Senin 01 Jun 2026 09:26 WIB

Membumikan Kembali Keteladanan Pancasila

Pancasila bukan sekadar jargon.

Pengunjung berfoto di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa (1/101/204).  Setiap tanggal 1 Oktober yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, sejumlah pelajar hingga warga terlihat ramai mengunjungi Monumen Pancasila Sakti untuk mempelajari tentang sejarah.  Monumen Pancasila Sakti merupakan salah satu tempat yang menyajikan beragam diorama dan museum untuk mengenang peristiwa pasca-pemberontakan Gerakan 30 September 1965 atau (G30S/PKI) yang menjadi simbol kesaktian pancasila sebagai ideologi negara yang diperingati setiap 1 Oktober.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung berfoto di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa (1/101/204). Setiap tanggal 1 Oktober yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, sejumlah pelajar hingga warga terlihat ramai mengunjungi Monumen Pancasila Sakti untuk mempelajari tentang sejarah. Monumen Pancasila Sakti merupakan salah satu tempat yang menyajikan beragam diorama dan museum untuk mengenang peristiwa pasca-pemberontakan Gerakan 30 September 1965 atau (G30S/PKI) yang menjadi simbol kesaktian pancasila sebagai ideologi negara yang diperingati setiap 1 Oktober.

Oleh: Dr H Serian Wijatno, pengamat sosial kemasyarakatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-​Pagi hari di awal Juni 2026, layar gawai kita barangkali sudah dipenuhi kiriman gambar garuda berlatar merah-putih lengkap dengan ucapan selamat Hari Lahir Pancasila.

Upacara seremonial digelar, pidato-pidato kebangsaan bergema dari pelantang suara, menggaungkan tema besar: "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia".

Baca Juga

Namun, ketika upacara usai, protokol ditutup, dan layar gawai kembali diketuk, realitas lain langsung menyergap kita tanpa ampun.

​Di balik riuhnya perayaan, ada perang dingin yang tidak kasat mata: algoritma media sosial yang bising, caci maki di kolom komentar, video potongan tanpa konteks yang viral, hingga kaburnya sekat antara kebenaran objektif dan opini subjektif.

Kita sedang hidup di era post-truth, sebuah lanskap digital tempat Pancasila tidak sedang diuji oleh senjata atau pemberontakan fisik, melainkan oleh jempol-jempol kita sendiri.

​Tantangan terbesar kita hari ini adalah menjaga akal sehat di tengah kebisingan ruang digital. Menjaga Pancasila saat ini harus dimulai dari tindakan sederhana, yaitu menyaring informasi sebelum membagikannya.

Hari Pancasila tahun ini bukan sekadar urusan memutar lagu Garuda Pancasila secara serentak. Ini adalah urusan bertahan hidup moral bangsa di tengah kepungan 229 juta jiwa pengguna internet aktif di Indonesia.

Ya, ruang siber kini bertransformasi menjadi rimba belantara yang rawan mengoyak kohesi sosial jika kehilangan panduan.

photo
Peserta membawa foto pahlawan revolusi saat Kirab Merah Putih di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (1/10/2024). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang diikuti 2.500 peserta terdiri dari ASN, pelajar dan organisasi masyarakat yang bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan revolusi dan meningkatan rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. - (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement