Ahad 30 Apr 2017 09:04 WIB
Titik Putih

Belajar dari MLS

Gelandang Persib Bandung Michael Essien dibayangi Gelandang Arema FC, Nasir dalam pertandingan Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung (Ilustrasi)
Foto: Yogi Ardhi/Republika
Gelandang Persib Bandung Michael Essien dibayangi Gelandang Arema FC, Nasir dalam pertandingan Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika, Febrian Fachri (Instagram @ianfachri)

Pamor sepak bola Indonesia semakin meningkat sejak 2017 ini. Sepak bola Tanah Air banyak masuk pemberitaan media olah raga dunia dengan maraknya bekas insan sepak bola Eropa yang melanjutkan karir di Indonesia. Di mulai dari keberanian PSSI mengontrak pelatih asal Spanyol Luis Milla Aspas untuk timnas, membuat dunia bertanya-tanya seperti apa sepak bola di Indonesia.

Belum selesai dengan animo kedatangan Milla, di level klub pun sambung-menyambung membuat kejutan. Klub kaya raya asal Jawa Barat Persib Bandung membeli mantan gelandang Chelsea dan Real Madrid Michael Essien. Hadirnya Essien membuat PSSI langsung menggodok aturan marquee player untuk Liga 1 Indonesia. Klub diizinkan membeli marquee yang bisa menambah satu jatah pemain asing. Tidak hanya berhenti di Essien, Persib juga mendatangkan bekas pemain West Ham United dan juga Chelsea Carlton Cole.

Setelah Persib, klub-klub mapan lainnya di Tanah Air langsung menyusul. Madura mendapatkan bintang Nigeria Peter Odemwingie. Mitra Kukar berhasil mendaratkan bekas gelandang Liverpool dan Juventus Mohamed Sissoko. Semen Padang pun tak mau para pesaing diperkuat pemain berpengalaman di Eropa. Kabau Sirah membeli bekas pemain Sevilla dan Tottenham Hotspur Didier Zokora.

Kini sebagian besar klub peserta Liga 1 sudah memiliki marquee player. Arema Indonesia, Persjia Jakarta, Pusamania Borneo FC, Persela Lamongan, PSM Makassar, Persiba Balikpapan, Bhayangkara, Bali United dan teranyar Sriwijaya FC.

Setiap pernyataan publik perdana yang diberikan marquee player, hampir semuanya manargetkan gelar juara buat klub anyarnya. Seperti Essien, sesumbar tahun ini memenangkan doubel winner buat Si Maung Bandung yakni Liga 1 Indonesia dan Copa Indonesia. Begitupun dilontarkan Sissoko, Zokora dan lain-lain. Mereka merasa yakin karena pernah berprestasi di kancah Eropa. Dan terkesan akan mudah menaklukkan sepak bola Indonesia yang berisi pemain-pemain yang pengalamannya tertinggi rata-rata hanya tingkat ASEAN.

Komentar menarik datang dari pelatih Persib Djadjang Nurdjaman pekan ini. Djadjang meminta pecinta sepak bola Indonesia jangan terlalu berharap dengan kehadiran marquee. Opini Djanur benar. Tak ada satupun marquee yang masih berusia di bawah 30 tahun. Semuanya sudah kepala tiga. Essien 34 tahun, Cole 32 tahun, Zokora 36 tahun, Odemwingie 35 tahun, Sissoko 32 tahun.

Bisa dibilang para marquee ini sudah melewatkan masa kejayaan. Tak sedikit dari marquee ini didapatkan klub Indonesia dalam keadaan tanpa klub. Bahkan, sekelas Essien dan Zokora dikontrak ketika ia sudah tak bermain lagi sejak akhir musim 2015-2016. Sissoko lebih miris. Bekas bintang Timnas Mali itu baru saja dipecat dari klub Serie B Ternana Calcio karena penampilannya memburuk.

Tapi, sebagai orang yang ingin sepak bola Indonesia maju, kita tentu tidak ingin mengoceh negatif tentang marquee yang didatangkan klub Tanah Air. Seperti yang dikatakan Ketua Umum PSSI terkait masalah Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) dan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) bahwa goal besar yang ingin dicapai adalah memajukan sepak bola tanah air yang lama terpuruk pasca dualiesme.

Walau marquee sudh uzur, tapi mereka masih memiliki nama besar yang bisa menarik lebih banyak penonton. Kita harus benar-benar belajar dari Amerika Serikat lewat Major League Soccer dan yang benar-benar ingin menstimulus sepak bola di negaranya dengan membajak bintang-bintang sepak bola Eropa seperti David Beckham, Thierry Henry, Frank Lampard, Steven Gerard, Andrea Pirlo sampai Ricardo Kaka.

Tujuan klub Negeri Paman Sam tidak tentang gelar juara. Mereka mendatangkan pemain bintang agar setiap pertandingan MLS, stadion penuh. Tiket ludes terjual. Hak siar jadi mahal. Iklan-klan meningkat. Sejak Beckham pindah ke Amerika 10 tahun lalu, sampai kini di zaman Kaka main di MLS, memang telah banyak mengubah sepak bola Amerika. Federasi sepak bola Amerika Serikat kini berani menekan pengusaha lokal mereka

agar menanamkan saham di klub setiap wilayah.

Mereka yakin investasi di bisnis sepak bola di Amerika Serikat sudah tak lagi kalah dengan NBA atau olahraga ekstrem football. Akademi klub-klub sudah bisa dikembangkan karena sangat banyak anak-anak belia yang tertarik belajar sepak bola. Setelah AS, Cina juga layak dijadikan contoh. Cina lelah dengan fakta negara besar yang kecil di lapangan sepak bola. Memanfaatkan kemajuan di bidang ekonomi negaranya, negeri tirai bambu dapat membeli bintang-bintang muda Eropa dan Amerika Selatan dengan biaya super mahal.

Tujuannya sama, agar mereka tidak lagi dipandang sebelah mata di ajang-ajang bergengsi seperti Piala Dunia. Indonesia juga bisa seperti itu. marquee-marquee yang didatangkan sudah cukup besar buat suporter kita. Apalagi animo sepak bola Indonesia bisa dikatakan nomor satu di Asia Tenggara. Tim Garuda walau sering kalah tetap ramai ditonton suporter. Liga yang terhenti lama tidak mengurangi kecintaan para fans terhadap klub idola.

Tingginya minat terhadap sepak bola ini dari sisi dunia usaha akan terlihat sebagai ladang uang yang bisa memajukan ekonomi klub. Persib Bandung saja contohnya sudah meraup banyak keuntungan dari penjualan jersey oroginal milik Cole dan Essien. Belum lagi iklan-iklan lain yang akan dipasang berbagai produk ternama buat pemain-pemain bintang ini. PSSI sudah pulih, klub-klub semakin mapan dan terorganisir, akademi hidup akan baik jua buat masa depan Timnas Indonesia.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement