Selasa 11 Aug 2026 14:14 WIB

Membaca Masa Depan Ekonomi Syariah Jawa Timur

Jatim diakui secara nasional sebagai daerah terbaik pengembangan ekonomi syariah.

Pengunjung mengunjungi stand peserta pameran produk halal di acara Indonesia Shari’a Economic Festival ke 5 (ISEF), di Surabaya, Kamis (13/12).
Foto: darmawan / republika
Pengunjung mengunjungi stand peserta pameran produk halal di acara Indonesia Shari’a Economic Festival ke 5 (ISEF), di Surabaya, Kamis (13/12).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: 

  • Prof. Drs. Ec. Abdul Mongid, M.A., Ph.D. - Wakil Direktur Eksekutif II Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jawa Timur

  • Ishmah Qurratu’ain - Analis Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS)

Indonesia sedang mendorong ekonomi syariah sebagai mesin ekonomi baru nasional. Namun, mesin sebesar itu tidak akan bergerak tanpa partisipasi daerah-daerah dalam membangun ekosistem secara berkelanjutan. Lantas pertanyaannya, apa yang membuat sebuah daerah menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional?

Baca Juga

Jawa Timur menjadi contoh yang menarik. Ekonomi syariah di Jawa Timur tumbuh dari akar sosial yang kuat dan tumbuh secara organik dari bawah. Jika mengamati sejarah, maka terlihat bahwa jaringan pondok pesantren Jatim telah mengoperasionalisasikan ekonomi syariah pada dekade 1990-an, bahkan sebelum istilahnya populer.

Memasuki tahun 2014, Bank Indonesia menyadari bahwa ekonomi syariah Jawa Timur seumpama raksasa tidur. Untuk membangunkan kekuatannya, dirancanglah Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) pertama yang berpusat di Surabaya. Kegiatan ini menjadi titik awal platform kolaborasi nasional yang kini sudah diakui di kancah internasional.

Pondasi ekonomi syariah yang telah mengakar kemudian berkembang menjadi mesin penggerak yang kuat. Sekitar 2018-2022, mesin yang bergerak tradisional mengalami transformasi karena adanya konsolidasi pemerintah dengan berbagai elemen terkait.

Inilah yang menjadi titik balik pengembangan ekonomi syariah Jatim. Terlebih, pada 2022 Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jatim terbentuk. Komite ini diketuai langsung oleh Gubernur Jatim dan menjadi orkestrator ekonomi syariah.

 

photo
Foto udara pekerja memanen padi menggunakan mesin pertanian modern (Combine Harvester) di area persawahan kawasan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (9/8/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total luas panen padi di Indonesia pada Januari hingga September 2026 mencapai 9,46 juta hektare naik sekitar 0,11 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 9,45 juta hektare. - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi