Rabu 29 Apr 2026 08:38 WIB

Di Balik Harapan, Gen-Z Menghadapi Realitas Dunia Kerja

Gen-Z merupakan kelompok yang kini mendominasi pasar tenaga kerja.

Sejumlah pencari kerja antre untuk memasuki area bursa kerja di Pusat Perbelanjaan di Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat.
Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Sejumlah pencari kerja antre untuk memasuki area bursa kerja di Pusat Perbelanjaan di Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat.

Oleh: Vanessa Rizki Azhari, Mahasiswa Universitas Indonesia

 

Baca Juga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pengangguran mencapai 7.194.862 orang pada 2024. Meskipun secara statistik mengalami penurunan, angka tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja.

Dalam konteks ini, muncul fenomena yang kerap disebut sebagai hope labour, khususnya di kalangan milenial dan Gen-Z, yang dipengaruhi oleh kesenjangan antara tuntutan kompetensi dan realitas peluang kerja yang tersedia.

Hope labour merujuk pada praktik kerja sukarela atau dengan imbalan minim, yang dijalani dengan harapan membuka peluang karier di masa depan. Kuehn dan Corrigan (2013) menjelaskan bahwa individu kerap memandang “eksposur” sebagai investasi jangka panjang.

Di satu sisi, praktik ini dapat menjadi ruang pembelajaran, namun di sisi lain juga berpotensi menghadirkan ketidakpastian kerja apabila tidak diimbangi dengan sistem perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pengalaman kerja semacam ini tetap memberikan nilai yang seimbang bagi pengembangan individu.

Dalam upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja, program magang yang diselenggarakan pemerintah menjadi salah satu langkah strategis. Program ini memiliki potensi besar sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Namun, dalam implementasinya, masih terdapat ruang untuk penguatan, khususnya dalam aspek kesejahteraan dan kualitas pembelajaran.

Data menunjukkan sektor publik menjadi salah satu penyerap pemagang terbesar, meskipun belum seluruhnya diikuti dengan pemberian insentif yang memadai. Kondisi ini membuka peluang untuk penyempurnaan kebijakan agar manfaat magang dapat dirasakan secara lebih optimal.

Selain itu, pengalaman magang juga dapat ditingkatkan dengan memberikan ruang bagi peserta untuk terlibat dalam pekerjaan yang lebih beragam dan bernilai strategis. Dengan demikian, magang tidak hanya menjadi pengalaman administratif, tetapi juga sarana pembentukan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Di sisi lain, Gen-Z sebagai kelompok yang kini mendominasi pasar tenaga kerja menghadapi dinamika yang cukup kompleks. Tingginya angka pengangguran di kelompok ini mencerminkan adanya tantangan struktural yang perlu direspons secara komprehensif.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement