Selasa 30 Dec 2025 15:33 WIB

Merawat Golkar, Menjaga Demokrasi

Catatan Kecil tentang Peran Besar HMI dan Tokohnya

Sejumlah simpatisan Partai Golkar menghadiri Kampanye terbuka partai golkar di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (9/4). -Foto Ilustrasi-
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah simpatisan Partai Golkar menghadiri Kampanye terbuka partai golkar di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (9/4). -Foto Ilustrasi-

Oleh : Arief Rosyid Hasan, Kader Muda Golkar, Ketum PB HMI 2013-2015

REPUBLIKA.CO.ID, Selama hampir setahun berproses di AMPI dan resmi menjadi kader Partai Golkar, saya semakin meyakini bahwa hubungan antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Partai Golkar adalah relasi yang panjang, dibentuk oleh konteks zaman, dan diuji oleh berbagai dinamika sejarah. Membaca Golkar tanpa HMI, terasa seperti membaca sejarah yang tidak utuh.

Sejak awal kelahirannya, HMI tercatat sebagai salah satu organisasi yang ikut mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Golkar tidak lahir sebagai partai ideologis sempit, melainkan sebagai wadah kekuatan fungsional masyarakat. Pada fase ini, tokoh-tokoh HMI membawa tradisi intelektual, disiplin organisasi, serta orientasi kebangsaan yang memberi fondasi penting bagi konsolidasi awal Golkar.

Dalam catatan sejarah “Hari-Hari Yang Panjang 1963-1966”, Sulastomo (Ketua Umum PB HMI 1963–1966), menjabat sebagai Ketua Koordinator Pemuda Sekber Golkar. Bagi saya, fakta ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa tokoh HMI sejak fase embrionik berada di jantung pembentukan Golkar. Mereka bukan sekadar pendukung, melainkan aktor yang ikut membentuk arah, struktur, dan basis sosial partai.

Peran tokoh HMI kembali terasa menentukan ketika Indonesia memasuki masa transisi Orde Baru ke Reformasi. Saat tuntutan pembubaran Golkar menguat, Nurcholish Madjid (Ketua Umum PB HMI 1966-1971), salah satu Tim Sebelas yang menyeleksi partai-partai politik, lantang menolak pembubaran Partai Golkar. Selain karena tidak memiliki dasar hukum, juga tidak memiliki dasar moral.

Tidak berhenti di situ, ujian terberat berikutnya adalah bisa keluar dari stigma warisan Orde Baru jelang Pemilu 1999. Golkar di bawah kepemimpinan Akbar Tanjung (Ketua Umum PB HMI 1971–1974), mendorong gagasan Paradigma Baru Partai Golkar. Meski diteror dan diusir pada saat kampanye, Golkar berhasil bertahan di Pemilu 1999, lalu bertransformasi dan berhasil memenangkan Pemilu 2004. Bagi saya, ini adalah bukti ketangguhan dari tokoh HMI dalam memimpin Partai Golkar.

Setelah itu, Jusuf Kalla memimpin Partai Golkar. Tokoh HMI dari Sulawesi Selatan ini melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Akbar Tanjung, beliau memperkuat penataan organisasi hingga menguatkan etos kekaryaan sebagai DNA kader Golkar. Politik harus berbasis kerja nyata, bukan sekedar retorika.

Kontribusi tokoh HMI di Golkar tidak berhenti pada satu atau dua generasi. Sejumlah Ketua Umum PB HMI lintas periode seperti Ahmad Zacky Siradj, Harry Azhar Azis, Ferry Mursidan Baldan, Yahya Zaini, Taufik Hidayat, Kholis Malik, dan Hasanuddin tercatat aktif dalam berbagai agenda penting Golkar.

Kini, di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, yang juga berlatar aktivis HMI, saya melihat Golkar memasuki fase rekonstruksi yang serius. Diskursus sejarah dihidupkan kembali, kelompok fungsional diperkuat, generasi muda lintas organisasi mahasiswa dirangkul, serta modernisasi didorong melalui digitalisasi, akademi partai, dan pelembagaan sejarah.

Saya tentu menyadari bahwa Golkar tidak dibangun oleh HMI semata. Banyak elemen bangsa lain yang memiliki jasa besar. Namun, melihat kontribusi historis, ideologis, dan kaderisasi HMI yang konsisten, saya sampai pada satu kesimpulan: merawat Golkar sejatinya adalah bagian dari menjaga demokrasi. Dan dalam proses itu, peran HMI dan tokohnya tidak mungkin dihapus dari sejarah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement