REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Empat tahun relatif tenang ternyata tidak cukup untuk mengakhiri konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Gencatan senjata yang bertahan sejak 2022 kini menghadapi ujian paling serius setelah koalisi pimpinan Riyadh kembali menyerang Bandara Internasional Sanaa pada Juli 2026.
Houthi membalas dengan serangan terhadap Bandara Abha di Arab Saudi. Pada Oktober, kelompok tersebut kembali melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak, termasuk terhadap Bandara Aden dan sasaran di wilayah Saudi. Eskalasi ini menghidupkan kembali perang lintas perbatasan yang sempat mereda selama bertahun-tahun.
Namun, konflik Yaman bukan sekadar perseteruan antara Riyadh dan Houthi. Perang ini berakar pada perebutan kekuasaan di dalam negeri, berkembang menjadi persaingan regional Saudi-Iran, dan kini bersinggungan dengan konfrontasi yang lebih luas di Timur Tengah.
Di tengah ketegangan tersebut, Bab al-Mandeb menjadi titik paling strategis. Selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu merupakan jalur pelayaran penting menuju Terusan Suez. Jika lalu lintas kapal di kawasan tersebut benar-benar terhenti, dampaknya dapat menjalar ke perdagangan global, biaya pengiriman, dan harga energi.
Akar konflik bermula sebelum serangan Saudi. Pada September 2014, Houthi, kelompok bersenjata yang dikenal dengan nama Ansar Allah dan berasal dari Yaman utara, merebut ibu kota Sanaa. Kelompok itu kemudian memperluas pengaruhnya, sementara pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi kehilangan kendali atas sebagian wilayah negara.
Pada 26 Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional. Operasi tersebut dilancarkan setelah Hadi meminta bantuan menghadapi kemajuan Houthi. Koalisi melibatkan sejumlah negara Arab, dengan dukungan Amerika Serikat dalam aspek tertentu.
Riyadh menyatakan intervensi tersebut bertujuan memulihkan pemerintahan yang diakui dan membendung pengaruh Iran. Sebaliknya, Houthi memandang kampanye militer itu sebagai agresi asing terhadap Yaman.
Serangan udara, pertempuran darat, dan pembatasan jalur masuk barang kemudian menghancurkan berbagai infrastruktur sipil. Pelabuhan, jalan, fasilitas kesehatan, dan bandara ikut terdampak. Penutupan Bandara Internasional Sanaa untuk penerbangan komersial serta pembatasan terhadap pelabuhan memperberat akses warga terhadap obat-obatan dan kebutuhan pokok.
Program Pembangunan PBB (UNDP) memperkirakan bahwa konflik Yaman telah menyebabkan sekitar 377 ribu kematian hingga akhir 2021. Angka ini mencakup kematian langsung akibat kekerasan maupun kematian tidak langsung karena kelaparan, penyakit, dan keruntuhan layanan dasar.
Angka tersebut tidak dapat disebut sebagai jumlah orang yang seluruhnya tewas akibat serangan Saudi. Konflik melibatkan banyak pihak, termasuk Houthi, pasukan pemerintah Yaman, kelompok-kelompok bersenjata lokal, dan organisasi ekstremis. Namun, koalisi pimpinan Saudi menjadi salah satu aktor militer utama, dan serangan udaranya berulang kali menimbulkan korban sipil.
Data ACLED mencatat sekitar 158 ribu kematian akibat kekerasan dalam konflik Yaman selama Januari 2015 hingga Desember 2022, termasuk lebih dari 15.700 warga sipil yang tewas dalam serangan langsung. Angka ACLED dan estimasi UNDP tidak bisa dijumlahkan karena menggunakan cakupan dan metodologi berbeda.
Besarnya korban tidak menghasilkan kemenangan militer yang menentukan bagi Saudi. Houthi tetap menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah berpenduduk padat di Yaman utara. Kelompok itu juga mengembangkan kemampuan rudal dan pesawat nirawak yang memungkinkan mereka menyerang sasaran jauh di dalam wilayah Saudi.
Perang yang semula dimaksudkan untuk memulihkan pemerintahan Yaman akhirnya berubah menjadi konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya Riyadh, memperkuat posisi Houthi, dan menjadikan warga sipil sebagai pihak yang paling menderita.
Gencatan Senjata...