Senin 02 Mar 2026 14:32 WIB

Perang AS-Iran: Kematian Khamenei, dan Infinite Game

Krisis Iran masih akan panjang, kematian Khamenei, hanyalah cobaan kecil bagi rakyat.

A handout photo made available by the Iranian Supreme Leader office shows Iranian Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei speaking during a ceremony in Tehran, Iran, 23 December 2023. Khamenei condemned Israeli strikes on Gaza adding that he is confident the Palestinian people will triumph and Israel will be eradicated.
Foto: EPA-EFE/SUPREME LEADER OFFICE HA
A handout photo made available by the Iranian Supreme Leader office shows Iranian Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei speaking during a ceremony in Tehran, Iran, 23 December 2023. Khamenei condemned Israeli strikes on Gaza adding that he is confident the Palestinian people will triumph and Israel will be eradicated.

Oleh : Sabpri Piliang, Pengamat Timur Tengah

REPUBLIKA.CO.ID, The Day After! Frasa bermakna, hari setelahnya, menarik dalam konteks terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei (pemimpin spiritual tertinggi Iran). AS-Israel pelakunya.

  

Baca Juga

The Day After pasca-Khamenei, apa yang akan terjadi? Mengasosiasikannya dengan cerita perang NATO versus Fakta Warzawa, dalam serial TV ABC (AS) 1983, tidaklah simetris dan 'kongruen'. Namun, Iran adalah "mata rantai" terakhir neo-Pakta Warzawa (memisalkan Rusia, China, Korea Utara), blok komunis di Timur Tengah.

Iran menjadi perhatian inklusif seperti halnya The Day After, yang ditonton 100 juta pasang mata di AS. Perseteruan NATO (Blok AS-Barat) dengan Pakta Warzawa (Blok Komunis-Timur), sebuah tontonan yang tidak selesai, hanya dengan kematian Khamenei.

Propaganda bak "pemandu sorak" (cheersleader) yang dideskripsikan media pro-AS (The Guardian, Jerusalem Post, Washington Post). Terjadi kegembiraan rakyat Iran, setelah terbunuhnya Khamenei, satu hal skeptis dan agitatif.

Ayatollah Ali Khamenei, satu-satunya Presiden Iran dari kalangan ulama 1981-1989 (sebelum menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini). Memiliki pengikut fanatis di kalangan rakyat Iran.

Dia menjadi ulama sejak usia 11 tahun, Khamenei adalah orator ulung yang dipercaya Khomeini memimpin sholat Jumat di Teheran. Kukuh pendirian, Khomeini mempersiapkan Khamenei sejak dari pengasingannya di Naple Le Chateu (Prancis).

The Day After. Propaganda media massa, dan statemen Donald Trump atau Benyamin Netanyahu, sepertinya krisis Iran akan segera berakhir dengan kematian Khamenei?

Krisis Iran masih akan panjang. Kematian Khamenei, hanyalah cobaan kecil bagi rakyat Iran. Mempermalukan rakyat Iran, di mana pemimpin 90 juta rakyat "dibunuh" tangan orang lain. Menyinggung psikologis sebuah negara bangsa (nation state) yang berdaulat.  

Indikator serangan itu sebagai satu kecerobohan, menggema inklusif. Sunday Times bahkan mengindikasikan Trump tidak yakin dengan tindakannya, dengan mendesak rakyat Iran segera mengambil alih kekuasaan.

Pertanyaannya, mengapa tidak AS saja yang terjun ke Teheran? Turunkan pasukan infanteri, seperti saat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, atau saat menangkap Presiden Panama, Manuel Noriega (1989), sekaligus memastikan akhir rezim Khamenei?

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement