Jumat 27 Feb 2026 13:03 WIB

Ramadhan sebagai Rekonstruksi Ruhani dan Peradaban

Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan rekonstruksi eksistensial.

Sejumlah siswa sekolah membaca Al Quran  bersama-sama di Masjid Raya Nurul Wathon, Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Kegiatan tadarus Al Quran yang diikuti ratusan siswa itu  merupakan bagian dari pesantren kilat yang rutin  dilaksanakan saat Bulan Suci Ramadhan.
Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Sejumlah siswa sekolah membaca Al Quran bersama-sama di Masjid Raya Nurul Wathon, Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Kegiatan tadarus Al Quran yang diikuti ratusan siswa itu merupakan bagian dari pesantren kilat yang rutin dilaksanakan saat Bulan Suci Ramadhan.

Oleh : KH. Ahmad Jamil, M.A., Ph.D

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap tahun, Allah menghadirkan Ramadhan bukan sekadar sebagai perubahan kalender hijriah, tetapi sebagai musim semi ruhani, sebuah momentum pembaruan (tajdid) iman, perapian jiwa, dan rekonstruksi makna hidup. Dalam tradisi Islam, Ramadhan adalah madrasah ilahiyah; tempat manusia dilatih untuk kembali mengenali hakikat dirinya sebagai hamba.

Di ujung Sya‘ban, Rasulullah SAW tidak menyambut Ramadhan dengan gegap gempita, melainkan dengan khithāb tarbawī, pidato pendidikan yang membangunkan kesadaran. Sahabat mulia Salman al-Farisi RA meriwayatkan:

Baca Juga

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ، فَقَالَ:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا…

وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ…

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ…»

Riwayat ini disebutkan oleh Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi. Walaupun para muḥaddithīn mendiskusikan derajat sanadnya, para ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam Laṭā’if al-Ma‘ārif mengutipnya dalam bab faḍā’il Ramadhan karena maknanya didukung oleh hadis-hadis sahih lainnya.

Khutbah ini bukan sekadar pengumuman datangnya bulan puasa. Ia adalah manhaj taghyīr, metodologi perubahan.

Ramadhan: Tajdīd al-Īmān dan Tazkiyat al-Nafs

Rasulullah SAW menyebut Ramadhan sebagai:

شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ

Dalam perspektif turāṯ islāmī, keberkahan (barakah) bukan sekadar banyaknya kuantitas, tetapi limpahan makna dan keberlanjutan kebaikan (ziyādah fī al-khayr ma‘a al-istimrār).

Hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim menegaskan:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fatḥ al-Bārī bahwa pembukaan pintu surga adalah isyarat luasnya rahmat dan peluang amal. Sedangkan dibelenggunya setan menunjukkan tereduksinya wasāwis al-shayṭān bagi orang yang sungguh-sungguh berpuasa.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa makna hadis ini bisa bersifat hakiki dan bisa pula maknawi, yakni suasana spiritual Ramadhan membuat peluang kebaikan terbuka lebar, sementara jalan keburukan dipersempit.

Di sini kita belajar bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi tentang lingkungan ilahi yang mendukung transformasi diri.

Secara teologis, Ramadhan adalah momentum tajdīd al-īmān (pembaruan iman). Secara spiritual, ia adalah proses tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa). Secara sosial, ia adalah rekonstruksi solidaritas umat.

Puasa: Ibadah Sirr dan Latihan Self-Regulation

Dalam hadis qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa puasa disebut ibadah khusus karena ia adalah amal yang paling tersembunyi dari riya’. Tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa kecuali Allah. Menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif, puasa adalah ibadah sabar dalam tiga dimensi: sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menerima takdir. Sementara Fakhr al-Din al-Razi dalam tafsirnya menekankan bahwa tujuan puasa adalah li taḥqīq maqām al-taqwā, mencapai kesadaran ilahi yang konstan.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement