Senin 16 Feb 2026 10:40 WIB

Ramadhan Bulan Dakwah dan Tarbiyah

Manfaatkan Ramadhan dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Berbisnis saat Ramadhan (ilustrasi).
Foto: unm
Berbisnis saat Ramadhan (ilustrasi).

Oleh : Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuingan, Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID,Ramadhan akan kembali hadir. Mari kita sambut Ramadhan dengan penuh kesyukuran dalam bentuk menyiapkan seluruh potensi dan daya upaya untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan dengan amaliyah yang dapat meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah SWT, dan dapat meningkatkan posisi diri di tengah-tengah masyarakat.

Tampilnya kita sebagai penyeru dakwah (dai) dan tokoh bagi umat adalah keniscayaan yang harus disadari. Oleh karena itu, memanfaatkan momentum bulan Ramadhan dengan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya adalah sebuah kemestian. 

Baca Juga

Ketokohan di masyarakat tidak akan datang tiba-tiba. Diperlukan proses panjang dan serius untuk menumbuhkannya sehingga mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Secara umum menjadi tokoh masyarakat diperlukan beberapa syarat.

Syarat pertama, memiliki kemiripan atau kesamaan dengan masyarakat. Inilah yang dapat seorang dai fahami dari beberapa ayat Allah yang menerangkan bahwa para rasul diutus dari suku bangsa mereka sendiri. 

photo
ILUSTRASI Puasa Ramadhan. - (pxhere)

Syarat kedua, mempunyai keunggulan dalam hal yang dianggap sama atau yang menjadi identitas masyarakat. Syarat ketiga, memiliki kongruensi (sama dan sebangun) dengan gambaran ideal pemimpin menurut masyarakat sekitar. 

Dari situlah kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyesuaikan diri dengan kebaikan-kebaikan masyarakat di manapun kita berada. Disamping itu, penokohan di masyarakat harus juga memperhatikan rambu-rambu agar dapat meminimalisir sisi negatif. Dengan demikian, keberadaan kita selaku dai akan mudah diterima oleh masyarakat.

Nabi SAW bersabda, “Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesamanya.” (Musnad Asy-Syihab Al-Qudha’iy). 

Proses yang bagus dan tanpa cacat saja masih mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat, apalagi jika penokohan tanpa dibarengi kearifan. Dari situlah usaha untuk penokohan seorang dai dalam dakwah di lingkungan harus juga memperhatikan hal-hal penting.

Hal penting itu adalah tidak menjadi ancaman bagi tokoh lain, sebisa mungkin dai menjadi perekat bagi masyarkat yang hiterogen. Dan, selalu membina hubungan baik terutama dengan tokoh dan orang-orang yang dihormati di wilayah tersebut.

Dakwah di lingkungan masyarakat muslim yang secara umum memiliki mazhahir tadayyun sya’biy di bulan Ramadhan yang tidak bertentangan dengan semangat dan nilai-nilai dakwah yang diusung.

Pertama, mazhahir ibadah. Di antaranya shalat fardhu berjamaah. Masyarakat muslim secara umum melaksanakan shalat fardhu di bulan Ramadhan dengan berjamaah di masjid atau mushalla di sekitar tempat tinggal, atau tempat kerja. Pada point ini dai harus menjadi teladan terbaik dalam pelaksanaan shalat berjamaah, dengan hadir lebih awal, dan mengajak anggota keluarga.

Shalat Tarawih berjamaah. Masyarakat menganggap shalat tarawih di masjid atau mushala adalah identitas keislaman yang sangat signifikan, maka kehadiran di jamaah itu sangat menentukan penerimaan atau penolakan terhadap keberadaan seseorang. Maka ditekankan kepada seorang dai untuk melaksanakan shalat tarawaih berjamaah di masjid atau mushalla. 

Mengikuti tausiyah/kultum. Pada bulan Ramadhan kaum muslimin sedang dalam kondisi siap menerima nilai-nilai, dan sedang meningkat semangat tadayyun mereka. Maka seorang dai hendaknya berperan aktif dalam hal ini baik sebagai pemberi taushiyah ataupun pendengar, untuk menjadi teladan dan penyemangat bagi yang lain. 

Mengikuti tadarus Alqur’an. Ramadhan dikenal sebagai syahrul Qur’an, budaya tadarus Al-Qur’an perlu disupport baik yang diselenggarakan di masjid, di mushalla, atau rumah warga. Seorang dai diharapkan berperan aktif dalam kegiatan ini.

Gemar bersedekah. Rasulullah SAW adalah seorang dermawan yang gemar bersedakah, dan di bulan Ramadhan lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Maka dianjurkan kepada seorang dai menyediakan anggaran khusus infaq terutama mengisi kotak infaq di masjid atau mushala, dan membiasakan anak-anaknya untuk gemar bersedekah. Termasuk bersedekah dengan berbagi ifthar kepada tetangga.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement