
Oleh: Yuri O Thamrin; duta besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama bertahun-tahun, banyak orang di Barat berasumsi bahwa China ingin menggantikan Amerika secepat mungkin sebagai penguasa dunia. Namun cara Beijing melihat Amerika ternyata lebih rumit daripada itu.
China memang melihat Amerika sedang mengalami banyak tekanan internal: polarisasi politik, meningkatnya fragmentasi sosial, utang besar, hingga kecenderungan Washington memakai tarif, sanksi, dan tekanan ekonomi terhadap lawan maupun sekutunya sendiri. Semua itu membuat sebagian elite China percaya bahwa dominasi global Amerika perlahan mulai retak. Namun menariknya, Beijing tampaknya tidak melihat Amerika sebagai negara yang lemah.
Sebaliknya, dalam banyak analisis strategis China, Amerika dipandang sebagai kekuatan yang masih sangat besar, tetapi kini semakin gelisah karena merasa posisinya mulai ditantang. Bagi Beijing, Amerika yang sedang cemas justru bisa lebih berbahaya dibanding Amerika yang percaya diri. Negara hegemon yang merasa dominasinya terganggu cenderung bertindak lebih keras, lebih impulsif, dan lebih sulit diprediksi.
Cara pandang semacam ini terlihat dalam kolom Chaguan di The Economist edisi 9 Mei 2026 berjudul On American Decline. Dalam artikel itu, China digambarkan melihat Amerika bukan sebagai kekuatan yang runtuh, melainkan sebagai hegemon yang masih kuat tetapi semakin agresif dalam mempertahankan posisinya.
Pandangan tersebut membantu menjelaskan mengapa China sendiri terlihat cukup hati-hati. Retorika Beijing memang sering keras, terutama soal Taiwan dan Laut China Selatan. Namun dibanding Rusia, misalnya, China relatif lebih kalkulatif dalam menggunakan kekuatan militernya. Beijing tampaknya sadar bahwa Amerika masih memiliki terlalu banyak keunggulan untuk diremehkan.
Amerika tetap mempunyai jaringan aliansi global terbesar di dunia. Dolar masih mendominasi sistem keuangan internasional. Universitas dan perusahaan teknologinya tetap menjadi pusat inovasi global. Dalam bidang artificial intelligence, semikonduktor, aerospace, dan kekuatan militer global, Amerika masih berada di garis depan.
Karena itu, sejumlah pemikir China seperti Wang Jisi dan Da Wei berkali-kali mengingatkan agar Beijing tidak terjebak dalam rasa percaya diri berlebihan. Wang Jisi, misalnya, pernah menulis tentang US power/US decline dan mengingatkan bahwa kemunduran hegemoni Amerika tidak otomatis berarti hilangnya kekuatan Amerika. Da Wei dari Tsinghua juga menekankan bahwa China tidak perlu dan tidak ingin sekadar “menggantikan” Amerika sebagai hegemon baru.
Pandangan ini juga sejalan dengan sejumlah analis Barat. Graham Allison (Destined for War, 2017), misalnya, melihat rivalitas AS-China sebagai kompetisi struktural antara kekuatan mapan (ruling power) dan kekuatan yang sedang naik (rising power). Sementara Michael Beckley dan Hal Brands dalam berbagai tulisan di Foreign Affairs berargumen bahwa meskipun dominasi relatif Amerika menghadapi tekanan, kekuatan fundamental negara itu masih sangat besar.
Karena itu, Beijing tampaknya membedakan antara menurunnya hegemoni dan pengaruh moral Amerika dengan tetap besarnya kekuatan Amerika itu sendiri. Dalam pandangan ini, pengaruh dan legitimasi global Washington mungkin mengalami erosi di berbagai kawasan, tetapi kapasitas Amerika dalam bidang militer, teknologi, finansial, dan jaringan aliansinya masih sangat besar. Dalam bahasa sederhana, China mungkin percaya era dominasi tunggal Amerika perlahan mulai retak, tetapi mereka juga percaya Amerika masih sangat mampu “mengacaukan keadaan”.
Cara pandang ini membantu menjelaskan sikap China terhadap Donald Trump. Di satu sisi, Beijing kemungkinan melihat Trump sebagai simbol polarisasi dan fragmentasi politik Amerika. Tarif tinggi, tekanan terhadap sekutu, perang dagang, dan pendekatan transaksional Washington dianggap menunjukkan retaknya model globalisasi liberal yang dahulu dipimpin Amerika sendiri.
Namun di sisi lain, Beijing juga melihat bahwa Amerika di bawah Trump semakin siap menggunakan kekuatan secara terbuka: tarif, pembatasan teknologi, kontrol investasi, tekanan terhadap supply chain, hingga sanksi finansial. Dengan kata lain, China mungkin melihat Amerika bukan sedang mundur secara damai, tetapi sedang memasuki fase yang lebih keras dalam mempertahankan posisinya.
Akibatnya, hubungan AS-China kini semakin bergeser dari sekadar kompetisi ekonomi menjadi kompetisi strategis menyeluruh. Trade war bercampur dengan perebutan teknologi, artificial intelligence, logam tanah jarang (rare earths), keamanan maritim, hingga Taiwan. Interdependensi ekonomi yang dahulu dipandang sebagai sumber stabilitas kini justru semakin dilihat sebagai kerentanan strategis. IMF bahkan beberapa kali mengingatkan risiko geoeconomic fragmentation, yakni terpecahnya ekonomi global ke dalam blok-blok strategis yang saling bersaing.
Meski demikian, Beijing tampaknya belum ingin mengambil risiko konfrontasi langsung berskala besar dengan Amerika. Banyak langkah China tetap berada di wilayah abu-abu: tekanan militer terbatas di sekitar Taiwan, penguatan teknologi domestik, ekspansi pengaruh ekonomi, dan diplomasi yang semakin aktif di Global South. China tampaknya masih percaya bahwa waktu berada di pihaknya.
Bagi negara-negara menengah seperti Indonesia, cara Beijing membaca Amerika penting dipahami. Sebab rivalitas kedua negara tampaknya tidak akan berubah menjadi perang terbuka dalam waktu dekat, tetapi juga tidak akan kembali ke optimisme globalisasi lama. Dunia tampaknya sedang bergerak menuju era persaingan jangka panjang: saling terhubung, tetapi sekaligus saling curiga.
Dalam situasi seperti itu, tantangan bagi banyak negara bukan memilih salah satu pihak, melainkan menjaga ruang gerak strategisnya sendiri. Karena baik Beijing maupun Washington tampaknya semakin melihat hubungan internasional bukan lagi sekadar soal kerja sama, tetapi juga soal pengaruh, kemampuan bertahan, dan perimbangan kekuatan.