Sabtu 07 Jul 2012 23:49 WIB

Menurunkan Jenazah Pun Bayar

Nasihin Masha
Foto: Republika/Daan
Nasihin Masha

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Nasihin Masha

Ini cerita seorang politikus. Zulkifli Hasan, selain menjadi menteri kehutanan, juga menjadi ketua Partai Amanat Nasional (PAN). Sebelumnya, ia menjadi sekretaris jenderal partai biru berlogo matahari bersinar tersebut. Dalam masalah korupsi, ia kehilangan kata-kata. Diantaranya adalah karena jawaban yang ia temui dari masyarakat. “Jangankan menaikkan orang, menurunkan orang pun harus pake uang,” katanya mengutip jawaban tersebut.

Cerita itu ia kisahkan saat bertemu para pemimpin redaksi. Baginya, kehidupan politikus yang korup merupakan cermin dari masyarakat yang korup juga. Tentu tak semua politikus korup sebagaimana tak semua masyarakat juga korup. Sebagai bukti, ia menyebut sejumlah politikus PAN yang dikenal memiliki kualitas, reputasi, dan juga pekerja keras. Mereka turun ke bawah membina konstituen, namun mereka tak menghamburkan uang ke masyarakat. Akhirnya, mereka tak lolos ke DPR pada pemilu lalu. “Kalau pidato saja, kami pun bisa,” begitu jawaban orang orang. Mereka maunya ‘gizi’, duit.

Yang dimaksud menurunkan orang adalah mengubur jenazah, orang yang mereka sebut sudah pensiun dari kehidupan. Sedangkan, memilih caleg ataupun calon kepala daerah justru hendak menaikkan orang ke suatu jabatan. Sekali lagi, Zulkifli mengungkap bukti, seorang anggota DPR dari PAN yang dikenal vokal dan mumpuni mengundurkan diri. “Dia tak sanggup lagi. Dia orangnya bersih, tapi setiap saat ada orang yang datang minta uang. Jika tak diberi maka dikata-katai atau didemo ke rumahnya,” katanya. Orang yang disebut Zulkifli memang dikenal bersih, vokal, dan pintar.

Sampai di titik ini, kita seolah dihadapkan pada jalan searah, tersingkir atau larut ke dalam korupsi. Seperti kata Ronggo Warsito, jika menemui zaman edan maka yang tak ikut tak akan kebagian. Namun, sejarah mengajarkan, tak ada yang bernama jalan searah itu. Sejarah selalu mengajarkan kemenangan orang-orang yang berikhtiar, yakin, amanah, dan setia.

Namun, di bangsa manapun, perubahan cepat hanya terjadi jika hadir pemimpin yang tak lelah berikhtiar, berkeyakinan kokoh, serta amanah dan setia pada jalan suci. Tak ada Korea Selatan tanpa Park Chung Hee, tak ada Singapura tanpa Lee Kuan Yew, tak ada Malaysia tanpa Mahathir Mohammad, tak ada Cina tanpa Zhu Rong-ji, tak ada Rusia tanpa Vladimir Putin, dan tak ada Turki tanpa Recep Tayyip Erdogan.

Fakta juga memperlihatkan masyarakat sudah memberikan sinyal. Mereka menuntut perubahan. Pada Pemilu 1999, rakyat membuat pilihan dengan memenangkan PDIP. Di bawah M gawati Soekarno putri, PDIP dianggap alternatif terhadap Orde Baru. Pada Pemilu 2004, rakyat memilih Susilo Bambang Yudhoyono sebagai figur alternatif terhadap kemapanan para tokoh lain saat itu. Dua pemilu itu membuktikan masyarakat tak seburuk fakta permukaan tentang politik transaksional.

Yang terjadi adalah kegagalan elite menangkap sinyal itu. Juga, kegagalan komunikasi politik elite terhadap masyarakatnya. Karena itu, Ronggo Warsito menutup puisinya dengan mengingatkan, pemenangnya adalah orang yang “ingat dan waspada”.

Mereka adalah orang yang konsisten di jalan suci dan bisa membaca tanda zaman. Bisa menangkap kedalaman hati masyarakat untuk dimunculkan dalam bahasa yang mudah dicerna kembali. PDIP dan Yudhoyono bisa membangun citra yang dimaui masyarakat saat itu, namun kemudian tak konsisten atau tak mampu menapaki jalan suci. Karena itu, korupsi bukannya berkurang, melainkan makin merajalela. Kita tentu tak mau hanya menjadi cermin karena kita tak ingin menemui jalan searah. 

sumber : resonansi
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement