
Oleh: Azis Subekti, mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
REPUBLIKA.CO.ID, -Ada sesuatu yang menarik dalam cara bangsa Indonesia membaca keadaan ekonominya sendiri.
Ketika rupiah melemah beberapa persen, sebagian orang berbicara seolah-olah negara sedang berada di ambang krisis.
Ketika pasar saham terkoreksi, muncul kesimpulan bahwa investor telah kehilangan kepercayaan.
Ketika daya beli terasa melemah di sebagian sektor, muncul keyakinan bahwa ekonomi nasional sedang menuju kemunduran.
Namun anehnya, ketika pertumbuhan ekonomi tetap berada di sekitar 5 persen, neraca perdagangan masih mencatat surplus, investasi terus masuk, dan berbagai proyek strategis terus berjalan, sebagian orang yang sama tetap merasa bahwa ada sesuatu yang sedang runtuh.
Di sisi lain, ada pula kelompok yang melihat pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur, dan berbagai indikator makro yang relatif baik, lalu menyimpulkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Mereka menganggap kecemasan publik berlebihan.
Mereka menganggap berbagai tekanan yang dirasakan masyarakat hanyalah gangguan sementara.
Padahal keduanya sedang melakukan kesalahan yang sama.
Mereka sama-sama membaca Indonesia secara parsial.
Yang satu melihat bayangan dan menganggapnya kenyataan.
Yang lain melihat cahaya dan menganggap tidak ada kegelapan.