Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah dentuman bom, headline media, dan retorika perang yang membelah langit Timur Tengah, ada satu suara yang nyaris tak terdengar. Suara ini tidak meledak, tidak berasap, tapi justru paling menentukan. Itulah suara aliran gas.
Ya, gas. Bukan gas air mata, bukan gas politik. Ini gas alam, yang mengalir diam-diam dari perut Laut Mediterania, tapi efeknya bisa membuat satu negara gelap gulita, dan negara lain tiba-tiba patuh seperti siswa telat upacara.
Perang AS+Israel vs Iran membuka tabir yang selama ini tersembunyi rapi di balik jargon “kerja sama energi regional.” Seorang pengamat, Hisham Bustani, peneliti di Centre for International Studies, Sciences Po, Prancis, mengingatkan bahwa Israel sedang membangun apa yang bisa disebut sebagai hegemoni energi kawasan.
Dan ini bukan teori. Ini angka. Israel hari ini memproduksi sekitar 20–22 miliar meter kubik (bcm) gas per tahun dari ladang utama seperti Leviathan (±12 bcm/tahun) dan Tamar. Untuk ukuran negara kecil, ini bukan sekadar cukup. Ini surplus yang bisa dijadikan alat pengaruh pada tetangga sekitar.
Sekarang kita lihat tetangganya. Mesir, yang dulu raksasa gas, produksinya turun ke sekitar 49,3 bcm pada 2024. Ini produksi terendah dalam enam tahun. Tapi kebutuhan dalam negerinya melonjak. Akibatnya, Mesir mengimpor sekitar 14,6 bcm gas per tahun. Dan sekitar 10 bcm, atau hampir 70% darinya, diimpornya dari Israel. Bahkan ada kontrak jangka panjang senilai sekitar USD 35 miliar hingga 2040.
Yordania lebih tragis lagi. Produksi domestik negara tetangga Israel ini hanya mencukupi kurang dari 5% kebutuhan gasnya. Sisanya, sekitar 3,6 bcm per tahun, diimpor lagi-lagi mayoritas dari Israel. Artinya, jika Israel mematikan keran, Yordania bukan sekadar gelap. Ia bisa lumpuh total.
Gas ini lalu mengalir lewat Arab Gas Pipeline, jaringan sepanjang lebih dari 1.200 km, dari Israel ke Yordania, ke Mesir, dan berpotensi ke Suriah serta Lebanon. Dulu jaringan ini jadi simbol solidaritas Arab. Kini ia seperti kabel ekstensi raksasa dengan satu colokan utama berada di tangan Israel.
Dan di sinilah plot twist-nya. Ketika Israel menghentikan produksi di ladang Leviathan di laut Haifa, seluruh jaringan ini ikut lumpuh. Ini bukan metafora. Ini kejadian nyata.
Pada 2025, dalam perang 12 hari di bulan Juni, ladang Leviathan sempat ditutup selama 13 hari. Hasilnya? Pasokan ke Mesir dan Yordania langsung terhenti. Krisis energi melanda seketika. Rencana darurat diaktifkan. Dan yang paling menarik: suplai ke Suriah langsung dipangkas. Seolah-olah satu tombol di laut Mediterania ditekan, dan lampu di Damaskus ikut padam.
Jadi, ketika orang bertanya, "Mengapa Gaza begitu mudah dilumpuhkan?" Jawabannya bukan hanya karena bom dan blokade. Tapi karena sejak awal, struktur energi kawasan sudah dikunci Israel. Listrik, air, bahan bakar, semuanya bisa diputus oleh negeri Zionis ini. Dan yang memegang saklar itu bukan negara Arab, tapi Israel.
Inilah yang oleh Bustani dibaca sebagai “energi sebagai instrumen kolonialisme modern”. Ia tidak datang dengan tank. Ia mengalir dengan pipa, menjadi mesin penjajahan tak hanya atas Palestina, tapi juga negara-negara tetangga lainnya.