
Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari berbagai pengalaman yang ada, berkah panen raya bisa dimaknai sebagai hasil panen yang melimpah dan membawa keberkahan atau kebaikan bagi banyak orang.
Banyak pihak yang memperoleh keberkahan dari adanya panen raya. Apakah terkait dengan perbaikan nasib dan kehidupan petani; apakah berhubungan dengan penyempurnaan kebijakan pemerintah atau pun kepentingan pihak lain.
Bila didetailkan, bagi petani, berkahnya adalah hasil panen melimpah, harga jual baik, dan kesejahteraan keluarga meningkat.
Bagi pemerintah, ketersediaan pangan terjamin, inflasi terkendali, dan citra meningkat karena berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagi pedagang, peningkatan omzet dan keuntungan karena pasokan barang melimpah dengan harga kompetitif.
Sedangkan bagi akademisi, kesempatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang pertanian dan ekonomi. Bagi media massa, meningkatnya liputan berita positif tentang pertanian dan ekonomi Indonesia.
Selain itu, meningkatnya pendapatan dari iklan dan promosi produk pertanian.
Sayangnya, hingga kini berkah itu belum sepenuhnya terwujud, meski ada beberapa kemajuan dicapai. Pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan produksi pangan, seperti panen raya serentak di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota.
Ini menunjukkan komitmen pemerintah meningkatkan produksi pangan dan mencapai swasembada beras. Beberapa contoh kemajuan yang telah dicapai antara lain, pertama peningkatan produktivitas.
Penggunaan teknologi modern dan varietas unggul telah meningkatkan hasil panen per hektare. Kedua, penguatan infrastruktur. Pembangunan gudang penyimpanan dan distribusi yang lebih baik membantu mengurangi kehilangan pascapanen.
Ketiga, dukungan pemerintah. Pemerintah telah memberikan subsidi dan insentif kepada petani untuk meningkatkan produksi. Namun tidak bisa dipungkiri, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.
Tantangan utama yang perlu dicermati antara lain perubahan iklim. Gangguan cuaca ekstrem (banjir, kekeringan) memengaruhi hasil panen. Selanjutnya, kekurangan infrastruktur. Jalan rusak, irigasi kurang, dan fasilitas penyimpanan tidak memadai.
Kemudian, teknologi. Petani masih banyak menggunakan metode tradisional, kurang akses ke teknologi modern. Lalu, biaya produksi. Harga input (pupuk, benih, alat) yang tinggi mengurangi keuntungan petani. Selain itu, kualitas sumber daya manusia. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam pertanian modern.
Panen raya padi di Indonesia diperkirakan dimulai pada Februari 2026, dengan proyeksi peningkatan produksi sekitar 5-10 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Mengawali berlakunya 2026, Presiden Prabowo Subianto memimpin panen raya padi di Karawang, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai swasembada pangan.
Panen raya kali ini diharapkan mampu memberi dampak terhadap peningkatan produksi padi nasional; peningkatan pendapatan petani; peningkatan ketahanan pangan nasional; dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tak kurang penting untuk disampaikan, panen raya kali ini merupakan ujian pertama untuk melestarikan swasembada beras yang telah diraih per 31 Desember 2025.
Swasembada beras 2025, memang bukan yang pertama kali diraih bangsa ini. Beberapa kali kita mampu menggapai swasembada beras lengkap dengan seabrek pujian dan piagam penghargaan berkelas internasional.
Badan Pangan Dunia (FAO), dikenal sebagai lembaga yang sering memberi penghargaan setiap bangsa ini melahirkan prestasi di bidang perberasan. Sedihnya, secara kualitas, swasembada beras yang kita raih, umumnya bersifat swasembada beras "on trend’’.
Atau sering juga dikatakan sebagai swasembada beras kadang-kadang. Kalau iklim dan cuaca berpihak kepada petani maka produksi beras akan melesat tinggi, namun jika sebaliknya, lagi-lagi kita harus membuka kran impor beras.
Menyimak gambaran dan perjalanan swasembada beras di negeri ini, wajar kalau dalam mengulas swasembada beras 2025, kita perlu lebih terbuka dalam mengelola swasembada beras ysng sesungguhnya.
Kita ingin memberi bukti swasembada beras yang diumumkan, bukan untuk mengejar kepentingan sesaat, tapi harus berlangsung sepanjang waktu. Kata kunci swasembada beras adalah adanya produksi beras berlimpah.
Tanpa terjadinya peningkatan produksi, tidak mungkin akan ada swasembada beras. Itu sebabnya, kemauan politik Pemerintahan Presiden Prabowo yang menginginkan terwujudnya swasembada beras berkelanjutan, bukan hal gampang untuk dibuktikan.
Problemnya bisa menjadi lebih rumit, manakala ada pandangan yang menyatakan "Upaya mempertahankan atau melestarikan swasembada beras, cenderung akan lebih sulit ketimbang saat menggapainya".
Lebih berat lagi tatkala pemerintsh juga berkeinginan secepatnya mencapai swasembada pangan. Pengalaman membuktikan untuk meraih satu jenis komoditas pangan saja sudah berat, apalagi beragam bahan pangan.
Tapi apa boleh buat. Semua ini perjuangan yang butuh kerja keras untuk mewujudkannya. Semua komponen bangsa penting untuk bersinergi dan berkolaborasi. Ayo rapatkan barisan para pemangku kepentingan dunia perberasan.
Bagaimana pun juga, kehormatan dan tanggung jawab selaku bangsa, menuntut kepada kita untuk berkiprah yang terbaik bagi bangsa dan negeri tercinta.