
Oleh: KH Imam Jazuli Lc, MA
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH Imam Jazuli Lc., MA*
Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, tengah memasuki abad keduanya. Di tengah dinamika zaman, fokus organisasi tidak lagi cukup hanya pada pendidikan (pesantren) dan dakwah kultural. Tantangan krusial yang mendesak adalah penguatan akses kesehatan dan jaring pengaman sosial bagi warga Nahdliyin.
Sudah saatnya kesehatan ditempatkan sebagai program prioritas utama, sebuah gerakan kesehatan yang merata dan terjangkau. Seringkali, isu kesehatan di lingkungan NU terasa belum menjadi prioritas utama. Jika itu ada masih kesehatan berbasis alternatif dan tradisional, itu bukan tak baik, tapi zaman sudah sedemikian cepat dengan perkembangan medis.
Padahal, basis massa NU—petani, buruh, santri, dan guru ngaji—adalah mereka yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi saat jatuh sakit. Karena itu, isu kesehatan bukan sekadar urusan biologis, ia adalah martabat kemanusiaan. Penguatan akses kesehatan yang merata dan terjangkau harus segera digeser dari sekadar wacana pinggiran menjadi target utama jamaah.
Selama ini, energi NU banyak tersedot pada isu politik kebangsaan dan pendidikan formal (pesantren dan sekolah). Tentu itu penting, namun mengabaikan kesehatan adalah bom waktu. Ketimpangan akses medis di kantong-kantong warga NU, terutama di daerah pelosok, menciptakan kerentanan sosial yang akut.