Jumat 27 Feb 2026 19:31 WIB

NU dan Tantangan Abad Kedua: Menjadikan Kesehatan Sebagai Program Prioritas

Mengabaikan kesehatan adalah bom waktu.

Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Ahad (8/2/2026). Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 atau Satu Abad Masehi tersebut mengangkat tema Memperkokoh Jamiyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban.
Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Ahad (8/2/2026). Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 atau Satu Abad Masehi tersebut mengangkat tema Memperkokoh Jamiyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban.

Oleh: KH Imam Jazuli Lc, MA

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH Imam Jazuli Lc., MA*

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, tengah memasuki abad keduanya. Di tengah dinamika zaman, fokus organisasi tidak lagi cukup hanya pada pendidikan (pesantren) dan dakwah kultural. Tantangan krusial yang mendesak adalah penguatan akses kesehatan dan jaring pengaman sosial bagi warga Nahdliyin.

Baca Juga

Sudah saatnya kesehatan ditempatkan sebagai program prioritas utama, sebuah gerakan kesehatan yang merata dan terjangkau. Seringkali, isu kesehatan di lingkungan NU terasa belum menjadi prioritas utama. Jika itu ada masih kesehatan berbasis alternatif dan tradisional, itu bukan tak baik, tapi zaman sudah sedemikian cepat dengan perkembangan medis.

Padahal, basis massa NU—petani, buruh, santri, dan guru ngaji—adalah mereka yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi saat jatuh sakit. Karena itu, isu kesehatan bukan sekadar urusan biologis, ia adalah martabat kemanusiaan. Penguatan akses kesehatan yang merata dan terjangkau harus segera digeser dari sekadar wacana pinggiran menjadi target utama jamaah.

Selama ini, energi NU banyak tersedot pada isu politik kebangsaan dan pendidikan formal (pesantren dan sekolah). Tentu itu penting, namun mengabaikan kesehatan adalah bom waktu. Ketimpangan akses medis di kantong-kantong warga NU, terutama di daerah pelosok, menciptakan kerentanan sosial yang akut.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement