
Oleh : Prof Dr phil Ridho Al-Hamdi*)
Saya akan memulai tulisan ini dengan mungutip kata-kata Ali bin Abi Thalib, menantu dan sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW: “Jangan mengkritik orang bodoh karena dia akan membencimu. Kritiklah orang pandai karena ia akan mencintaimu.”
Pesan tersebut mengisyaratkan, jika ada orang yang dikritik tetapi dia marah atau membencimu atau bahkan mencari-cari cara untuk menyakiti dan bahkan berniat membunuhmu, mereka itu masuk dalam kategori orang bodoh.
Sekali lagi, orang bodoh. Dan, orang bodoh itu tidak akan mau mengaku kalau dirinya bodoh.
Adapun jika kita mengkritik orang, tetapi orang itu justru senang atau bahkan mengucapkan terima kasih, maka ia termasuk orang-orang yang pandai dan bijak.
Dikritik memang tidak enak. Menyakitkan. Bisa bikin marah.
Namun, ingatlah bahwa kritik itu ibarat jamu. Meski pahit, ia bersifat menyehatkan.
Tidak semua yang pahit itu tidak enak. Begitu pula, tidak semua yang manis itu bikin tubuh sehat.
Jamu berasa pahit, tetapi justru menjadi obat dan membuat tubuh makin sehat. Begitu juga dengan rasa manis yang meskipun enak, justru bisa menjadi sumber penyakit. Dan, serba manis bisa jadi sumber munculnya masalah.
Seorang presiden atau menteri belum tentu kuat dikritik. Jenderal juga belum tentu kuat dengan kritik. Kiai pun belum tentu kuat dengan kritik.
Hanya orang bijak yang kuat dan bisa menerima kritik.