Selasa 16 Dec 2025 20:07 WIB

Tasawuf tanpa Nama

Di balik hiruk pikuk Gontor, ternyata semuanya mengandung tasawuf.

Suasana aktivitas santri di Pondok Modern Gontor 2 Ponorogo, Jawa Timur.
Foto: Republika/Damanhuri Zuhri
Suasana aktivitas santri di Pondok Modern Gontor 2 Ponorogo, Jawa Timur.

Oleh: Prof Dr Nur Hadi Ihsan, Guru Besar Universitas Darussalam Gontor

"Mencari tasawuf di Gontor itu seperti mencari air di lautan"

Baca Juga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ungkapan itu sekilas terdengar paradoksal, bahkan provokatif. Mengapa harus mencari sesuatu yang justru melimpah? Namun di situlah letak kedalamannya. Di Gontor, tasawuf bukan sesuatu yang dicari melalui label, tarekat formal, atau nomenklatur akademik. Ia tidak berdiri sebagai disiplin yang diumumkan dengan papan nama. Ia hadir sebagai atmosfer, sebagai kebiasaan hidup, sebagai etos batin yang meresap ke seluruh sendi pendidikan dan pembentukan manusia.

Tasawuf di Gontor tidak diposisikan sebagai jalan eksklusif menuju Tuhan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ia justru dibumikan. Disiplin waktu, kesederhanaan hidup, ketaatan pada aturan, keikhlasan berkhidmah, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu—semuanya adalah laku sufistik, meski tidak selalu disebut demikian. Di sini, tasawuf tidak tampil sebagai wacana, melainkan sebagai praksis. Ia tidak diajarkan terutama melalui definisi, tetapi melalui pembiasaan. Bukan lewat ceramah tentang fana' dan baqa’, melainkan lewat latihan menundukkan ego, menahan diri, dan mendahulukan kewajiban.

Ruh Tanpa Label

Karena itu, siapa yang datang ke Gontor dengan kacamata formalistik tasawuf—mencari wirid tertentu, baiat tarekat, atau simbol-simbol asketisme—mungkin akan pulang dengan kesan hampa. Ia seperti seseorang yang berdiri di tepi samudra sambil bertanya, “Di mana airnya?” Padahal setiap tarikan napasnya telah basah oleh uapnya. Tasawuf di Gontor adalah tasawuf yang menyamar sebagai etika, bersembunyi dalam disiplin, dan bekerja diam-diam membentuk karakter.

Secara filosofis, pendekatan ini mengandung pesan penting: ruh lebih esensial daripada bentuk. Spiritualitas yang sejati tidak selalu membutuhkan deklarasi. Bahkan, sering kali justru kehilangan daya ketika terlalu disimbolkan. Gontor seakan ingin mengatakan bahwa tasawuf bukanlah identitas tambahan, melainkan inti dari pendidikan itu sendiri. Ia bukan cabang yang ditempelkan, tetapi akar yang menghidupi seluruh pohon.

Laku Sehari-hari

Dalam kerangka ini, tasawuf dipahami sebagai proses pemurnian niat dan penataan batin dalam dinamika sosial yang nyata. Santri tidak diajak menjauh dari dunia, tetapi dilatih mengelola dunia tanpa diperbudak olehnya. Zuhud tidak dimaknai sebagai meninggalkan aktivitas, melainkan membebaskan hati dari ketergantungan. Ikhlas bukan slogan, tetapi tuntutan eksistensial yang diuji setiap hari: saat lelah mengajar, saat amanah menumpuk, saat nama diri harus dikalahkan demi kepentingan bersama.

Tasawuf semacam ini tidak melahirkan pribadi yang larut dalam ekstase, tetapi insan yang stabil, tangguh, dan siap memikul amanah sejarah. Ia bekerja dalam kesenyapan, tetapi berbuah dalam keteguhan moral. Ia tidak membangun menara gading spiritual, melainkan fondasi batin yang kokoh bagi kehidupan kolektif.

Samudra Kesadaran

Di situlah tasawuf Gontor menjadi sufisme yang hidup —living sufism—tanpa harus menyebut dirinya sufistik. Ia hadir dalam diam, bekerja dalam kesunyian, dan berbuah dalam kepribadian. Seperti air laut yang asin, ia tidak selalu terasa segar bagi yang mencicipi sekilas, tetapi justru menopang seluruh siklus kehidupan. Ia menguap menjadi awan, turun sebagai hujan, dan kembali menghidupi daratan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement