Sabtu 16 May 2026 06:19 WIB

Muktamar ke-35 NU dan Jalan Peradaban Indonesia 2045

Muktamar NU menjadi momentum loncatan khidmah.

Nahdliyin menghadiri Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Acara peringatan Harlah Ke-100 NU Mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia yang dihadiri Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua MPR, jajaran Pengurus Besar NU, pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga badan otonom NU. Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan mengikuti rangkaian acara peringatan Harlah ke-100 NU batal hadir.
Foto: Edwin Putranto/Republika
Nahdliyin menghadiri Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Acara peringatan Harlah Ke-100 NU Mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia yang dihadiri Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua MPR, jajaran Pengurus Besar NU, pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga badan otonom NU. Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan mengikuti rangkaian acara peringatan Harlah ke-100 NU batal hadir.

Oleh: Prof Asep Saepudin Jahar MA Ph D, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ormas Islam terbesar di Indonesia NU (Nahdlatul Ulama) tengah menyambut dan mempersiapkan gelaran Muktamar ke-35 yang akan dilaksanakan pada Agustus 2026 mendatang.

Hajatan Muktamar NU sebagai forum tertinggi organisasi selalu menjadi perhatian menarik publik luas, momen tersebut bukan hanya sekadar agenda rutin lima tahunan dalam memilih estafet kepemimpinan organisasi PBNU, tapi di balik bilik suaranya, ada dinamika besar yang memengaruhi arah bangsa.

Baca Juga

NU sejak kelahirannya pada 1926 bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan institusi sosial-keagamaan yang membentuk lanskap kebangsaan Indonesia modern.

Banyak penelitian menyebut NU sebagai civil society terbesar di Indonesia yang memiliki kemampuan unik: memadukan tradisi Islam, nasionalisme, budaya lokal, dan stabilitas sosial dalam satu tarikan napas.

Dalam perspektif akademik, NU sering dipahami bukan hanya sebagai jam’iyah diniyyah (organisasi keagamaan), tetapi juga sebagai kekuatan sosiologis.

Peneliti seperti Greg Barton, Martin van Bruinessen, hingga Robert W Hefner melihat NU sebagai salah satu pilar penting demokrasi Indonesia dan model Islam moderat dunia.

Dalam karya-karya tentang Islam Indonesia, NU dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara tradisi keislaman dan modernitas politik.

Karena itu, Muktamar NU ke-35 tidak dapat dipandang hanya sebagai forum pergantian kepemimpinan organisasi. Ia adalah arena penentuan arah peradaban umat dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam teori organisasi modern, lembaga besar akan diuji bukan ketika menghadapi lawan dari luar, melainkan ketika berhadapan dengan fragmentasi internal. Di titik inilah NU hari ini sedang diuji.

photo
Presiden Prabowo Subianto (tengah) menyapa warga Nahdlatul Ulama saat menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (8/2/2026). Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 atau Satu Abad Masehi tersebut mengangkat tema Memperkokoh Jamiyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban. - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement