Jumat 16 Jan 2026 15:51 WIB

Sholat dan Spirit Perlawanan

Sejak awal sholat merupakan bentuk ketahanan hidup.

Ilustrasi sholat.
Foto: Republika/Bayu Adji P.
Ilustrasi sholat.

Oleh : Fahmi Salim, Ketua Umum Fordamai dan Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di rimba dunia yang disesaki oleh perang, propaganda, dan perebutan kekuasaan, sholat sering dipersempit maknanya menjadi sekadar ritual individual. Ia dianggap urusan privat antara manusia dan Tuhan, jauh dari urusan publik, apalagi politik dan keadilan global. Padahal, dalam sejarah Islam, sholat justru lahir sebagai bentuk perlawanan sunyi: perlawanan tanpa senjata, tanpa teriakan, tetapi paling dalam dan lama daya tahannya.

Isra Mikraj terjadi bukan di masa kejayaan Nabi Muhammad ﷺ, melainkan pada fase paling gelap dalam hidup beliau. Istri tercinta wafat, pelindung politik meninggal, dakwah ditolak, dan kekerasan dialami secara fisik maupun psikologis. Dalam situasi itulah, Allah tidak menghadiahkan untuk Sang Rasul kemenangan politik atau kekuatan militer, melainkan sholat. Ini pesan yang sangat politis sekaligus spiritual: ketika dunia menutup semua pintu, Allah membuka pintu langit.

Baca Juga

Sholat, sejak awal, bukan sekadar ibadah personal. Ia adalah ketahanan hidup (resiliensi) sekaligus perlawanan (resistensi).

Berdiri Tegak di Hadapan Tuhan

Dalam sholat, seorang muslim berdiri tegak (qiyam). Secara simbolik, ini adalah sikap keberanian. Orang yang terbiasa berdiri di hadapan Tuhan tidak mudah tunduk kepada kezaliman manusia. Sejarah mencatat, para nabi dan orang saleh selalu berhadap-hadapan dengan tirani.

Fir’aun takut bukan kepada senjata Musa, tetapi kepada keyakinannya. Para penjajah takut bukan kepada jumlah umat Islam, tetapi kepada kesadaran spiritual yang melahirkan keberanian moral. Sholat melatih keberanian itu—tanpa sorak sorai, tanpa lampu sorot panggung.

Sujud: Puncak Kerendahan, Sumber Perlawanan

Sujud sering disalahpahami sebagai simbol kepasrahan total yang mematikan daya kritis. Padahal dalam Islam, sujud justru menolak pasrah tunduk kepada selain Allah. Orang yang bersujud hanya kepada Tuhan tidak akan pernah tunduk kepada kekuasaan yang zalim, konglomerasi yang rakus, atau ideologi yang menindas.

Itulah mengapa sujud menjadi simbol perlawanan umat tertindas. Di Gaza, di masjid-masjid yang hancur, di pengungsian, di penjara-penjara politik, sholat tetap ditegakkan dengan khusuk. Mereka mungkin kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan, tetapi tidak kehilangan martabat. Sholat menjaga martabat itu.

Hubungan yang Tak Terpisahkan

Isra Mikraj dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Artinya, sholat—hadiah Isra Mikraj—lahir dengan membawa jejak Palestina. Maka memisahkan sholat dari isu Al-Aqsa dan Gaza bukan hanya keliru secara syariat, tetapi juga cacat secara akidah.

Ketika umat Islam menjaga sholat, seharusnya ingatan mereka juga terjaga tentang tanah yang menjadi saksi perjalanan Nabi ﷺ. Sholat bukan hanya menghadap kiblat, tetapi juga memberi respon dan proaktif terhadap sejarah penderitaan dan harapan umat.

Perlawanan Sunyi di Tengah Kebrutalan

Hari ini, dunia memuja kekuatan yang berisik: senjata canggih, algoritma media, opini yang viral. Sholat tidak masuk logika itu. Ia sunyi, berulang, dan tampak diam. Namun justru di sanalah kekuatannya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement