Rabu 01 Feb 2017 09:37 WIB

Peradabannya Pernah Lemah, Kini Menguat

Harri Ash Shiddiqie
Foto: istimewa
Harri Ash Shiddiqie

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Dalam sebuah seminar yang dihadiri mantan mantan Direktur CIA James Woolsey, juga Ketua Yayasan Pertahanan Demokrasi, Clifford Mei, ada pertanyaan yang mengemuka, “Benturan Peradaban mulai terjadi, menangkah kita?”  Semua pakar tak bisa menjawab dengan tegas dan pasti.

 

Seorang panelisnya adalah Ayaan Hirsi Ali, wanita warga negara Belanda ini membenci Islam. Kebenciannya ditumpahkan pada naskah "Submission", menggambarkan Islam sebagai agama penindas perempuan. Dalam film itu ada wanita memakai pakaian tembus pandang dengan tubuh yang ditulisi ayat-ayat Alquran. Sampai-sampai pejabat nonmuslim pun ada yang berkomentar, ini penghinaan, sangat provokatif.  Di seminar itu, Ayaan juga tak bisa menjawab.

Kembali pada pertanyaan tadi, ia berkumandang sejak awal 1990-an. Di perang dingin Barat berhadap-hadapan dengan komunis. Komunis runtuh, Barat merasa menang. Berhadap-hadapan dengan Islam. Menangkah?

Gema pertanyaan itu selalu mengusik. Apalagi tahun 2015 Pew Research Center merilis, bahwa pada tahun 2050 jumlah populasi Muslim hampir sama dengan kaum Nasrani. Memang populasi Muslim sebagian besar berada di Asia dan Afrika, tetapi pakar Barat bisa membuat hitungan, 20 tahun mendatang jumlah Muslim kulit putih di Inggris sama besarnya dengan jumlah Muslim keturunan  Asia-Afrika.  Artinya, jumlah itu sangat besar,  itu merisaukan. Mereka tahu: Islam itu kuat. Islamophobia merebak.

Menangkah? Pertanyaan yang tak terjawab itu disusul pertanyaan berikutnya, kenapa Islam begitu kuat? Banyak suara di kemukakan, para pakar  'Benturan Peradaban' di antaranya memperoleh jawaban:  Tentang Alquran yang terjaga dan harus diteguhi setiap Muslim dengan mencontoh perilaku Nabi Muhammad. Setiap hari harus shalat lima kali. Adanya harapan surga dan ancaman neraka di setiap titik kehidupan, mulai dari urusan tidur, belajar, mencari nafkah, politik, hukum, keluarga, di saat sendiri di hutan lebat atau di tengah  hiruk-pikuk kota. Tentang Islam yang bukan sekedar agama, tapi pandangan hidup, ideologi, dan yang sangat penting : Islam adalah Dien.

Mereka menginginkan jawaban 'kunci' yang bisa diterapkan pada kebudayaan barat, sehingga barat bisa tumbuh kuat menjadi pemenang. Jawaban yang diperoleh dari cara pandang logika itu tak pernah tuntas. Bahkan membingungkan karena tak bisa diterapkan di Barat. Sering analisis dan jawabannya menyimpang ketika Islam dianggap budaya.

Tidak mudah menganalisa mengapa Islam itu kuat. Bila pertanyaan itu disampaikan kepada seorang Muslim, jawabannya malah sederhana : Iman. Para pakar itu heran, bagaimana mendapatkannya? Si Muslim menggeleng, karena ia tak tahu bagaimana mendapatkan iman sesuai dengan logika mereka.  Seminar, penataran, dan sekarung uang belum tentu menghasilkan orang beriman.

Pakar barat itu masih mengejar, bagaimana menguatkan iman? Si Muslim berpikir keras, ia tak pernah tahu semacam rumus fisika yang menjamin bahwa dengan begini dan begitu, iman akan kokoh, kuat. Si muslim lalu ingat tetangganya yang lahir dari keluarga Muslim. Sejak kecil hidupnya di surau, tetapi setelah sekolah tinggi dan menjadi pemimpin, ia malah berkata bahwa semua agama itu sama baiknya, semua masuk surga.

Tatkala si Muslim di desak lagi, bagaimana menguatkan iman, jawabannya masih singkat, sederhana : Takwa. Apakah itu? Si Muslim menjawab tanpa ragu, “Ikhlas menjalankan syariat disertai ilmu.”

Pakar Barat itu hanya mengangguk-angguk heran, tak habis pikir. Saat itu si Muslim memberi sedikit penjelasan, “Syariat itu adalah hukum Allah, ketentuan Allah, sumbernya kitab Alquran. Kitab petunjuk yang difirmankan oleh Pencipta Manusia.”

Pakar Barat menginginkan budaya barat yang kuat, sehingga tidak berdebar menghadapi Benturan Peradaban. Hari ini jiwa mereka seperti Panglima Rustum, pemimpin pasukan emperium besar Persia yang galau setelah didatangi utusan kaum Muslimin. Utusan bernama Rib’i bin Amir itu menyampaikan dengan sederhana, “Bila Anda memeluk Islam negeri ini tetap dalam kekuasaan Anda, bila memilih tetap dengan agama Anda, bayarlah jizyas.”

“Bila tidak?”

Rib’i  berkata tenang, tegas, “Kami menang atau mati masuk surga.”

Panglima Rustum terguncang, pesimis, tepatnya gentar. Perang Qodisiyah pecah. Meski mengerahkan pasukan jauh lebih besar dari pasukan Muslim, bahkan dengan pasukan gajah, Rustum kalah, bahkan terbunuh. Persia masuk dalam genggaman Islam.

Islam itu kuat.  Memang peradaban pemeluknya pernah melemah setelah runtuhnya Kerajaan Abbasiyah. Kini,  kebangkitan Islam menguat, bercahaya di mana-mana.

Ya. Allah jadikan kami bagian dari penguatan kebangkitan itu.  Amin.

*) Dosen di Jember

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement