Oleh Hadza Min Fadli Robby/Mahasiswa S2 Ilmu Hubungan Internasional, Institut Ilmu Sosial, Eskisehir Osmangazi Universitesi*
REPUBLIKA.CO.ID, Selasa (24/11) pagi, dunia dikejutkan dengan ditembak jatuhnya pesawat Su- 24 milik AU Rusia oleh dua pesawat F-16 milik AU Turki di daerah perba tasan Suriah dan Turki, tepatnya di Yayladagi, Hatay. Menurut penjelasan Mabes Angkatan Bersenjata Turki, pesawat AU Rusia melewati perbatasan Suriah dan sudah diperingatkan 10 kali untuk keluar dari wilayah Turki sebelum ditembak.
Mabes Angkatan Bersenjata Turki berpendapat, pelanggaran udara oleh Rusia akan ditindak berdasarkan rule of engagement yang sesuai standar internasional. NATO, selaku organisasi kerja sama keamanan di wilayah Amerika dan Eropa--Turki anggota NATO--juga melihat aksi Turki sebagai tindakan yang sesuai rule of engagement.
Namun, Rusia berpendapat penembakan pesawatnya tidak berdasar karena pesawat Su-24 sama sekali tidak menerima peringatan radio seperti yang diklaim AU Turki. Pesawat Su-24 saat itu sudah di luar perbatasan Turki dan menganggap aksi Turki sebagai tikaman dari belakang', bahkan menyebut Turki sekutu kelompok teror' di Suriah.
Setelah peristiwa ini, banyak opini di media tentang kemungkinan konflik besar antara Rusia dan Turki yang akan berujung pada Perang Dunia III. Untuk memahami kemungkinan ini, kita perlu melihat pola umum relasi Rusia-Turki dan konteksnya dalam kemelut Suriah.
Sepanjang sejarah, hubungan Rusia-Turki diwarnai dinamika kerja sama dan konflik yang relatif memengaruhi politik regional serta internasional. Dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Turki dan Rusia menjalani hubungan dalam kerangka enmity (permusuhan) yang ditandai Perang Krimea dan keterlibatan Rusia mendukung pemberontakan di wilayah Kesultanan Usmani.