Senin 18 May 2026 11:47 WIB

Langkah Mencegah Hantavirus

Masa inkubasi Hantavirus umumnya berlangsung sekitar dua minggu.

Proses penurunan penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah hantavirus di Pelabuhan Granadilla de Abona di Tenerife, Spanyol, Ahad (10/5/2026). Kapal tersebut terkena wabah hantavirus selama penyeberangan Atlantik Selatan, yang menyebabkan tiga orang meninggal.
Foto: EPA/ALBERTO VALDES
Proses penurunan penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah hantavirus di Pelabuhan Granadilla de Abona di Tenerife, Spanyol, Ahad (10/5/2026). Kapal tersebut terkena wabah hantavirus selama penyeberangan Atlantik Selatan, yang menyebabkan tiga orang meninggal.

Oleh: dr Mirsyam Ratri Wiratmoko, Sp.P, FCCP, FISR, Dokter Spesialis Paru dan Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia kembali dikejutkan dengan kemunculan virus baru yang memicu kekhawatiran global, Hantavirus. Virus ini ditemukan di kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar, menimbulkan perhatian serius karena berpotensi menyebar di ruang tertutup dengan mobilitas penumpang yang tinggi.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengungkapkan, Hantavirus telah terdeteksi sejak 2024, dengan total 23 kasus positif tercatat hingga 2026, termasuk tiga kasus kematian.

Kemunculan kasus tersebut pun memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat, mulai dari tingkat bahaya virus, cara penularan, hingga langkah pencegahan yang perlu dilakukan.

Awal Munculnya Hantavirus di Kapal Pesiar

Hantavirus kembali meningkat setelah muncul laporan kasus pada awal Mei 2026 di kapal pesiar MV Hondius. Kasus ini bermula dari sepasang wisatawan asal Belanda yang mengalami gejala sakit dan batuk setelah melakukan kunjungan ke taman burung atau pameran burung sebelum perjalanan.

Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, keduanya dinyatakan terinfeksi Hantavirus. Dari penelusuran lanjutan, ditemukan sedikitnya delapan orang terkonfirmasi positif, dengan tiga di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Kasus ini menjadi sorotan karena terjadi di lingkungan kapal pesiar yang memiliki mobilitas tinggi dan ruang tertutup sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit menular.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan virus yang umumnya ditularkan dari tikus atau rodensia ke manusia. Berbeda dengan COVID-19 yang awalnya dikaitkan dengan kelelawar, Hantavirus lebih sering berasal dari paparan tikus yang membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit.

Tikus menjadi reservoir alami, sementara manusia dapat tertular ketika menghirup partikel aerosol dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering dan bercampur dengan udara.

Biasanya penularan terjadi pada orang-orang yang sering bekerja di lingkungan dengan paparan tikus, seperti gudang, ruang tertutup, atau saat membersihkan area yang banyak kotoran tikus tanpa perlindungan.

Secara umum Hantavirus tak mudah menular antarmanusia, kecuali pada jenis tertentu seperti Andes virus yang memiliki karakteristik khusus. Penularan pada jenis tertentu bisa terjadi melalui cairan tubuh, seperti droplet, darah, urine, hingga kontak seksual.

Gejala dan Masa Inkubasi

Masa inkubasi Hantavirus umumnya berlangsung sekitar dua minggu. Pada fase awal, gejalanya sering menyerupai flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan badan terasa lemas. Karena gejala awalnya mirip COVID-19 atau infeksi virus lainnya, banyak kasus berisiko terlambat dikenali.

Namun, pada fase lanjutan, kondisi pasien bisa memburuk dengan munculnya gangguan paru-paru atau pernapasan serius, bahkan gangguan ginjal, tergantung jenis Hantavirus yang menginfeksi.

Di Asia, kasus Hantavirus lebih sering dikaitkan dengan gangguan ginjal atau hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), sementara di wilayah Amerika lebih banyak ditemukan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan.

Perbedaan Hantavirus dan COVID-19

Meskipun gejalanya sekilas mirip, Hantavirus dan COVID-19 memiliki sumber penularan berbeda. COVID-19 menyebar terutama antarmanusia melalui droplet atau aerosol, sedangkan Hantavirus lebih perlu dicurigai jika seseorang memiliki riwayat paparan tikus atau lingkungan terkontaminasi.

Kalau ada gejala batuk, pilek, demam, lalu sebelumnya membersihkan gudang, rumah kosong, atau ada kontak dengan tikus, itu harus menjadi perhatian khusus dan segera diperiksakan.

Langkah Pencegahan

Untuk mencegah Hantavirus, pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan. Konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, tidur cukup selama tujuh hingga delapan jam, mencuci tangan, dan menghindari merokok menjadi langkah dasar menjaga daya tahan tubuh.

Selain itu, saat membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang berpotensi terdapat kotoran tikus, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan agar tidak menghirup partikel berbahaya.

Keberadaan tikus di rumah memang tidak otomatis membuat seseorang terkena Hantavirus, tetapi tetap ada risiko. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi paparan tikus menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement