
Oleh: Alfian, Pemerhati Isu-isu Palestina
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di antara dentuman bom dan desing peluru yang meluluhlantakkan Gaza, Abdul Latif Hashim dan Haneen Al-Amassi memilih melakukan yang tidak lazim. Mereka mengulik manuskrip-manuskrip bersejarah mulai dari dokumentasi, digitalisasi, konservasi sampai menyusun upaya penyelamatan dalam kondisi darurat.
Total 25.000 manuskrip dari era kesultanan Mamluk dan Ustmaniyah berhasil mereka digitalisasi. Sejarawan dan peneliti warisan budaya ini juga mendirikan laboratorium khusus untuk restorasi manuskrip sejarah pertama di Gaza.
Lembaga PBB UNESCO menganugerahkan Jikji Memory of the World Prize 2026 kepada Abdul Latif dan Haneen pada awal September lalu. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas upaya untuk melestarikan warisan dokumenter dunia serta menjadikan dokumen-dokumen tersebut dapat diakses sebagai warisan bersama umat manusia. Abdul Latif dan Haneen menjadi individu pertama yang menerima penghargaan ini. Sebelumnya, penghargaan ini selalu diterima oleh institusi, di antaranya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang menerimanya di tahun 2024.
Menarik untuk mencermati mengapa di tengah genosida yang telah merenggut puluhan ribu nyawa rakyat Palestina, dua tokoh ini memilih melakukan kerja-kerja penjagaan warisan budaya. Sekilas upaya yang mereka lakukan seperti ketapel kecil yang menghadang Goliath. Namun sejarah mencatat bahwa bentuk-bentuk perlawanan seperti ini bukan yang pertama dilakukan oleh rakyat Palestina.
Penyair Palestina Mossab Abu Toha dalam bukunya Things you May Find Hidden in My Ear mendokumentasikan ini dengan baik. Ketika rakyat Palestina terusir paksa dari rumahnya, mereka menyimpan kunci rumah sebagai simbol ikrar bahwa mereka akan kembali. Ketika kota-kota mereka tergusur dari peta dan diganti nama oleh Israel, mereka mengabadikan nama kota-kota tersebut menjadi nama anak-anak mereka sendiri. Ketika sebuah gedung teater dibom Israel tahun 2018, para seniman berkumpul dan memainkan instrument musik di lokasi reruntuhan. Mossab sendiri mendirikan perpustakaan kecil di rumahnya setelah perpustakaan di kampusnya menjadi sasaran bom Israel.
Sekali lagi, di tengah kekuatan persenjataan Israel yang digdaya dengan dukungan penuh Amerika Serikat, upaya-upaya budaya seperti ini sekilas terlihat kecil, seperti setetes air di tengah lautan. Namun, rakyat Palestina sepertinya tidak pernah lelah untuk terus melakukan hal yang sama.
Filsuf dan pemikir Italia Antonio Gramsci membantu kita untuk memahami resiliensi rakyat Palestina. Gramsci berargumen bahwa supremasi sebuah kelompok terwujud melalui dua jalan, yaitu dominasi serta kepemimpinan intelektual dan moral—jalan kedua biasanya dikenal dengan sebutan hegemoni, yaitu upaya untuk memenangkan opini umum sesuai dengan narasi yang diagendakan. Israel melakukan dua hal ini sekaligus.
Mereka mendominasi melalui senjata, sekaligus melakukan hegemoni melalui lobi-lobi politik dan budaya untuk mendapatkan legitimasi moral atas penjajahan dan kebijakan apartheid yang dijalankan negara tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana kuatnya pengaruh lobi Israel di ranah politik Amerika serta kampanye propaganda pro-Israel (hasbara) yang mereka gaungkan di seluruh dunia.
Para aktivis kebudayaan di Palestina paham betul akan hal ini. Malah bisa dikatakan dari sinilah mereka mengumpulkan bahan bakar yang membuat resiliensi mereka tetap kuat untuk melakukan kerja-kerja budaya; mereka sedang berusaha meruntuhkan hegemoni Israel atas opini dunia. Melalui kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan Abdul Latif dan Haneen para pejuang tersebut tidak hanya sedang melakukan ekspresi budaya, mereka sedang merawat ingatan tentang Palestina sekaligus mencoba mendongkel hegemoni Israel.
Di masa lalu langkah-langkah seperti ini mungkin terlihat tidak begitu berarti. Tetapi saat ini dukungan publik atas Palestina semakin menguat di panggung budaya global. Bagaimana derasnya dukungan terhadap penyanyi rap Mackelmore yang secara terbuka mendukung Palestina serta derasnya kritik atas Ed Sheeran yang mencoret Mackelmore sebagai penampil dalam tur terbarunya merupakan salah satu bukti bahwa pendulum sekarang sudah mulai bergeser. Suara-suara gerakan pembebasan Palestina mulai keluar dari ruang gema (echo chamber) para pendukungnya; dia mulai menjangkau khalayak yang lebih luas. Bahkan sineas Israel pun telah ikut memproduksi film dokumenter Naza yang merekam jejak kekejian militer Israel di Gaza.
Sayangnya gema yang sama kurang terdengar di tanah air. Suara-suara pendukung Palestina mulai tidak senyaring dulu saat genosida baru dimulai. Dukungan untuk Palestina tidak pernah surut, tetapi mungkin saja perhatian atau energi publik ikut teralihkan dengan banyaknya masalah di tanah air, mulai keracunan MBG sampai Karhutla. Dalam kondisi seperti ini sangat mungkin publik mengalami news fatigue, bukan karena kepedulian sudah lekang, tetapi publik merasa kewalahan.
Dalam kondisi seperti ini sangatlah penting untuk meminjam energi resiliensi rakyat Palestina. Kalau ada yang paling berhak mengeluhkan rasa lelah, mereka lah orangnya. Tetapi aktivisme mereka tidak pernah kendor. Pada akhirnya pembebasan Palestina adalah sebuah proyek jangka panjang. Setiap kerja-kerja budaya yang dilakukan—baik di dalam maupun di luar rakyat Palestina—akan berkontribusi positif bagi perjalanan panjang tersebut. Dengan berkaca pada resiliensi rakyat Palestina, dukungan terhadap mereka dari tanah air diharapkan akan kembali berdengung.