Kamis 25 Jun 2026 15:43 WIB

Adab di Atas Segala Ilmu

Jangan biarkan angka nilai menggeser nilai luhur.

Ilustrasi siswa belajar.
Foto: Ferry Bangkit Rizki/ Republika
Ilustrasi siswa belajar.

Oleh: Endang Yusro, Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seringkali kita terbuai oleh angka dan peringkat. Di tengah persaingan dunia pendidikan yang makin ketat, tak sedikit yang lupa menanyakan, untuk apa ilmu itu dikejar, jika tidak disertai kemuliaan akhlak?

Pertanyaan itu seolah mendapat jawaban nyata dari sosok Nabila Anggraeni, siswa kelas XII SMA Muhammadiyah Kota Serang yang lulus tahun 2025. Gadis pendiam ini ternyata menyimpan kisah yang menyentuh hati. Selama tiga tahun bersekolah, hampir tak ada yang tahu ia adalah anak yatim piatu. Ia merahasiakan keadaan itu bukan tanpa alasan semata-mata agar tidak menjadi beban bagi orang lain, dan bisa terus menuntut ilmu dengan tenang.

Baca Juga

Setiap hari, Nabila menempuh perjalanan kaki sejauh dua kilometer bolak-balik antara sekolah dan Pesantren Hubbul Qur’an al-Islami. Jarak itu ia tempuh demi menghemat biaya transportasi yang di luar kemampuannya. Usai jam belajar formal selesai, ia langsung masuk ke lingkungan pesantren, mendalami kitab nahwu, shorof, fikih, hingga tasawuf di bawah bimbingan K.H. Mad Hatta, Lc. Tak hanya itu, ia telah menghafal 29 juz Alquran, rajin berpuasa sunah, dan tetap menyempatkan waktu untuk hobi bermain bulu tangkis.

Ketika penulis menanyakan ungkapan apa yang paling melekat di sanubarinya, jawabannya ringkas namun mendalam: “Al-adabu fauqal ‘ilmi” (adab lebih utama daripada ilmu). Menurut penjelasannya, ilmu yang tidak disertai adab tidak akan memberi manfaat bagi pemiliknya maupun sesama. Sebaliknya, seseorang yang berakhlak mulia, meski pengetahuannya belum luas, akan lebih mudah dihormati dan diterima dalam pergaulan.

Pandangan ini selaras dengan ajaran ulama terdahulu, yang selalu meletakkan pembentukan karakter sebagai fondasi utama sebelum memperluas wawasan. Sayangnya, semangat ini makin tergerus zaman. Kita masih sering menjumpai orang berilmu namun bersikap angkuh, lupa menghormati pendidik, atau merasa lebih hebat dari orang lain. Padahal, tujuan hakiki pendidikan dalam Islam adalah menyempurnakan akhlak.

Kisah Nabila menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan santun. Ia belajar bersama Fathullah, santri lain yang juga bersekolah di sana dan telah hafal 30 juz, membuktikan bahwa lingkungan yang menjunjung tinggi adab akan melahirkan generasi unggul dan bermanfaat.

Kisah ini pantas menjadi cermin bagi kita semua mulai dari orang tua, pendidik, hingga pembuat kebijakan. Jangan biarkan angka nilai menggeser nilai luhur. Seperti yang ditanamkan kepada Nabila. Ilmu boleh terus dicari seumur hidup, namun adab harus tertanam sejak awal. Dialah pembeda sejati antara manusia yang sekadar berilmu, dan manusia yang benar-benar membawa berkah bagi sekitarnya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement