
Oleh : Prof. Sahara Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi dan Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS)- Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB University
REPUBLIKA.CO.ID, Langkah agresif AS terhadap Venezuela, mulai dari tekanan ekonomi hingga intervensi politik terbuka, serta manuver geopolitik terhadap Greenland dan Iran bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Rangkaian tindakan tersebut mencerminkan perubahan mendasar dalam tatanan global, di mana logika pasar bebas dan multilateralisme secara bertahap kehilangan pengaruhnya.
Perubahan tersebut berlangsung seiring dengan masuknya dunia ke dalam fase slowbalisation, yakni perlambatan globalisasi yang ditandai oleh melemahnya arus perdagangan, investasi, serta integrasi rantai nilai global. Dalam konteks slowbalisation ini, negara-negara besar tidak lagi sepenuhnya mengandalkan mekanisme pasar terbuka, institusi multilateral, dan aturan perdagangan global, melainkan semakin mengedepankan pendekatan unilateral dan geopolitik untuk mengamankan kepentingan strategisnya.
Slowbalisation dan Posisi Indonesia dalam Perdagangan Global
Fenomena slowbalisation tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 dimana pascapandemi Covid 19, pertumbuhan perdagangan global menunjukkan tren penurunan dan puncak penuruan tersebut terjadi ditahun 2023 (-4.8%). Penurunan pertumbuhan perdagangan global di tahun 2023 tersebut terutama disebabkan oleh adanya ketegangan geopolitik (perang Rusia-Ukraina) dan ketegangan perdagangan antara AS-Tiongkok. Pada tahun 2024, pertumbuhan kembali positif (1,26%), namun masih lemah.
Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa ekspor bilateral AS menunjukkan pola dan intensitas yang sangat berbeda terhadap Indonesia, Tiongkok, dan Rusia disepanjang periode 2023-2024. Hubungan perdagangan AS dengan Tiongkok memiliki nilai ekspor yang paling tinggi dan meningkat. Sebaliknya ekspor AS ke Indonesia berada pada level menengah dan menunjukkan penurunan, yang mengindikasikan adanya pelemahan perdagangan di situasi slowbalisation tersebut.