
Oleh: Haniah, Pembimbing Ibadah Kloter 1 UPG, Alumni Univ Al Azhar, Kairo, Ketua Prodi S2 PBA UIN Alauddin
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap musim haji, jutaan manusia bergerak menuju Mina dengan langkah yang hampir sama: lelah, penuh harap, dan membawa doa-doa yang dipendam bertahun-tahun.
Di tempat itu, para jamaah melaksanakan dua rangkaian ibadah yang secara lahiriah tampak sederhana: mabit di Mina dan melontar jumrah. Namun di balik kesederhanaan ritual itu, sesungguhnya tersimpan pelajaran spiritual yang sangat dalam tentang perjuangan manusia melawan dirinya sendiri.
Mina bukan tempat yang identik dengan kenyamanan. Tenda-tenda penuh sesak, ruang gerak terbatas, antrean panjang, dan perjalanan yang melelahkan sering kali menjadi bagian dari pengalaman jamaah haji.
Di situlah kesabaran manusia diuji secara nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terbiasa hidup dengan ruang pribadi, fasilitas memadai, dan ritme yang dapat dikendalikan. Namun di Mina, semua ego itu perlahan diluruhkan. Manusia dipaksa belajar hidup bersama jutaan orang lain dengan segala perbedaan karakter, bahasa, dan kebiasaan.
Karena itu, mabit di Mina sesungguhnya bukan hanya tentang bermalam di sebuah kawasan tenda. Ia adalah latihan besar tentang kesederhanaan dan pengendalian diri. Di Mina, manusia belajar bahwa hidup tidak selalu harus berjalan sesuai keinginannya. Ada kalanya seseorang harus rela mengalah demi kenyamanan orang lain, menahan emosi di tengah kepadatan, dan tetap tersenyum meski tubuh dipenuhi kelelahan. Dalam konteks inilah Mina menjadi sekolah akhlak yang sangat nyata.
Di tengah situasi seperti itu, ritual melontar jumrah hadir sebagai simbol perlawanan terhadap segala bentuk keburukan dalam diri manusia. Secara historis, ritual ini merujuk pada kisah Nabi Ibrahim yang melempar setan ketika digoda agar membatalkan perintah Allah. Akan tetapi, dalam makna spiritualnya, jumrah bukan sekadar melempar batu ke sebuah tiang beton. Yang sesungguhnya dilempar adalah kesombongan, amarah, iri hati, kerakusan, dan hawa nafsu yang selama ini bersarang dalam diri manusia.
Sayangnya, tidak sedikit jamaah yang memahami melontar jumrah hanya sebagai ritual fisik semata. Padahal inti ibadah ini terletak pada kesadaran batin. Batu-batu kecil yang dilempar itu seharusnya menjadi simbol tekad untuk meninggalkan sifat buruk setelah kembali dari Tanah Suci. Sebab tidak ada makna spiritual dalam melontar jumrah jika seseorang masih gemar menyakiti orang lain dengan lisannya, masih memelihara kebencian, atau tetap mempertahankan kesombongan setelah hajinya selesai.