Senin 25 May 2026 07:00 WIB
Analisis Ekonomi

Saat Kurban Mengajarkan Ekonomi Keadilan

Syariat kurban semakin relevan ketika sebagian masyarakat hidup dalam kelimpahan.

Warga mengambil gilingan daging di Pasar Colombo, Sleman, Yogyakarta, Jumat (30/6/2023). Hari Raya Idul Adha jasa penggilingan daging kerbanjiran orderan. Banyak warga yang mendapat pembagian daging kurban menggiling daging atau membuat adonan bakso. Karena banyaknya pesanan harga jasa penggilingan daging juga naik, dari Rp 20 ribu pada hari biasa menjadi Rp 25 ribu per kilogramnya. Selain itu, warga juga harus antre dengan pengambilan nomer urut terlebih dahulu.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Warga mengambil gilingan daging di Pasar Colombo, Sleman, Yogyakarta, Jumat (30/6/2023). Hari Raya Idul Adha jasa penggilingan daging kerbanjiran orderan. Banyak warga yang mendapat pembagian daging kurban menggiling daging atau membuat adonan bakso. Karena banyaknya pesanan harga jasa penggilingan daging juga naik, dari Rp 20 ribu pada hari biasa menjadi Rp 25 ribu per kilogramnya. Selain itu, warga juga harus antre dengan pengambilan nomer urut terlebih dahulu.

Oleh: Setiawan Budi Utomo, Pemerhati Keuangan dan Ekonomi Syariah, Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Penulis Buku 'The Power of Kurban: Menggapai Nilai Super Pengabdian'

REPUBLIKA.CO.ID -- Idul Adha selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Takbir berkumandang, masjid dan lapangan dipenuhi jamaah, sementara hewan-hewan kurban mulai disiapkan untuk disembelih. Namun di balik ritual yang setiap tahun dijalankan umat Islam itu, sesungguhnya tersimpan pesan ekonomi dan sosial yang sangat mendalam. kurban bukan sekadar ibadah penyembelihan hewan, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana Islam membangun keadilan ekonomi melalui konsumsi, distribusi, dan ketahanan sosial.

Di tengah dunia yang semakin menghadapi ketimpangan, inflasi pangan, dan krisis solidaritas sosial, syariat kurban terasa semakin relevan. Ketika sebagian masyarakat hidup dalam kelimpahan, sebagian lainnya masih kesulitan mengakses pangan bergizi. Dalam konteks inilah kurban hadir bukan hanya sebagai simbol pengorbanan spiritual, tetapi juga instrumen pemerataan kesejahteraan.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

نَهَيتَ أن تُؤكَلَ لُحومُ الضَّحايا بَعدَ ثَلاثٍ، فقال: إنَّما نَهَيتُكُم مِن أجلِ الدَّافَّةِ التي دَفَّت؛ فكُلوا وادَّخِروا وتَصدَّقوا

Mereka bertanya: ‘Bukankah dahulu engkau melarang memakan daging kurban setelah tiga hari?’ Nabi SAW menjawab: ‘Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian karena adanya banyak pendatang yang membutuhkan. Maka sekarang makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Waqid dan Aisyah ra.)

Hadits ini sangat menarik karena di dalamnya terdapat tiga fondasi besar ekonomi Islam sekaligus: konsumsi, cadangan logistik, dan distribusi sosial. Tiga konsep yang justru menjadi isu penting dalam ekonomi modern hari ini.

Konsumsi yang Bermartabat

Pesan pertama Nabi adalah “makanlah”. Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki dan kesejahteraan. Bahkan dalam ekonomi syariah, konsumsi merupakan bagian dari pemeliharaan kehidupan (hifz al-nafs) dalam kerangka maqashid syariah. Namun Islam memberi batas moral agar konsumsi tidak berubah menjadi pemborosan dan kerakusan.

Di era modern, ekonomi global sering didorong oleh budaya konsumtif yang berlebihan. Manusia membeli bukan karena kebutuhan, tetapi demi simbol status dan kepuasan sesaat. Akibatnya, ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan semakin melebar.

Kurban justru mengajarkan konsumsi yang berbeda: konsumsi yang berbasis syukur dan kebermanfaatan. Menikmati daging kurban bukan sekadar memenuhi selera, tetapi bagian dari penghargaan terhadap nikmat Allah sekaligus sarana memperbaiki kualitas gizi masyarakat.

Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia. Meski ekonomi nasional terus tumbuh, ketimpangan akses terhadap pangan bergizi masih menjadi tantangan serius. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2025 masih mencapai sekitar 23,36 juta orang. Pada saat yang sama, persoalan stunting dan keterbatasan akses protein hewani masih terjadi di berbagai daerah.

Dalam konteks itu, kurban menjadi momentum penting redistribusi pangan bergizi kepada masyarakat yang jarang menikmati protein hewani dalam keseharian mereka.

Menyimpan dan Ketahanan Logistik

Pesan kedua Nabi adalah “simpanlah”. Sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung filosofi ekonomi yang sangat modern: pentingnya cadangan logistik dan ketahanan pangan.

Dunia hari ini semakin rentan terhadap krisis global. Konflik geopolitik, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi harga pangan menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan produksi. Yang sama pentingnya adalah kemampuan menyimpan, mengelola, dan mendistribusikan cadangan pangan secara efektif.

Islam ternyata telah mengajarkan prinsip ini jauh sebelumnya. Menyimpan sebagian daging kurban menunjukkan bahwa umat perlu memiliki kesiapsiagaan menghadapi masa sulit. Dalam perspektif ekonomi modern, ini sejalan dengan konsep food security dan manajemen risiko sosial.

Pelajaran ini terasa semakin penting ketika harga pangan global masih bergejolak dan ketidakpastian ekonomi dunia terus meningkat. Ketahanan bangsa bukan hanya soal besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kemampuan masyarakat menjaga stabilitas pangan dan solidaritas sosialnya.

Sedekah dan Distribusi Keadilan

Pesan ketiga Nabi adalah “sedekahkanlah”. Di sinilah inti ekonomi keadilan dalam Islam.

Ekonomi Islam tidak membiarkan kekayaan hanya berputar di kelompok tertentu. Harta harus mengalir dan menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas. Karena itu, kurban bukan sekadar ibadah personal, tetapi instrumen distribusi kesejahteraan.

Ketika daging kurban dibagikan kepada masyarakat miskin, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kepedulian sesaat, tetapi rasa persaudaraan sosial.

Kurban menghadirkan pengalaman kolektif bahwa kebahagiaan tidak boleh dimonopoli oleh mereka yang mampu.

Dalam teori ekonomi modern, distribusi yang terlalu timpang dapat memicu instabilitas sosial dan memperlemah daya tahan ekonomi masyarakat. Karena itu, banyak negara mengembangkan instrumen pajak, subsidi, dan bantuan sosial untuk menjaga keseimbangan.

Islam telah memperkenalkan konsep distribusi sosial jauh lebih awal melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, dan kurban. Bedanya, distribusi dalam Islam tidak hanya berbasis kewajiban negara, tetapi juga dorongan spiritual dan moral masyarakat.

Momentum kurban juga menggerakkan ekonomi rakyat secara luas. Peternak, pedagang hewan, penyedia pakan, jasa transportasi, hingga pelaku UMKM memperoleh dampak ekonomi dari meningkatnya aktivitas kurban. Kementerian

Pertanian bahkan memperkirakan ketersediaan hewan kurban nasional 2025 mencapai lebih dari 3,2 juta ekor, melebihi estimasi kebutuhan nasional.

Artinya, kurban bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi berbasis komunitas.

Spirit Ekonomi Berkeadilan

Di tengah dunia yang semakin individualistik, kurban mengingatkan bahwa ekonomi sejatinya bukan hanya soal pertumbuhan angka, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan. Islam tidak memisahkan spiritualitas dan kesejahteraan sosial.

Ibadah harus melahirkan dampak sosial yang nyata.

Karena itu, kurban sesungguhnya merupakan miniatur ekonomi Islam yang lengkap. Ada konsumsi yang bermartabat, ada cadangan logistik untuk ketahanan masyarakat, dan ada distribusi keadilan sosial.

Kurban mengajarkan bahwa harta terbaik bukanlah yang ditumpuk tanpa akhir, tetapi yang mampu memberi kehidupan bagi orang lain. Bahwa ketakwaan tidak berhenti di sajadah, tetapi hadir dalam kepedulian sosial dan keberanian berbagi.

Pada akhirnya, saat kurban mengajarkan ekonomi keadilan, Islam sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa keberkahan ekonomi tidak lahir dari kerakusan dan akumulasi semata, melainkan dari kemampuan menghadirkan manfaat, solidaritas, dan harapan bagi sesama manusia.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement