lupa membangun keteduhan jiwa.

Kita menciptakan pasar dunia, tetapi gagal menciptakan rasa cukup. Kita menjadi sangat terkoneksi, tetapi kehilangan arah ruhani.

Maka tugas peradaban ke depan mungkin bukan sekadar membuat dunia semakin cepat dan semakin digital. Melainkan mengembalikan manusia kepada hikmah, keseimbangan, keadilan, dan fitrah kehidupan.

Sebab bumi tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai menguasai pasar. Bumi membutuhkan manusia yang mampu menjaga amanah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement