
Oleh: Dr H Serian Wijatno, pengamat sosial kemasyarakatan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pagi hari di awal Juni 2026, layar gawai kita barangkali sudah dipenuhi kiriman gambar garuda berlatar merah-putih lengkap dengan ucapan selamat Hari Lahir Pancasila.
Upacara seremonial digelar, pidato-pidato kebangsaan bergema dari pelantang suara, menggaungkan tema besar: "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia".
Namun, ketika upacara usai, protokol ditutup, dan layar gawai kembali diketuk, realitas lain langsung menyergap kita tanpa ampun.
Di balik riuhnya perayaan, ada perang dingin yang tidak kasat mata: algoritma media sosial yang bising, caci maki di kolom komentar, video potongan tanpa konteks yang viral, hingga kaburnya sekat antara kebenaran objektif dan opini subjektif.
Kita sedang hidup di era post-truth, sebuah lanskap digital tempat Pancasila tidak sedang diuji oleh senjata atau pemberontakan fisik, melainkan oleh jempol-jempol kita sendiri.
Tantangan terbesar kita hari ini adalah menjaga akal sehat di tengah kebisingan ruang digital. Menjaga Pancasila saat ini harus dimulai dari tindakan sederhana, yaitu menyaring informasi sebelum membagikannya.
Hari Pancasila tahun ini bukan sekadar urusan memutar lagu Garuda Pancasila secara serentak. Ini adalah urusan bertahan hidup moral bangsa di tengah kepungan 229 juta jiwa pengguna internet aktif di Indonesia.
Ya, ruang siber kini bertransformasi menjadi rimba belantara yang rawan mengoyak kohesi sosial jika kehilangan panduan.