REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam beberapa minggu terakhir, dunia kembali mulai memperhatikan sebuah istilah yang sering muncul dalam media ekonomi internasional tetapi jarang benar-benar dipahami publik awam: US Treasuries. Padahal, di situlah sebenarnya salah satu fondasi utama sistem keuangan global modern berdiri.
Secara sederhana, US Treasuries adalah surat utang pemerintah Amerika Serikat. Atau lebih gampang lagi: cara Amerika meminjam uang dari dunia. Ketika bank sentral, pemerintah asing, bank besar, hedge fund, dana pensiun, dan investor global membeli Treasury, mereka sebenarnya sedang meminjamkan uang kepada pemerintah Amerika Serikat.
Dalam bahasa sehari-hari, Treasury bonds adalah obligasi pemerintah Amerika Serikat, Treasury market adalah pasar tempat surat utang pemerintah AS diperjualbelikan, sedangkan Treasury yields adalah bunga atau imbal hasil yang harus dibayar pemerintah Amerika kepada para pihak yang meminjamkan uang kepada mereka. Bagi pembaca Indonesia, konsep ini sebenarnya tidak terlalu asing. Treasury kurang lebih mirip Surat Utang Negara (SUN), ORI, atau SBN Indonesia, hanya saja dalam skala yang jauh lebih besar dan menjadi pusat sistem keuangan dunia.
Selama puluhan tahun, Treasury dianggap sebagai “aset paling aman di dunia”. Jika terjadi perang, krisis finansial, resesi global, atau kepanikan pasar, investor biasanya justru berbondong-bondong membeli Treasury. Dunia percaya bahwa Amerika Serikat akan tetap membayar utangnya. Kepercayaan inilah yang membuat Treasury menjadi fondasi sistem dolar global. Cadangan devisa bank sentral dunia, sistem perbankan internasional, perdagangan global, hingga harga berbagai aset keuangan bertumpu pada pasar Treasury Amerika.
Namun kini mulai muncul retakan-retakan yang semakin sulit diabaikan. The Economist dalam artikel berjudul “Treasure It” dan special report “The US Treasury Market” memperingatkan bahwa fondasi pasar Treasury mulai mengalami tekanan serius. Utang pemerintah Amerika kini mendekati USD 32 triliun. Defisit fiskalnya sekitar 6 persen dari GDP, angka yang sebenarnya sangat besar untuk kondisi damai. Dalam satu dekade terakhir, jumlah Treasury yang beredar meningkat lebih dari dua kali lipat.
Masalahnya bukan hanya jumlah utang yang membesar, tetapi juga perubahan struktur pasar itu sendiri. Dulu Treasury banyak dipegang oleh pemain konservatif seperti bank sentral asing, lembaga keuangan besar, dana pensiun, dan institusi yang cenderung menyimpan obligasi dalam jangka panjang. Kini pasar semakin bergantung pada hedge funds dan investor leveraged (yakni investor yang berutang untuk investasi).
Secara sederhana, hedge fund adalah investor agresif yang mengejar keuntungan cepat dengan menggunakan utang dalam jumlah besar untuk memperbesar posisi investasi mereka. Selama pasar tenang, sistem ini dapat berjalan normal. Namun ketika terjadi kepanikan, mereka juga dapat menjadi sumber ketidakstabilan besar.
Itulah yang sempat terjadi pada awal pandemi 2020. Saat itu terjadi fenomena “dash for cash”, ketika hampir semua pihak berlomba mencari uang tunai. Ironisnya, banyak investor justru menjual Treasury secara bersamaan. Akibatnya, pasar obligasi pemerintah AS yang selama ini dianggap paling likuid di dunia sempat mengalami gangguan serius. Federal Reserve atau The Fed — bank sentral Amerika Serikat — akhirnya harus turun tangan membeli Treasury dalam jumlah sangat besar agar pasar tidak membeku total.
Di sinilah muncul persoalan lain yang tidak kalah sensitif. Ketika The Fed membeli Treasury secara besar-besaran, pasar mulai khawatir bahwa Amerika pada akhirnya semakin bergantung pada bank sentral untuk menopang pembiayaan utangnya sendiri. Dalam bahasa sederhana, kekhawatiran itu dikenal sebagai monetisasi utang: pemerintah berutang, lalu bank sentral menciptakan uang baru untuk membeli utang tersebut. Semakin sering mekanisme ini digunakan, semakin muncul pertanyaan apakah fondasi kekuatan finansial Amerika masih sekuat dulu.
Namun penting dipahami bahwa isu ini bukan berarti Amerika akan bangkrut besok pagi. Krisis hegemon besar biasanya tidak terjadi dalam bentuk keruntuhan mendadak. Yang lebih sering terjadi adalah erosi kepercayaan secara perlahan. Biaya mempertahankan dominasi semakin mahal, bunga utang meningkat, investor mulai meminta premi risiko lebih tinggi, dan negara-negara lain mulai melakukan diversifikasi.
Kini geopolitik ikut memainkan peran penting. Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika semakin sering menggunakan dominasi dolar dan sistem keuangannya sebagai instrumen tekanan geopolitik melalui sanksi finansial, pembekuan aset, dan pembatasan akses pembayaran internasional. Fenomena ini sering disebut sebagai “weaponisasi dolar”, yaitu penggunaan dominasi mata uang dan sistem finansial Amerika sebagai alat tekanan politik terhadap negara lain. Bagi Washington, langkah tersebut mungkin efektif untuk menekan lawan-lawannya. Namun bagi banyak negara lain, muncul pertanyaan yang semakin relevan: bagaimana jika suatu hari mereka sendiri menjadi target?
Kekhawatiran inilah yang perlahan mendorong berbagai negara meningkatkan pembelian emas, mengurangi ketergantungan terhadap dolar, serta mencari alternatif sistem pembayaran internasional. European Central Bank bahkan mencatat bahwa emas kini telah melampaui US Treasuries sebagai reserve asset paling populer di dunia.
Sekali lagi, ini bukan berarti dolar akan segera runtuh atau Amerika kehilangan statusnya sebagai kekuatan utama dunia. Sampai hari ini, belum ada alternatif nyata yang benar-benar mampu menggantikan Treasury sebagai safe asset global. Namun dunia tampaknya mulai memasuki fase baru: bukan runtuhnya dominasi dolar secara mendadak, melainkan meningkatnya biaya untuk mempertahankannya.
Dan semua ini penting bagi Indonesia. Selama ini, ketika situasi global tidak pasti atau rupiah mengalami tekanan, masyarakat maupun pelaku pasar cenderung mencari perlindungan pada dolar Amerika. Itu menunjukkan bahwa sampai hari ini dolar masih dianggap sebagai “tempat aman” dalam sistem keuangan global. Namun jika pasar Treasury — yang menjadi fondasi utama sistem dolar — mulai terganggu, dampaknya dapat menjalar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
Rupiah dapat semakin rentan tertekan, arus modal asing keluar dari emerging markets, biaya utang naik, pasar saham melemah, dan harga komoditas menjadi lebih tidak stabil. Karena itu, isu Treasury bukan sekadar persoalan teknis Wall Street atau Washington. Ia menyangkut fondasi kepercayaan terhadap sistem keuangan global yang selama puluhan tahun menopang stabilitas ekonomi dunia.
Selama beberapa dekade, dunia percaya bahwa obligasi pemerintah Amerika adalah pilar utama sistem dolar internasional. Kini pilar itu memang belum runtuh. Namun retakan-retakan kecil mulai terlihat semakin jelas. Dan seperti dalam banyak krisis besar sejarah, masalah sering kali dimulai bukan ketika fondasi langsung roboh, melainkan ketika kepercayaan perlahan mulai terkikis.