Rabu 25 Feb 2026 17:10 WIB

Merawat Dapur Bangsa di Dunia tanpa Wasit: Ray Dalio, Prabowo Subianto, dan Politik Bertahan Hidup

Ujian sejati peradaban kita akan berlangsung.

Santri membawa paket Makanan Bergizi Gratis untuk berbuka puasa di Pondok Modern Tahfidz Nurul Jannah Manokwari, Papua Barat, Senin (23/2/2026). SPPG Borasi Manokwari menyalurkan sebanyak 60 paket MBG bagi para santri di pesantren selama Ramadhan, guna memastikan pemenuhan gizi tetap optimal saat berpuasa.
Foto: ANTARA FOTO/Chairil Indra
Santri membawa paket Makanan Bergizi Gratis untuk berbuka puasa di Pondok Modern Tahfidz Nurul Jannah Manokwari, Papua Barat, Senin (23/2/2026). SPPG Borasi Manokwari menyalurkan sebanyak 60 paket MBG bagi para santri di pesantren selama Ramadhan, guna memastikan pemenuhan gizi tetap optimal saat berpuasa.

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Saya sering membaca tulisan-tulisan Ray Dalio - buku-bukunya yang tebal dan tenang, esai-esainya yang dingin, hingga tulisan panjangnya yang belakangan ia unggah di media sosial X.

Dari sana saya belajar satu hal: Dalio tidak menulis untuk menghibur, ia menulis untuk membongkar. Ia tidak meramal masa depan, melainkan membuka pola masa lalu yang berulang dengan wajah berbeda.

Baca Juga

Karena itu, ketepatan gagasan dan prediksinya terasa bukan seperti kebetulan, melainkan akibat dari kesetiaan membaca sejarah sebagai siklus - bukan sebagai kisah heroik yang selesai.

Dalam buku dan tulisannya, Dalio memberi arah yang melampaui ekonomi. Ia berbicara tentang peradaban: bagaimana negara bangkit ketika mampu menyeimbangkan kekuatan dan keadilan; bagaimana ia runtuh ketika ketimpangan dibiarkan, legitimasi menguap, dan rakyat merasa hidup di sistem yang bukan milik mereka.

Ekonomi, dalam kerangka Dalio, hanyalah gejala. Penyebab sejatinya adalah internal order - atau ketiadaannya.

Tulisan panjang Dalio yang baru-baru ini saya baca - yang juga sempat saya bagikan - menyatakan dengan lugas: tatanan dunia pasca-1945 telah runtuh.

Dunia memasuki fase great power politics, ketika hukum internasional melemah, konsensus global retak, dan kekuatan kembali menjadi bahasa utama.

Dalam istilah Dalio, ini adalah tahap lanjut Big Cycle: konflik eksternal berjalan seiring dengan keretakan internal. Negara-negara yang gagal mengurus dapur sendiri akan terseret, atau dipaksa memilih, dalam pertarungan yang tidak mereka rancang.

Dari sini, membaca arah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto menjadi lebih bermakna jika diletakkan sebagai satu arsitektur, bukan serpihan janji. Banyak orang menilai Prabowo dari simbol-simbol kekuatan dan militer.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement