REPUBLIKA.CO.ID, Fitriyan Zamzami, wartawan Republika
Saya berani bilang, gelaran Liga 1 sepanjang pekan-pekan pertandingan sebelum Lebaran ini adalah salah satu yang paling menarik ditonton sepanjang sejarah kompetisi sepak bola profesional di Indonesia. Pekan demi pekan, selalu ada aksi menegangkan yang mengejutkan dan membalikkan prediksi muncul.
Buat saya pribadi, bukan hadirnya berbagai marquee player yang membuat kejutan-kejutan tersebut. Peter Odemwingie boleh jadi perkasa, tapi namanya pemain top dunia, seperti itulah semestinya dia dan para marquee player lainnya bermain.
Yang lebih menggairahkan buat dicermati adalah anak-anak muda yang muncul entah dari mana kemudian membuat pertandingan jadi sukar diprediksi. Menyisir sayap-sayap, mengatur serangan, bahkan membuat beberapa gol paling indah sepanjang liga musim ini.
Di Persipura, penghuni posisi ketiga klasemen, ada Marinus Maryanto Manewar (20 tahun) yang mencetak gol ciamik saat melawan Bali United pada awal musim dan menunjukkan potensi sebagai salah satu striker murni mumpuni, jenis posisi pemain yang kian jarang dimiliki Indonesia. Di sayap, beroperasi Friska Womsiwor (19 tahun), ligat (cekatan) dan juga bisa mencetak gol; serta Osvaldo Hayy (19 tahun), pemain multi posisi dengan visi yang istimewa untuk usianya.
Di Madura United sang runner up klasemen sementara, Saldi (20) menunjukkan kemampuan di atas rata-rata saat menyokong duet Odemwingie-Greg Nwokolo di sayap kanan penyerangan serta membantu rancangan serang Bayu Gatra-Slamet Nurcahyo. Di belakang, ada duet fullback Rizky Dwi Febriyanto (20)-Farid Marasabessy (17 tahun!) yang mengubah dengan drastis pola serang klub tempat mereka bermain.
Di PSM Makassar, sang pemuncak klasemen, juga muncul bintang-bintang muda seperti Muhammad Arfan (21) yang bermain cepat di sayap, rajin berduel dan jadi reinkarnasi terbaru semangat pantang menyerah ala Makassar. Tak canggung bermain bersebelahan dengan talenta-talenta impor semacam Marc Klok dan Wiljan Pluim. PSM juga punya gelandang Ridwan Tawainella (22) dan bek Wasiat Hasbullah (22) yang bermain tak kalah ciamik.
Di Persib Bandung, ada Gian Zola Nasrullah (18) yang mencetak gol voli indah ke gawang Borneo FC, Febri Haryadi (21) yang kian sulit digantikan di sayap Maung Bandung, serta Billy Keraf (20) yang bermain meledak-ledak dan beberapa kali menyelamatkan Persib dari kekalahan. Di Persija Jakarta, anak muda tampan bernama Rezaldi Hehanusa (21) jadi salah satu contoh pemain fullback modern dengan aksinya di sayap kiri. Sementara PS TNI punya Manahati Lestusen (23) yang jadi jantung permainan klub tersebut, serta pemain bertahan Guntur Triaji (23) dan gelandang Abduh Lestaluhu (23) yang tak kalah krusial.
Pemain-pemain muda lainnya juga naik panggung jadi tulang punggung klub masing-masing awal musim ini. Sebut saja Yabes Roni Malaifani (22) yang beroperasi di sayap Bali United; Saddil Ramdani (18) yang skill mumpuninya menopang permainan Persela Lamongan; Evan Dimas (22), Ihamuddin Armayn (21), TM Ichsan (19) di Bhayangkara United.
Dalam pekan-pekan pertama Liga 1, rekor pencetak gol termuda juga empat kali dipatahkan. Di mulai dengan gol Marinus Manewar pada pekan kedua, kemudian dipatahkan gol Billy Keraf pada pekan kelima, patah lagi tiga hari kemudian oleh TM Ichsan, dan akhirnya ditutup Gian Zola pada pekan ketujuh.
Sejauh ini, stabilitas sebagian besar pemain-pemain muda tersebut juga teruji. Tanpa meninggalkan eksperimen permainan dan skill serta lonjakan emosi ala anak muda, mereka kian mantap di posisi masing-masing. Dalam banyak kesempatan, berperan secara signifikan memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Ledakan talenta-talenta muda di liga Indonesia ini bukan muncul dari ruang kosong. Regulasi yang mewajibkan klub-klub Liga 1 memainkan sedikitnya lima pemain U-23, tiga di antaranya harus sebagai pemain utama dengan jam tanding minimal 45 menit, punya peran besar mengangkat muka-muka dan bakat-bakat baru ke permukaan.
Masyarakat pecinta liga Indonesia tak kehilangan apapun saat para pemain-pemain muda tersebut mengisi skuad-skuad lokal. Alih-alih, pecinta sepak bola Indonesia mendapat pahlawan-pahlawan baru, kejutan-kejutan menyenangkan dan menyedihkan yang membuat tiap pertandingan layak ditonton, dan sejenis ketenangan dengan fakta bahwa negeri ini punya banyak pemain muda yang bisa bermain bagus.
Sebab itu, pencabutan regulasi tersebut (meski hanya sementara) oleh PSSI yang dimumkan pekan lalu patut jadi pertanyaan. Mengapa salah satu faktor yang membuat liga Indonesia kian asyik ditonton tersebut malah dihilangkan? Apakah kegagalan klub-klub tertentu memanfaatkan regulasi tersebut di paruh awal liga jadi pertimbangan?
Pelaksana tugas Sekertaris Jenderal (Plt Sekjen) PSSI, Djoko Driyono , berkilah, alasan regulasi tersebut mulanya untuk menjaring pemain Timnas Indonesia U-23. Dengan begitu, saat Timnas U-23 sudah terbentuk, regulasi tersebut tak lagi dibutuhkan. Selain itu, regulasi dijanjikan kembali berlaku selepas SEA Games 2017, Agustus nanti. PSSI juga berdalih pencabutan regulasi untuk memberikan keadilan bagi klub yang banyak pemainnya membela timnas.
Dengan segala hormat untuk pengurus PSSI, cara pandang tersebut justru mengesankan pendeknya visi pengelolaan sepak bola nasional. Pasalnya, tak ada cara lain mengasah pemain-pemain muda di Indonesia selain menjamin tempat mereka di kasta tertinggi kompetisi sepak bola nasional. Program training center sebagus apapun tak bakal bisa menggantikan pengalaman yang mereka peroleh saat bermain penuh pekan demi pekan bersanding dan melawan pemain-pemain senior, lokal dan asing, terbaik di Indonesia.
Perginya pemain untuk berkompetisi di laga internasional adalah hal yang mafhum. Ia konsekuensi semua klub sepak bola di semua negara. Selain itu, Regulasi Liga 1 2017 juga membolehkan syarat kuota pemain yang didaftarkan tiap pertandingan (seperti lima pemain U-23, misalnya) tak dipenuhi bila ada pemain yang dipanggil membela timnas.
“Klub diperbolehkan melakukan pendaftaran pemain di luar kuota dalam hal terdapat pemain yang dipanggil tim nasional di setiap saat. Jumlah pemain yang dapat didaftarkan harus sama jumlahnya dengan jumlah pemain yang dipanggil oleh tim nasional,” bunyi Pasal 31 ayat (4) regulasi tersebut. Artinya, penangguhan peraturan sementara sedianya tak perlu.
Persoalan keadilan yang jadi alasan PSSI juga bisa diperdebatkan. Sejumlah pengelola klub merasa penangguhan justru tak adil mengingat persiapan yang telah mereka matangkan guna menjalankan regulasi pemenuhan kuota pemain U-23.
Yang kita khawatirkan, penangguhan ini jadi preseden buat masa mendatang. Sangat disayangkan jika nantinya hal itu yang terjadi. PSSI harus belajar dari Inggris yang memiliki liga terbaik namun menghambat talenta-talenta muda lokal. PSSI harus belajar dari Islandia yang mengutamakan para pemain muda sehingga bisa menantang kekuatan-kekuatan sepak bola Eropa.
Sementara ini, yang bisa diharapkan pecinta sepakbola Indonesia hanyalah agar PSSI menepati janjinya mencabut penangguhan saat SEA Games 2017 pungkas. Setidaknya, sisa kompetisi musim ini harus diselesaikan dengan regulasi awal. Bagaimanapun, sepak bola Indonesia perlu jaminan bahwa ia tak akan kekurangan talenta-talenta muda karena mereka-mereka ini yang ikut membuat kompetisi lokal kasta pamungkas layak ditonton.