Kamis 25 Dec 2025 08:25 WIB

Orang Besar di Mata Kiai Pendiri Gontor

Ketika santri berdiri di persimpangan hidup, ajaran kiai pendiri Gontor akan teringat

Orang tua wali mengantarkan santri   kembali menuju Pondok Pesantren Modern Gontor di Halaman Parkir Bandara Adisucipto, Yogyakarta, Rabu (11/5/2022). Sebanyak 200an santri dari Yogyakarta kembali menuju Pondok Pesantren Modern Gontor secara bersama-sama. Orang tua wali santri juga ikut mengantarkan para santri hingga bus berangkat.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Orang tua wali mengantarkan santri kembali menuju Pondok Pesantren Modern Gontor di Halaman Parkir Bandara Adisucipto, Yogyakarta, Rabu (11/5/2022). Sebanyak 200an santri dari Yogyakarta kembali menuju Pondok Pesantren Modern Gontor secara bersama-sama. Orang tua wali santri juga ikut mengantarkan para santri hingga bus berangkat.

Oleh: Prof. Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH, Guru Besar Universitas Darussalam Gontor 

"Kalian juga akan kami didik untuk menjadi kader-kader pemimpin dan juga belajar untuk menjadi orang besar. Apa itu orang besar? Apakah mereka yang jadi pengusaha besar, atau jadi ketua partai, ketua ormas Islam yang besar? Bukan itu yang saya maksud orang besar. Orang besar itu adalah mereka yang lulus dan keluar dari pesantren ini, kemudian dengan ikhlas mengajarkan ilmunya kepada orang-orang di pelosok-pelosok, sampai di kaki-kaki gunung. Di manapun mereka berada, di bukit-bukit, atau di kolong jembatan sekalipun. Itu yang saya maksud orang besar."—K.H. IMAM ZARKASYI.

Baca Juga

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam satu hembusan kalimat yang tenang, Pak Zar (panggilan akrab K.H. Imam Zarkasyi) seakan menggeser kiblat makna kebesaran. Beliau tidak berteriak, tidak menggurui, dan tidak pula memaksa. Namun kata-katanya perlahan meresap—seperti embun yang jatuh di dini hari, membasahi tanah tanpa suara, tetapi menghidupkan seluruh taman.

Orang besar, kata Pak Zar, bukan mereka yang berdiri di puncak sorotan, bukan pula yang namanya dielu-elukan di panggung-panggung kehormatan. Kebesaran tidak selalu berkilau. Ia sering justru sederhana, senyap, dan jauh dari pusat perhatian. Kebesaran sejati lahir dari keberanian untuk menepi, untuk memilih jalan sunyi ketika jalan ramai terbuka lebar.

Pak Zar tidak sedang menolak kepemimpinan, jabatan, atau keberhasilan dunia. Beliau hanya mengingatkan: jangan tertipu olehnya. Sebab tidak semua yang tinggi itu agung, dan tidak semua yang besar itu mulia. Ada kebesaran yang tidak diukur dengan tepuk tangan, tetapi dengan ketulusan. Tidak dicatat dalam berita, tetapi ditulis rapi di langit.

Peta Jalan Hati

Pelosok, kaki gunung, bukit-bukit, dan kolong jembatan bukan sekadar tempat, tetapi maqam, tingkatan batin yang hanya bisa dicapai oleh jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

Pelosok adalah wilayah yang jarang disentuh, jarang disebut, dan sering dilupakan. Namun justru di sanalah hati manusia masih jujur, doa-doa masih polos, dan harapan masih murni. Datang ke pelosok bukan hanya soal jarak, tetapi tentang keberanian meninggalkan pusat ego menuju pinggiran kemanusiaan.

Kaki gunung adalah simbol jalan mendaki. Berat, sunyi, dan melelahkan. Tidak semua orang bersedia melangkah ke sana. Mengajar di kaki gunung berarti berdamai dengan keterbatasan, menerima kesederhanaan, dan menjadikan lelah sebagai bagian dari ibadah. Setiap langkah adalah zikir. Setiap nafas adalah niat yang diperbarui.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement