REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)
Istana Alhambra.
Victor Hugo, penyair Prancis itu melukiskan keindahan Alhambra, di Granada, Spanyol, sebagai istana yang ditenun para jin. Melihatnya, itu mimpi yang di dalamnya mengalir harmoni.
Bagi setiap muslim, mendengar Alhambra seperti ada perih yang menyayati luka. Istana itu dibangun selama kejayaan kerajaan Islam abad 13. Menjelang abad 15 kerajaan itu runtuh, kalah. Akibatnya setiap muslim di sana harus memeluk Nasrani, disiksa, dibunuh, atau harus lari ke Afrika. Di abad 16, Granada di semenanjung Andalusia itu disepikan dari apapun yang berbau Islam, mulai dari nama orang, pakaian, bahasa Arab juga dilarang. Abad 17 Andalusia tanpa sepatahpun suara Al Quran, sunyi.
Diawali panglima Thariq bin Ziyad dari Afrika Utara pada tahun 711 M membawa pasukan atas permintaan Gubernur Ceuta, Julian. Tatkala pasukan Thariq telah menyeberangi laut antara Afrika dan Eropa, Thariq merasa, mereka semua ada di persimpangan. Thariq tidak ragu-ragu, seluruh kapal pengangkut pasukan dibakar.
Pidatonya terkenal menggelorakan semangat pasukan : Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.
Di persimpangan itu panglima Thariq teguh berjalan lurus, tidak berbelok, tidak menyimpang, ia berjuang : Demi Allah, menyebarkan islam.
Raja Roderick dari Toledo menghadang dengan pasukannya yang gegap-gempita, jumlahya lebih 8 kali lipat. Thariq tak gentar, pertempuran berkecamuk, berakhir ketika Raja Roderick terbunuh, Toledo kalah.
Berikutnya satu persatu kota di wilayah Andalusia berada dalam kekuasaan Islam. Kota Carmona, Kordoba, Granada, Toledo, Zaragoza, Barcelona. Dari sana berkembang kerajaan Islam.
Dalam pangkuan muslim, Andalusia maju pesat. Kordoba memiliki 70 perpustakaan dengan 500 ribu buku. Tentu saja masjid jauh lebih banyak. Bandingkan dengan Eropa, empat abad berikutnya, universitas di Paris hanya memiliki 2.000 buku.
Alquran mengungkap, ujian datang bisa dalam bentuk kebaikan atau keburukan. Alquran juga mengajarkan doa agar berada di jalan lurus (QS. 1:6). Ya, karena setiap saat, setiap muslim, selalu berada di persimpangan.
Jalan lurus itu hanya satu, tetapi di jalan lurus itu, di depan sana berderet titik persimpangan. Ada pertigaan, perempatan, perlimaan. Selain jalan berbelok, di persimpangan itu banyak jalan- jalan lain berupa jalan tikus, jalan setapak, jalan pintas, jalan belukar. Di sana setan memanggil-manggil, menggoda, mengajak menyimpang dari jalan lurus.
Di persimpangan bernama kemakmuran, muslim Andalusia ada yang berjalan lurus sehingga melahirkan banyak ilmuwan dan filosof, salah satunya Ibnu Rusyd. Tetapi di persimpangan itu pula ada jalan menuju kemewahan.
Pemimpin kaum muslimin banyak yang tergiur, berbelok, menyimpang.
Dibuatlah istana penuh kemegahan, dibangun kota yang rupawan. Semuanya seiring hiburan, nyanyian, gemerlap pakaian. Kerajaan berfoya-foya, rakyat tak terurus, tak ada persatuan dan semangat perjuangan. Kemewahan selain menyulut ekonomi berantakan, rakyat tidak puas, juga membuat iri yang menyulut perebutan kekuasaan.
Menjelang akhir abad d ke 15, kerajaan itu diserang, ditekuk, takluk. Dan di abad 17, seperti tadi dikatakan, tanah Andalusia lalu sunyi dari sepatahpun ayat Alquran.
Bagaimana Islam di negeri ini.
Permulaannya, Raden Patah bersama pasukan muslim menyerang Majapahit. Pedih, raja Brawijaya adalah ayahnya yang masih Hindu-Budha, tapi di persimpangan itu Raden Patah tetap lurus, ia memilih agar Islam tegak dan jaya. Mojopahit kalah, Prabu Brawijaya menyingkir. Di persimpangan itu sebagian rakyat Mojopahit menerima Islam. Tak sedikit di antara mereka yang menerima Islam tapi tetap menjunjung adat kepercayaan sesembahan nenek moyangnya. Masyarakat yang menolak Islam lari ke arah timur (Banyuwangi) atau selatan (Gunung Lawu).
Persimpangan itu muncul terus menerus seiring waktu, saat Sultan Agung menjadi raja, saat Amangkurat I, Perang Diponegoro, Cultuurstelsel, menjelang Kemerdekaan, Orde Baru dan sampai detik ini. Selalu ada yang lurus, menolak, menerima Islam tapi hanya shalat saat lebaran atau bahkan tidak bersyariat sama sekali.
Seorang peneliti Belanda, Ricklefs (bukunya telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) menyatakan adanya rekonsiliasi identitas, keyakinan, taat menjalankan sebagian syariat (misal berpuasa saat Ramadhan), tetapi juga menjalani kepercayaan mistik warisan nenek moyang, tunduk pada kekuatan khas Jawa : Nyi Roro Kidul.
Polarisasi tak bisa dihindari, antara kaum yang teguh memegang syariat dengan orang-orang yang tidak teguh bersyariat. Muncul istilah kaum putihan dan abangan di pertengahan abad 19, jauh sebelum Clifford Geertz menulis The Religion of Java pada tahun 1960 yang memicu lahirnya istilah “Agama Jawa”, sebuah istilah yang dulu banyak digunakan oleh para orientalis, antropolog, dan ilmuwan luar negeri.
Kini, bila dilihat lebih dalam, varian umat Islam di titik persimpangan itu sangat kompleks. Putihan bisa terdiri dari berbagai kelompok atau aliran. Apalagi abangan, stratanya mulai dari kaum priyayi sampai pencari rumput. Wilayahnya tersebar karena transmigrasi atau urbanisasi. Ketundukannya ada pada orang yang belajar mengucapkan syahadat hanya ketika hendak nikah sampai pada tokoh yang memimpin meminta keselamatan dan rezeki kepada jin penunggu laut atau pedesaan.
Persoalan umat Islam tak pernah selesai. Itu Ketentuan Allah, takdir.
Selama ayat “Ihdinas shirotol mustaqim” dibaca, persimpangan itu selalu hadir, selama itu pula perjuangan harus selalu ditegakkan. Maju dan maju.
Ya, Allah tunjukilah kami jalan yang lurus, jadikan kami bagian dari orang-orang yang selalu menyampaikan dan menegakkan dien-Mu. Amin.
*) Penulis adalah dosen, tinggal di Jember.