Senin 07 Sep 2026 10:00 WIB

NPD Bertentangan dengan Akhlak Alquran dan Islam Rahmatan lil Alamin

Merendahkan orang lain merupakan perilaku yang bertentangan dengan akhlak Alquran.

NPD Bertentangan dengan Akhlak Alquran dan Islam Rahmatan lil Alamin
Foto: Dok. Freepik
NPD Bertentangan dengan Akhlak Alquran dan Islam Rahmatan lil Alamin

Oleh: Fuji Eka Permana, Jurnalis Republika dan Magister Ekonomi Islam Universitas Paramadina

REPUBLIKA.CO.ID, Gangguan Kepribadian Narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD) kerap dipahami semata-mata sebagai persoalan psikologis. Namun, ketika kecenderungan narsistik seperti cinta diri yang berlebihan, haus akan pengakuan, merasa lebih unggul, mengeksploitasi orang lain, tidak jujur demi kepentingan pribadi, dan rendahnya empati terhadap orang lain berkembang menjadi pola perilaku, ia bersinggungan secara serius dengan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan akhlak Alquran.

Islam tidak melarang seseorang menghargai dan mencintai dirinya sendiri, tetapi menolak sikap berlebihan yang menempatkan ego, pujian, dan kepentingan diri di atas kebenaran, kerendahan hati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Karena itu, NPD penting dibahas secara kritis dan proporsional, bukan untuk menghakimi mereka yang mengalami gangguan tersebut, melainkan untuk melihat bagaimana karakteristik NPD berhadapan dengan pondasi akhlak Alquran yang rahmatan lil alamin.

Baca Juga

Paul M.G. Emmelkamp seorang Profesor Psikologi Klinis dan Katharina Meyerbroker seorang psikolog kesehatan mental berlisensi di Altrecht Mental Health Institute dalam buku Personality Disorders edisi kedua terbitan Routledge, 2020, mengungkapkan ciri-ciri utama orang dengan gangguan NPD. Di antara ciri-cirinya, pertama, grandiosity (kemegahan diri) adalah kondisi psikologis yang ditandai oleh perasaan superioritas, merasa memiliki keunikan, merasa lebih baik dan merasa berhak untuk mengatur atau berkuasa.

Kedua, preokupasi dengan fantasi sukses yang tidak terbatas. Ketiga, merasa istimewa dan unik, percaya bahwa dirinya spesial dan hanya dapat dipahami oleh orang tertentu saja dan harus bergaul dengan orang-orang yang menurutnya berstatus tinggi. Keempat, sangat haus akan perhatian dan pujian dari orang lain.

Kelima, rasa berhak yang berlebihan, dan memiliki harapan yang tidak masuk akal untuk mendapatkan perlakuan istimewa, serta mengharapkan orang lain patuh terhadap dirinya dan harapannya. Keenam, tanpa segan mengambil keuntungan dari orang lain demi mencapai tujuan pribadinya sendiri, bahkan bisa menabrak aturan moral dan agama demi mencapai tujuan pribadinya.

Ketujuh, kurang empati, sikapnya tidak mau memahami perasaan serta kebutuhan orang lain (tidak tenggang rasa). Kedelapan, sering merasa iri pada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya. Kesembilan, berperilaku arogan, kerap menunjukkan sikap atau perilaku yang angkuh dan sombong.

Orang dengan gangguan NPD umumnya sangat sensitif terhadap penghinaan sehingga reaktif mudah marah ketika merasa mendapat penghinaan. Di antara yang membuat orang NPD merasa terhina adalah ketika pendapat orang lain berbeda dengan dirinya, dan ketika pendapatnya ditentang.

Ia merasa terhina karena pendapat orang lain yang berbeda dianggap mengancam harga dirinya. Berdasarkan ciri-ciri umum orang dengan gangguan NPD, sejumlah karakteristik tersebut dapat dikatakan bertentangan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan akhlak Alquran. Perasaan superioritas, merasa diri istimewa, haus perhatian dan pujian, serta merasa berhak secara berlebihan pada hakikatnya merupakan bentuk kesombongan dan keangkuhan.

Sebagaimana diketahui, Islam memandang sombong dan angkuh sebagai sifat yang dibenci Allah. Kesombongan bahkan dikatakan sebagai ciri sifat setan dan iblis.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi