
Oleh: Luqman Hakim Arifin, Alumni Gontor 1996, pegiat literasi Indonesia, Founder Reneturos Group
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Kok saya baru tahu ada orang sepintar dan sebijaksana ini? Saya jadi ngefans. Ke mana saja sosok pemberani ini?”
“Gue sebagai Kristen, kagum banget mendengarnya. Sudah lama rasanya negara ini tidak mendengar sosok intelektual dari atas mimbar.”
Begitu kira-kira komentar warganet setelah mendengar KH. Hasan Abdullah Sahal berbicara. Potongan pidatonya viral.
Saya tersenyum membacanya.
Sebab, bagi kami yang pernah menjadi santri Gontor, beliau sebenarnya tak pernah ke mana-mana.
Beliau selalu ada. Menjadi imam setiap Jumatan. Membersamai santri. Bermain bola dan musik. Menasihati. Membuka pagelaran seni santri bernama Panggung Gembira dan Drama Arena. Mengingatkan. Kadang tegas, kadang jenaka, kadang dengan kalimat yang membuat kita merenung dalam.
Mungkin karena terlalu dekat, sehingga kita sering lupa bahwa di hadapan kita ada sosok kiai yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan umat.
Ada orang yang berbicara kepada telinga. Ada pula yang berbicara kepada hati. Pak Yai Hasan, bagi saya, termasuk yang kedua.
Pada peringatan 100 tahun Gontor kemarin, beliau dua kali menyampaikan pidato yang sangat membekas. Yang pertama di hadapan Presiden Prabowo Subianto, dan yang kedua di depan keluarga besar Gontor: santri, guru, dan alumni.
Konteksnya berbeda. Tetapi ada sesuatu yang terasa sama: ketegasan yang tidak kehilangan kelembutan, dan keberanian yang tidak kehilangan kasih sayang.
Itulah yang membuat banyak orang terdiam dan tak kuasa menahan air mata.
Entah mengapa, saya merasa pidato kedua beliau seperti sebuah salam perpisahan. Seolah beliau sedang menitipkan Gontor, menitipkan nilai-nilai, dan menitipkan harapan kepada seluruh yang hadir.
“Kami titipkan pondok ini… terserah anak-anakku. Akan saya lihat dari kuburan,” ujarnya, menirukan pesan KH Imam Zarkasyi. (Lihat versi lengkapnya di video.)
Makjleb… Saya yakin, salah satu yang paling ditunggu oleh para alumni Reuni Akbar adalah petuah dan nasihat Pak Yai Hasan. Nasihat dan ilmunya ngangenin. “Kita seperti ngecharge,” kata KH Hadiyanto “Dedy” Arief, pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta.
“Susah dicari, jarang terdapat, mahal harganya”. Pernah suatu hari, ketika meresmikan kantor dan gudang baru Reneturos, beliau melantunkan doa dengan tujuh Al-Fatihah dalam setiap doanya.
Belum pernah saya dengar modelan doa seperti ini, apalagi dari Pak Yai Hasan. Tapi dengan tawadhuk, beliau mengingatkan:
“Jangan menganggap kalau Pak Hasan yang berdoa itu maqbul. Banyak yang lebih maqbul daripada saya,” tekannya.
Lalu beliau menyampaikan tujuh pesan berharga: tentang mencari orang baik dengan kecerdasan hati, tentang rahmat Allah yang tak bisa ditahan oleh siapa pun, tentang membaca dunia dengan hati, serta pentingnya menjaga kebersihan hati, amal, dan lingkungan.
“Iman tetap, rezeki murah, amal bertambah, hidup penuh berkah, mati husnul khatimah, dan kelak mendapat syafaat Rasulullah.”
Makanya pas selesai acara Reuni Akbar 100 Tahun Gontor, saya merasa harus salim ke beliau. Nasihatnya kali ini tidak biasa.
KH Anang Rikza, Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah, yang juga alumni 1996 seperti saya, berpapasan dengan saya—ikut menguatkan. “Segera salim sana.”