Oleh : Nur Hadi Ihsan, Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendidikan nasional tengah menghadapi paradoks yang kian mengemuka. Di satu sisi, standar mutu, fasilitas, dan sistem administratif terus diperbaiki dengan investasi yang tidak sedikit. Di sisi lain, keluhan tentang rapuhnya karakter, rendahnya daya tahan mental, serta lemahnya kemandirian generasi muda justru semakin sering terdengar. Kemajuan kelembagaan, dengan demikian, tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan pembentukan manusia—sebuah ironi yang mengkhawatirkan.
Situasi tersebut menuntut pembacaan ulang terhadap makna pendidikan itu sendiri, terutama pada model pendidikan berasrama seperti pesantren. Pembacaan ini tidak berhenti pada bentuk institusi atau kelengkapan fasilitas, tetapi menyentuh cara pandang dasar terhadap relasi pendidikan. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: apakah pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan manusia dewasa yang utuh, ataukah telah bergeser menjadi mekanisme pelayanan kenyamanan bagi peserta didik?
Pendidikan dalam Kerangka Pelayanan
Pemaknaan pendidikan sebagai pelayanan membawa implikasi serius yang perlu ditelaah secara kritis. Ketika logika pasar memasuki ruang pedagogis, lembaga pendidikan bertransformasi menjadi penyedia jasa (service provider), peserta didik diposisikan sebagai pengguna (consumer), dan kepuasan dijadikan indikator utama keberhasilan. Dalam kerangka tersebut, tuntutan cenderung dilunakkan, disiplin dipersempit ruang geraknya, dan kesulitan diperlakukan sebagai gangguan terhadap kenyamanan yang harus dieliminasi.
Pendekatan demikian memang sah dalam dunia bisnis dan perhotelan. Namun, dunia pendidikan—khususnya pendidikan karakter—menuntut logika yang berbeda secara fundamental. Tujuan mendidik bukanlah membuat hidup terasa mudah dan nyaman, melainkan menyiapkan manusia untuk menghadapi kenyataan hidup yang keras, kompleks, dan tidak selalu ramah.
Dominasi logika pelayanan berisiko mengikis proses pendewasaan yang justru menjadi inti pendidikan. Kecakapan akademik mungkin tetap berkembang, tetapi ketangguhan mental dan kedewasaan emosional sering tertinggal jauh di belakang. Akibatnya, lahir generasi yang terampil secara teknis namun tidak memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapi tekanan, kegagalan, dan tanggung jawab sosial yang melekat pada kehidupan dewasa.
Pesantren dan Relasi Pendidikan yang Otentik
Sejarah panjang pesantren memperlihatkan watak pendidikan yang berbeda secara mendasar. Pesantren tidak tumbuh sebagai penyedia layanan yang berorientasi kepuasan pelanggan, melainkan sebagai ruang transformasi ilmu dan pembentukan karakter yang integral. Santri datang dengan kesadaran sebagai penuntut ilmu (thalib al-'ilm), bukan sebagai konsumen yang menuntut hak. Kesadaran akan disiplin, kesabaran, dan pengorbanan menyertai proses belajar sejak awal—bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian intrinsik dari proses pendewasaan.