Senin 25 May 2026 12:17 WIB

Kurban dan Daya Tahan Sosial Umat

Kurban mengajarkan bahwa harta tidak boleh berhenti sebagai kepemilikan pribadi.

Para Sales Promotion Girl (SPG) berpakaian ala pramugari memberi makan sapi yang dijual di Mall Hewan Kurban H. Doni, kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Jumat (15/5/2026). Mall Kurban H. Doni menghadirkan konsep pelayanan unik dengan mengadopsi gaya pramugari dalam penjualan hewan kurban. Konsep tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat dan pembeli menjelang Hari Raya Iduladha. Harga hewan kurban yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp17 juta hingga Rp150 juta per ekor, tergantung jenis dan bobot hewan.
Foto: Republika/Prayogi
Para Sales Promotion Girl (SPG) berpakaian ala pramugari memberi makan sapi yang dijual di Mall Hewan Kurban H. Doni, kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Jumat (15/5/2026). Mall Kurban H. Doni menghadirkan konsep pelayanan unik dengan mengadopsi gaya pramugari dalam penjualan hewan kurban. Konsep tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat dan pembeli menjelang Hari Raya Iduladha. Harga hewan kurban yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp17 juta hingga Rp150 juta per ekor, tergantung jenis dan bobot hewan.

Oleh: Jaharuddin, Ekonom Universitas Muhammadiyah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Idul Kurban datang pada saat banyak rumah tangga sedang menata ulang cara bertahan. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, cicilan, transportasi, dan ketidakpastian pendapatan membuat sebagian masyarakat harus semakin cermat mengelola kehidupan sehari-hari.

Di tengah suasana seperti ini, Idul Kurban tidak cukup dimaknai sebagai perayaan tahunan atau penyembelihan hewan semata. Idul Kurban perlu dibaca kembali sebagai pesan besar tentang iman, solidaritas, distribusi, dan daya tahan sosial umat.

Secara makro, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. BPS mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, walaupun banyak yang memberikan catatan, dengan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang pentingnya. Inflasi April 2026 juga tercatat 2,42 persen secara tahunan.

Namun, angka-angka makro tidak selalu sepenuhnya menggambarkan denyut kehidupan masyarakat kecil. Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, tekanan ekonomi tidak hanya hadir dalam statistik, tetapi dalam harga beras, telur, cabai, ongkos sekolah, biaya kontrakan, dan kebutuhan harian yang terus harus dipenuhi.

Rupiah melemah, tekanan itu bertambah terasa ketika ruang ekonomi bergerak dalam ketidakpastian global. Bank Indonesia pada 20 Mei 2026 mencatat BI-Rate berada pada level 5,25 persen. Kebijakan suku bunga tentu penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi pada saat yang sama kita perlu mengingat bahwa stabilitas makro harus selalu disertai keberpihakan sosial. Ekonomi tidak boleh hanya kuat di neraca, tetapi juga harus terasa adil di meja makan masyarakat.

Di sinilah Idul Kurban menemukan relevansi terdalamnya. Kurban mengajarkan bahwa harta tidak boleh berhenti sebagai kepemilikan pribadi. Harta harus bergerak, mengalir, dan menghadirkan manfaat.

Islam tidak memusuhi kekayaan, tetapi menolak keserakahan. Islam tidak menolak kepemilikan, tetapi menegaskan bahwa di dalam setiap kepemilikan terdapat tanggung jawab sosial. Harta yang berkah bukan hanya yang banyak dikumpulkan, melainkan yang luas manfaatnya.

Kisah Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Sayyidah Hajar adalah fondasi spiritual dari pesan tersebut. Nabi Ibrahim mengajarkan kepatuhan total kepada Allah. Nabi Ismail memperlihatkan kepasrahan yang sadar, bukan ketaatan yang lahir dari paksaan.

Sayyidah Hajar memberi teladan tentang keteguhan, kerja keras, harapan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah di tengah keterbatasan. Dari keluarga mulia ini, umat Islam belajar bahwa pengorbanan bukan tanda kehilangan, melainkan jalan menuju kemuliaan.

Maka, kurban sesungguhnya bukan hanya menyembelih hewan.

Kurban adalah ikhtiar menyembelih ego, keserakahan, cinta dunia yang berlebihan, dan keengganan untuk berbagi. Alquran menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak sampai kepada Allah, yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan. Pesan ini penting agar ibadah kurban tidak terjebak menjadi seremoni sosial, apalagi panggung pencitraan.

Di tengah masyarakat yang kian individualistik dan konsumtif, kurban adalah kritik moral yang tajam. Ketika banyak orang sibuk menampilkan apa yang dimiliki, kurban mengajak kita memikirkan apa yang sudah diberikan.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement