REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Puti Almas, Jurnalis Republika Khusus Isu-Isu Internasional
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyatakan kesiapan negaranya untuk melawan Korea Utara (Korut). Tindakan militer kesekian kalinya kembali diisyaratkan dalam pernyataan yang diungkapkan melalui jejaring sosial Twitter.
Trump menegaskan dalam pesannya bahwa selama 25 tahun Pemerintah AS telah berupaya menyelesaikan masalah Korut dengan pembicaraan, tetapi itu semua sia-sia. Keterangan Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders semakin menguatkan pernyataan itu.
Bahkan, tindakan militer tersebut mungkin tak hanya berlaku bagi Korut, namun juga Iran, sebagai salah satu negara yang juga berlawanan dengan AS. Trump benar-benar serius. Tampaknya.
Pernyataan Trump untuk siap melakukan tindakan militer kali ini datang beberapa saat setelah politisi Rusia Anton Morozov mengatakan bahwa rudal Korut tampaknya telah mampu mencapai AS. Bukan tidak mungkin, uji coba senjata itu kembali dilakukan negara terisolasi tersebut dalam waktu dekat.
Yang semakin membuat Trump kesal, Morozov juga mengatakan bahwa dia mendapat informasi Pyongyang mengembangkan teknologi rudal yang dapat bertahan dalam panas saat kembali memasuki atmosfer. Sebelumnya, ini menjadi salah satu indikasi belum sempurnanya senjata nuklir yang dirancang Korut itu.
Dengan prediksi ini, Trump siap melakukan apapun guna melindungi AS. Miliarder ini berjanji akan menyelesaikan semua masalah terkait negara yang dipimpin Kim Jong-un itu dengan cara apapun yang memungkinkan untuk dilakukan.
Trump dalam pertemuan Majelis Umum PBB pada 19 September lalu telah menyampaikan siap mengerahkan tindakan militer yang menghancurkan terhadap Korut. Saat itu, pesawat tempur B1-B di area sekitar pantai timur negara itu telah diluncurkan, sebagai salah satu indikasi kesiapan pertahanan AS dalam melindungi diri dan sekutu di kawasan tersebut.
Korut melalui Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho menyatakan AS telah membuat sebuah deklarasi perang. Korut tidak ragu melakukan tindakan pertahanan, termasuk menembak jatuh pembom strategis dari negara adidaya itu, yang terbang dari garis pantai negara mereka. Bahkan, meski saat itu pesawat telah berada di wilayah udara internasional.
Korut dilaporkan mengerahkan sejumlah jet tempur berikut dengan tangki bahan bakar eksternal serta rudal udara ke basis pantai timur. Basis itu dikenal menjadi salah satu wilayah utama pertahanan negara itu. Pamer ala Kim-Jong un ini pun mendapat respons serius AS dan Korea Selatan serta negara-negara lainnya. Hanya Rusia yang tampak kalem.
Selama ini Korut mengaku pengembangan program nuklir merupakan alat pertahanan utama. Namun, sejumlah negara di kawasan Semenanjung Korea khususnya Korea Selatan (Korsel) dan Jepang terus merasa khawatir karena menjadi ancaman utama serangan rudal dan senjata berbahaya lainnya.
Korut telah berulang kali memicu kemarahan internasional atas serangkaian uji coba rudal dan perangkat nuklir. Pada 3 September, negara itu melakukan tes terbaru dari bom hidrogen yang disebut dirancang untuk ditempatkan di dalam peluru kendali balistik antarbenua (ICBM).
Tindakan provokatif terbaru lainnya dilakukan pada 15 September lalu. Pada waktu itu, Korut menembakkan rudal balistik ke wilayah utara Jepang. Berdasarkan laporan, senjata itu mencapai ketinggian sekitar 770 kilometer atau 478 mil. Jarak yang ditempuh sekitar 3.700 kilometer.
Dewan Keamanan PBB telah memberikan sanksi terhadap Korut atas uji coba dan pengembangan program nuklir yang tercatat pertama kali dilakukan pada 2006. Tak ketinggalan, Dewan juga telah mengeluarkan resolusi terbaru menekan negara itu berupa sanksi ekonomi. Langkah ini membuat pendapatan ekspor Korut berkurang hingga 3 miliar dolar AS.
Wajar jika Trump kesal dan marah atas perilaku Jong-un dan Korut yang seolah mengabaikan masyarakat internasional, bahkan sebuah negara adidaya. Sanksi ekonomi PBB saja tidak serta merta membuat Korut tunduk termasuk terhadap Cina yang selama ini menjadi sekutu dekatnya.
Saat Trump marah dan kesal, Jong-un justru makin terstimulasi untuk terus pamer senjata-senjata pembunuh massal yang dimiliki. Peluncuran rudal menjadi pamer terfavorit Jong-un untuk membalas segala ancama, ejekan, dan cuitan Trump di media sosial.
Kini tunggu saja kelanjutan babak hubungan benci tapi rindu antara Trump dan Kim Jong-un ini.