REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Smith Alhadar, Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Senin (21/1) dini hari, jet-jet tempur Israel melancarkan gempuran masif terhadap berbagai target satuan elite Iran (Al-Quds) dari Korps Garda Revolusi di sekitar Damaskus, Suriah. Sebanyak 21 orang tewas, termasuk 12 tentara Iran dan enam tentara Suriah.
Serangan Israel terhadap sasaran Iran di Suriah, bukan yang pertama. Israel menyerang target musuh bebuyutannya ini tak kurang dari 200 kali sejak 30 Januari 2013.
Menanggapi serangan Israel, Iran menyatakan, serangan Israel hanya sebuah kekonyolan dan Iran akan tetap mempertahankan militernya di Suriah. Apakah krisis militer Iran-Israel akan berujung perang? Mengapa Iran bersikeras mempertahankan militernya di Suriah?
Ada beberapa alasan, mengapa serangan Israel terhadap sasaran militer Iran kali ini sangat dahsyat, bahkan dalam setahun terakhir Israel telah menembakkan lebih dari 2.000 rudal dan bom terhadap sasaran Iran dan Hizbullah di seluruh Suriah.
Pertama, pemilu Israel akan berlangsung dua bulan lagi. Sudah menjadi kebiasaan semua pemimpin Israel untuk melancarakan serangan terhadap Palestina atau tetangga Arabnya yang lemah menjelang pemilu.
Menyerang musuh merupakan cara pemimpin Israel memperlihatkan kepemimpinan dan jaminan keamanan bagi warganya. Sudah sangat lama para elite Israel mengondisikan keadaan psikologis warganya bahwa mereka hidup dalam bahaya.
Maka itu, agresi terhadap Arab hanyalah upaya mempertahankan diri. Dulu, rakyat Palestina dan Lebanon yang lemah menjadi sasaran penyerangan Israel untuk kepentingan elektoral. Suriah baru menjadi sasaran setelah negara itu tercabik-cabik perang saudara sejak 2011.
Rezim Presiden Bashar al-Assad tidak mungkin membalas dengan melancarkan serangan ke dalam wilayah Israel karena hal itu berpotensi menghancurkan rezim tersebut. Kedua, AS akan menarik pulang 2.000 personel militernya dari Suriah.
Presiden AS Donald Trump berpendapat, perang melawan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) selesai dan biaya mendukung Pasukan Demokratik Suriah (SDF)--didominasi Unit Perlindungan Rakyat (YPG), milisi Kurdi yang dilatih dan dipersenjatai AS sebagai proksi dalam perang melawan ISIS--cukup besar dan tidak memberi manfaat bagi AS.
Padahal, Israel berharap penarikan pasukan AS dijadikan syarat bagi pengusiran Iran dari Suriah. Sebelum revolusi Iran 1979, Iran sekutu strategis Israel untuk mengimbangi Arab. Pascarevolusi, Teheran menjadikan Israel musuh besarnya, setidaknya dalam retorika.
Iran juga menciptakan Hizbullah di Lebanon serta mendukung Hamas dan Jihad Islam di Gaza. Tahun lalu, Iran dan Suriah menandatangani pakta militer yang membenarkan kehadiran militer Iran di Suriah, negara Arab front depan yang masih bermusuhan dengan Israel.
Ketiga, bisa dikata perang proksi di Suriah telah dimenangkan rezim Suriah dukungan Iran dan Rusia. Wilayah yang belum dapat dibebaskan rezim Suriah dari pemberontak dukungan Turki tinggal Provinsi Idlib.
Sejak Trump mengumumkan rencana pengunduran diri itu pada 19 Desember 2018, YPG dengan sayap politik PYD mendekati rezim Suriah dan Rusia guna mencari perlindungan dari rencana Turki menduduki wilayah Kurdi di Suriah utara dan timur laut.
Ankara menganggap, PYD sebagai kepanjangan tangan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang sejak 1984 mengangkat senjata melawan Ankara. Washington telah memberi lampu hijau bagi Ankara untuk menciptakan zona aman di wilayah Kurdi dari utara hingga timur laut Suriah yang dikontrol Turki.
Karena Turki bagian dari proses Astana (proses politik yang disponsori Turki, Iran, dan Rusia untuk mencari penyelesaian perang proksi di Suriah), pembebasan Idlib dan wilayah Kurdi bergantung kesepakatan Suriah-Iran-Rusia di satu pihak dan Turki di pihak lain.
Asal saja Suriah-Iran-Rusia dapat memberi konsesi terhadap kepentingan Turki di Suriah, krisis Suriah akan segera berakhir dengan rezim Assad keluar sebagai pemenang. Israel, dalam hal ini, merupakan pihak yang kalah.
Maka itu, mumpung rezim Suriah masih lemah, serangan terhadap sasaran Iran harus dilakukan.
Keempat, Israel tahu Iran tidak siap berperang. Memang, dibandingkan Iran, militer Israel lebih superior. Apalagi, beberapa negara Arab Teluk bersama Yordania dan Mesir berada di pihak Israel.
Israel juga didukung sepenuhnya oleh AS yang memiliki pangkalan militer di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania.