Kamis 19 Mar 2026 08:06 WIB

Akhiri Ramadhan dengan Istighfar

Istighfar menjadi penutup setiap amalan saleh.

Istighfar/ilustrasi
Foto: tumblr.com
Istighfar/ilustrasi

Oleh : Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID,Tidak terasa waktu cepat berlalu. Ramadhan terus bergerak menuju finish. Bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya maghfirah, akhirnya pembebasan dari api neraka, dan bulan yang nafas-nafas orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misik.

Allah telah memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk memohon ampunan kepada-Nya setiap kali selesai melakukan amal saleh (QS an-Nashr [110]: 1-3). Jamaah haji setelah menyelesaikan rangkaian manasik haji diperintahkan banyak istighfar (QS al-Baqarah [2]: 199).

Baca Juga

Oleh karena itu, pada saat seseorang menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan, perbanyak istighfar dan bertaubat kepada-Nya agar semua amal ibadah Ramadhan diterima dan diampuni segala salah dan dosa.

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Tiga Waktu Disyariatkan Istighfar

Istighfar adalah meminta ampunan kepada Allah. Istighfar sebagai penutup setiap amalan saleh. Jika ada amalan yang kurang sempuna dalam ibadah, maka fungsi istighfar sebagai kafaroh (penambal) atas kekurangsempurnaan dalam ibadah.

Sesungguhnya, para nabi selalu memohon ampunan kepada Allah atas perbuatan baik yang telah selesai ditunaikan. Nabi Nuh AS berkata kepada kaumnya. “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12).

Nabi Adam AS dan istrinya berkata setelah berbuat dosa. “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf [7]: 23).

Nabi Hud AS berkata kepada kaumnya. “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS Hud [11]: 3).

Setelah Nabi Sulaiman AS melihat kerajaan dan pasukannya, ia berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS Shad [38]: 35).

Nabi Ibrahim AS berdoa pada akhir umurnya. “Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS as-Syu’ara [26]: 82).

Dengan istighfar, Allah tidak akan menyiksa orang yang beristighfar di dunia (QS al-Anfal [8]: 33); Allah memuji orang yang memohon ampun pada saat berbuat dosa dan bertaubat pada saat berbuat keji (QS Ali Imran [3]: 136).

Semoga Allah membimbing kita kaum muslimin agar dapat mengakhiri Ramadhan dengan banyak istighfar untuk menyempurnakan amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan sehingga diterima oleh-Nya. Amin.

 

 

 

 

   

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement