Sabtu 28 Feb 2026 11:25 WIB

Catatan Tragedi Ketewel: Menggugat Nyali dan Profesionalisme Polda Bali

Jangan sampai Bali menjadi 'surga' mafia kriminal asing.

Wisatawan mengunjungi Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali, Rabu (23/4/2025). Pengelola desa wisata yang dikunjungi hingga sebanyak 1.023.143 wisatawan pada tahun 2024 lalu itu berkomitmen untuk terus memperkuat kawasan sebagai destinasi wisata hijau yang mendukung pelestarian lingkungan dan budaya Bali.
Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Wisatawan mengunjungi Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali, Rabu (23/4/2025). Pengelola desa wisata yang dikunjungi hingga sebanyak 1.023.143 wisatawan pada tahun 2024 lalu itu berkomitmen untuk terus memperkuat kawasan sebagai destinasi wisata hijau yang mendukung pelestarian lingkungan dan budaya Bali.

Oleh: Dr I Wayan Sudirta, SH, MH,Wakil Ketua MKD, anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kasus hilangnya WNA Ukraina, Ihor Komarav (28), yang berakhir pada penemuan potongan jasad di Muara Sungai Wos Teben, Ketewel, bukan sekadar tindak pidana pembunuhan biasa.

Ini adalah prahara kemanusiaan dan ancaman nyata terhadap kedaulatan keamanan di Pulau Dewata.

Baca Juga

Dengan tuntutan tebusan fantastis sebesar USD 10 juta (Rp 168 Miliar), kita tidak lagi bicara tentang kriminalitas jalanan, melainkan indikasi kuat adanya sindikat kejahatan terorganisasi (mafia) yang beroperasi secara dingin di tanah Bali.

Supremasi dan kepastian penegakan

Secara yuridis, tindakan ini memenuhi unsur pembunuhan berencana yang dilakukan dengan sangat keji (mutilasi).

Namun, dimensi "penculikan dengan tebusan" menambah bobot kasus ini menjadi kejahatan luar biasa.

Kita mengapresiasi langkah awal kepolisian melalui identifikasi tato dan uji forensik. Namun, identifikasi fisik saja tidak cukup.

Polri melalui Polda Bali harus melacak aliran digital (cryptocurrency atau transfer bank) dan komunikasi di balik video tebusan tersebut sebagai kunci untuk membongkar siapa "aktor intelektual" di balik eksekutor lapangan.

photo
Penari menampilkan tari kolosal di dekat deretan rumah tradisional saat pembukaan Penglipuran Village Festival 2025 di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali, Kamis (10/7/2025). Festival tersebut diselenggarakan untuk mempromosikan berbagai potensi seni, budaya dan ekonomi kreatif masyarakat setempat guna meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mengembangkan industri pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. - (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement