Ahad 05 Jul 2026 13:56 WIB

Menjadi Kafilah Juara di MTQ Banten

Bagi Provinsi Banten, MTQ memiliki makna yang lebih mendalam.

Ilustrasi MTQ.
Foto: Republika/Prayogi
Ilustrasi MTQ.

Oleh: Muhtar Sadili, Juara 2 Cabang KTIQ MTQ Nasional 2008 dan Alumni UIN Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-23 (XXIII) Tingkat Provinsi Banten yang digelar di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, pada 6–10 Juli 2026, menjadi perhelatan yang sangat menarik untuk dicermati.

Terbersit pikiran bahwa MTQ bukan sekadar ajang perlombaan untuk mencari siapa yang terbaik dalam membaca, menghafal, memahami, atau menulis Al-Qur’an. Lebih dari itu, MTQ merupakan wahana syiar Islam, pembinaan generasi Qur’ani, sekaligus momentum untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.

Baca Juga

Bagi Provinsi Banten, MTQ memiliki makna yang lebih mendalam. Banten dikenal sebagai Tanah Sejuta Santri, sebuah identitas yang lahir dari sejarah panjang penyebaran Islam, tradisi pesantren, dan perjuangan para ulama dalam membangun peradaban.

Identitas tersebut bukan sekadar slogan, melainkan cerminan karakter masyarakat yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi kehidupan.

Jejak sejarah itu tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Syekh Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang meletakkan dasar pembangunan masyarakat dengan menjadikan ajaran Islam sebagai ruh kehidupan.

Di bawah kepemimpinannya, Banten berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan kebudayaan Islam. Nilai-nilai Islam hidup dalam bahasa, tradisi, tata pergaulan, hingga tata kelola pemerintahan pada masanya.

Karena itu, MTQ Banten sesungguhnya bukan hanya agenda tahunan yang melahirkan para juara. MTQ adalah momentum untuk merajut kembali semangat perjuangan Syekh Maulana Hasanuddin, menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam membangun peradaban Banten.

Membumikan Nilai Luhur Al-Qur’an

Setiap derap pembangunan, setiap kebijakan pemerintahan, setiap aktivitas pendidikan, ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kemasyarakatan, semestinya berpijak pada nilai-nilai luhur Al-Qur’an.

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang indah dibaca dan dilombakan, melainkan gugusan nilai yang membimbing manusia menuju keadilan, kejujuran, amanah, kerja keras, kasih sayang, persatuan, dan kemajuan.

Nilai-nilai itulah yang tidak boleh kehilangan pijakan dalam tata kelola pemerintahan, pembangunan daerah, pelayanan publik, maupun kehidupan bermasyarakat. Kemajuan tidak boleh dipisahkan dari moralitas, dan pembangunan tidak boleh kehilangan arah dari petunjuk wahyu.

Menjadi bagian dari kafilah MTQ adalah sebuah amanah yang mulia. Setiap peserta tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama daerah, lembaga, keluarga, dan masyarakat yang menaruh harapan besar kepada mereka.

Oleh karena itu, menjadi kafilah juara bukan hanya tentang memperoleh medali atau piala, melainkan tentang menampilkan akhlak Qur’ani, semangat berjuang, dan dedikasi terbaik.

Iktiar menuju prestasi harus dimulai jauh sebelum perlombaan berlangsung. Latihan yang disiplin, pembinaan yang terarah, evaluasi yang berkelanjutan, serta bimbingan dari para pelatih menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas peserta.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi