Selasa 07 Mar 2017 08:05 WIB

Berebut 'Warisan' Agus-Sylvi

Bayu Hermawan
Bayu Hermawan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bayu Hermawan, Wartawan Republika

Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta menyelesaikan rekapitulasi Pilkada DKI Jakarta pada 15 Febuari lalu. Hasil akhir penghitungan suara KPU, menunjukan pasangan calon (Paslon) pejawat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat serta Paslon Anies Baswedan dan Sandiaga Uno melenggang ke putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

Paslon Ahok-Djarot unggul diputaran pertama dengan perolehan 2.364.577 suara. Sedangkan pasangan nomor urut tiga, Anies-Sandi memperoleh 2.197.333 suara, atau selisih 167.244 suara. Sementara pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni harus tersingkir dari persaingan setelah hanya mendapatkan 937.955 suara.

Pascapenetapan KPU DKI Jakarta, hal menarik untuk disimak adalah ke mana partai-partai politik (Parpol) pendukung Agus-Sylvi memberikan dukungan pada putaran kedua Pilkada Jakarta. "Warisan" suara dari Paslon Agus-Sylvi bukan tidak mungkin bisa menjadi tambahan penting baik bagi Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi untuk memenangkan petarungan Pilkada.

Seperti diketahui, ada empat Parpol besar yang berada dibalik Agus-Sylvi, yakni Demokrat, PPP, PAN dan PKB. Parpol-parpol ini pun mewakili kelompok besar masyarakat dan Ormas besar. Di mana PAN mempunyai basis massa Muhammadiyah dan PPP dan PKB mempunyai basis massa di Nahdlatul Ulama. Sedangkan Demokrat, mewakili kelompok nasionalis. Meski tidak bisa dihitung secara riil suara 'Warisan' dari Agus-Sylvi, namun dua Paslon yang bertarung di putaran kedua Pilkada tentu berlomba-lomba mengaet dukungan dari empat Parpol tersebut.

Bagi pasangan Ahok-Djarot, dengan masuknya PPP, PAN dan PKB yang merupakan parpol dengan corak agama, dapat menguntungkan mereka dalam menangkal serangan-serangan pascakasus penistaan agama yang dilakukan sang penjawat. Ahok-Djarot bisa lebih leluasa bergerak meyakinkan pemilih Islam untuk memberikan suara mereka di putaran kedua, jika di back up oleh Parpol Islami.

Sementara bagi pasangan Anies-Sandi, "warisan" dari Agus-Sylvi pun berarti sangat besar. Hal tersebut karena Paslon ini memang membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk bertarung dengan paslon pejawat di putaran kedua, dimana suara pemilih tidak lagi terpecah dan hanya mengerucut pada dua paslon saja.

Jika tidak meleset, diprediksi pekan ini menjadi saat-saat krusial bagi Ahok-Djarot dan Anies-Sandi untuk merebut hati barisan mantan pendukung Agus-Sylvi. Kedua Paslon itu pun mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat dukungan, karena seperti diketahui hingga saat ini baik Demokrat, PPP, PAN dan PKB masih malu-malu untuk mengungkapan dukungan.

Lalu bagaimana peluang dua Paslon untuk mendapat dukungan?

Jika mencermati sekilas, Partai Demokrat kemungkinan sulit untuk mengalirkan dukungan ke pasangan Ahok-Djarot. Hal tersebut tentu terkait hubungan yang masih tidak mesra antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai Parpol pendukung utama Ahok-Djarot.

Meski mungkin di Pilkada di daerah-daerah lain Demokrat bisa bergandengan dengan PDIP, namun sulit rasanya untuk Pilkada Jakarta. Sebab, Pilkada Jakarta bisa disebut miniatur persaingan Pemilu dan Pilpres, yang menjadi 'batu pijakan' terdekat ke kursi RI-1, seperti yang terjadi pada Joko Widodo (Jokowi).

Kemungkinan terbesar adalah Partai Demokrat akan memberikan dukungan ke pasangan Anies-Sandi. Namun terbuka juga kemungkinan ketiga, di mana Parpol tersebut memilih netral dan menjadi penonton di putaran kedua.

Untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), peluang untuk merapat ke Ahok-Djarot pun bisa dibilang tipis, namun bukan berarti tidak bisa. Hal tersebut lantaran konflik internal yang masih menjadi 'bara dalam sekam' di tubuh internal Parpol berlambang Ka'bah itu.

Seperti diketahui, saat PPP di bawah kepemimpinan Romahurmuziy mendeklarasikan dukungan ke Paslon Agus-Sylvi, di lain pihak seteru mereka Djan Faridz yang tetap mengklaim sebagai pihak PPP yang sah justru memberikan dukungan pasangan Ahok-Djarot.

Sehingga jika islah antara dua kubu PPP belum benar-benar tercapai, maka sulit bagi PPP untuk merapat ke Ahok-Djarot karena sudah bergabungnya kubu Djan Faridz. Tentu PPP dibawah Romahurmuziy sulit untuk mengekor kubu Djan Faridz, atau dalam bahasa kasar 'malu lah'.

Sementara untuk PAN, peluang Ahok-Djarot dan Anies-Sandi untuk merebut hati Parpol berlambang matahari itu sama-sama terbuka lebar. Ahok-Djarot melalui PDIP bisa memanfaatkan status PAN sebagai Parpol pendukung pemerintah, untuk bisa bekerja sama di tingkat pemerintah daerah.

Anie-Sandi pun bukan tanpa peluang. Sebab PAN tercatat sebagai salah satu inisiator Koalisi Kekeluargaan yang terbentuk menjelang Pilkada DKI Jakarta. Koalisi ini terbentuk untuk mengusung figur baru sebagai pemimpin Jakarta. Sehingga peluang Anies-Sandi yang notabene penantang pejawat masih terbuka lebar.

Hal yang sama pun juga berlaku bagi PKB. Ahok-Djarot mempunyai peluang yang sama besar untuk mengandeng Parpol pimpinan Muhaimin Iskandar itu. Begitu juga Anies-Sandi, dimana telah ada DPC PKB yang menyatakan dukungan kepada Paslon nomor urut tiga itu, meski DPW PKB belum menyatakan sikap resmi.

Namun, Pilkada juga bukan sekadar perhitungan dukungan Parpol semata. Hal itu terlihat pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta, di mana Paslon Agus-Sylvi yang diusung empat Parpol ternyata tak mampu mendongkrak perolehan suara.

Sehingga diluar Parpol, ada "warisan" lain yang bisa dikejar oleh dua Paslon yang akan berlaga di putaran kedua Pilkada. "Warisan" itu adalah pendukung riil Agus-Sylvi yang berjumlah 937.955 orang.

Paslon Anies-Sandi berpeluang besar mendapat hati para pemilih Agus-Sylvi. Karena jelas, 937.955 suara itu menginginkan sosok baru sebagai pemimpin Jakarta. Jika berhasil meraup suara pemilih Agus-Sylvi, otomatis Paslon yang diusung Gerindra dan PKS memenangkan pertarungan Pilkada.

Sementara bagi Ahok-Djarot, pekerjaan rumah di kampanye putaran kedua adalah bagaimana menyakinkan 937.955 suara pemilih Agus, untuk mendukung mereka meneruskan menjadi pemimpin mereka. Jika Ahok-Djarot bisa menyakinkan setengah saja dari jumlah tersebut, maka Paslon yang diusung PDIP, Hanura, Nasdem dan Golkar ini akan keluar sebagai pemenangan.

Jadi akan menarik untuk diikuti, bagaimana perebutan "warisan" Agus-Sylvi di Putaran kedua. Apakah "warisan" itu bisa membuat penantang menjungkalkan pejawat, atau sebaliknya pejawat mampu mengandaskan penantang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement