
Oleh : Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Keluarga ICMI dan FKPPI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang dokter tidak menunggu jantung berhenti untuk menyimpulkan bahwa pasien sedang sakit. Ia membaca tanda-tanda awal: perubahan denyut nadi, inflamasi ringan, gangguan metabolik yang “belum apa-apa” tetapi sudah memberi sinyal. Dalam dunia klinis, sistem yang paling sensitif biasanya runtuh lebih dulu—dan justru karena itu, ia expresi kejujuran.
Dalam biologi planet, serangga memainkan peran yang sama.Hilangnya serangga bukan sekadar isu lingkungan atau keanekaragaman hayati. Ia adalah biomarker tingkat populasi dari toksisitas lingkungan dan stres fisiologis sistemik. Jika bumi adalah tubuh, maka serangga adalah sel-sel cepat-belah dengan metabolisme tinggi—yang pertama kali kolaps ketika lingkungan menjadi patologis.
Siklus hidup serangga yang pendek, laju metabolisme yang tinggi, serta ketergantungan ketat pada sinyal kimia, cahaya, dan nutrisi membuat mereka sangat sensitif terhadap gangguan. Pestisida,perubahan spektrum elektromagnetik, fragmentasi habitat, hingga penurunan kualitas tanah—semua itu memukul serangga lebih dahulu, jauh sebelum manusia merasakan penyakit secara klinis.
Dalam kedokteran, kegagalan sistem sensitif disebut peringatan dini. Dalam peradaban modern, kita menyebutnya “masalah ekologis” dalam survival kehidupan.Bukti ilmiah semakin menunjukkan bahwa paparan yang terlibat dalam penurunan populasi serangga berkorelasi dengan meningkatnya gangguan endokrin, disregulasi imun, gangguan perkembangan saraf, dan penyakit metabolik pada manusia. Contoh paling gamblang adalah neonicotinoid.
Neonicotinoid dirancang untuk menargetkan reseptor asetilkolin nikotinik pada serangga. Namun reseptor homolog juga ada pada mamalia, termasuk manusia—berperan dalam perkembangan sistem saraf, fungsi kognitif, dan regulasi saraf otonom. Paparan kronis dosis rendah memang tidak menyebabkan keracunan akut. Tetapi dunia kedokteran sudah terlalu sering belajar, dengan harga mahal, bahwa ketiadaan toksisitas akut bukan berarti aman secara biologis.
Asbes, timbal, rokok, dan banyak disruptor endokrin lainnya pernah dinyatakan “aman” karena tidak langsung mematikan. Penyakit muncul puluhan tahun kemudian—saat koreksi sudah terlambat dan korban terlalu banyak.Lebih jauh lagi, hilangnya serangga—khususnya penyerbuk—secara langsung memengaruhi kualitas gizi manusia, bukan dalam bentuk kelaparan, tetapi melalui erosi mikro- nutrien (Eilers, E. J., et Al,2011, "Contribution of pollinator-mediated crops to nutrients in the human food supply").
Buah-buahan,sayuran,kacang-kacangan, dan polong-polongan sangat bergantung pada penyerbukan. Ketika penyerbukan menurun, hasil panen mungkin masih ada, tetapi kepadatan nutrisi menurun. Folat, polifenol magnesium, flavonoid, dan berbagai antioksidan tidak hilang secara dramatis. Mereka menipis perlahan. Akibatnya juga tidak muncul sebagai krisis pangan, melainkan sebagai penyakit kronis: daya tahan tubuh rapuh, penyembuhan luka lambat, inflamasi kronik tingkat rendah, gangguan metabolik, dan kerentanan terhadap infeksi.
Fenomena-fenomena ini kini semakin sering ditemui di ruang praktik klinis. Namun jarang sekali dihubungkan dengan integritas ekosistem dan sistem pangan. Kita mengobati gejala dengan suplemen dan obat, tanpa menyentuh penyebab hulu: lingkungan yang tidak lagi mendukung fisiologi sehat.
Di titik ini, perbedaan antara kedokteran dan ekologi sebenarnya menghilang. Keduanya berbicara tentang keseimbangan, ambang toleransi, dan kegagalan sistem. Tubuh manusia dan tubuh planet tunduk pada prinsip yang sama: tidak ada sistem biologis yang kebal terhadap paparan kronis.
Yang membedakan hanyalah skala waktu dan keberanian membaca tanda.Ironisnya, kita hidup di zaman dengan teknologi diagnostik paling canggih, tetapi gagal membaca diagnosis paling kasat mata: lenyapnya makhluk kecil yang selama ratusan juta tahun menjaga stabilitas biosfer. Dalam bahasa klinis, ini bukan sekadar keluhan ringan. Ini adalah red flag.
Jika dokter mengabaikan biomarker awal, ia disebut lalai. Jika peradaban mengabaikan biomarker ekologis, kita menyebutnya “harga kemajuan”.Padahal, kemajuan sejati seharusnya meningkatkan kapasitas hidup—bukan memperpendeknya secara kolektif. Serangga tidak hanya penyerbuk atau pengurai. Mereka adalah penjaga sunyi kesehatan planet, dan secara tidak langsung, penjaga kesehatan manusia.
Saran Solusi: Dari “Lingkungan” ke “Kesehatan Publik”
Pertama,ubah kerangka kebijakan: krisis serangga itu identik dengan isu kesehatan masyarakat.Selama hilangnya serangga diperlakukan sebagai isu lingkungan semata, ia akan selalu kalah prioritas dari ekonomi jangka pendek. Solusinya bukan sekadar regulasi hijau, melainkan reframing kebijakan: penurunan biodiversitas harus masuk indikator risiko kesehatan publik—setara dengan polusi udara atau air minum.Jika suatu bahan kimia menurunkan populasi serangga secara signifikan, ia harus diperlakukan seperti obat dengan efek samping sistemik—bukan seperti produk industri netral.
Kedua,prinsip klinis dalam regulasi: “chronic low-dose matters”.Kedokteran modern sudah lama meninggalkan logika “aman karena tidak mematikan”. Prinsip yang sama harus diterapkan pada pestisida, aditif pangan, dan paparan lingkungan lain.Uji toksisitas tidak boleh berhenti pada kematian akut, tetapi harus memasukkan efek paparan kronis dosis rendah, efek lintas generasi, dan dampak pada organisme indikator seperti serangga.
Ketiga,transisi pertanian sebagai terapi. Agroekologi,pengurangan input kimia sintetis, diversifikasi tanaman, dan restorasi habitat mikro bukan agenda romantik, melainkan intervensi kesehatan preventif.Tanah yang hidup menghasilkan tanaman dengan kepadatan nutrisi lebih tinggi—dan secara klinis, itu berarti sistem imun manusia yang lebih resilien.
Keempat,integrasikan klinisi dalam kebijakan pangan dan lingkungan. Dokter,ahli gizi, dan epidemiolog jarang dilibatkan dalam desain sistem pangan dan pertanian. Padahal merekalah yang pertama melihat dampak akhirnya di ruang praktik.Ketika klinisi mulai membaca ekosistem seperti membaca hasil laboratorium, kebijakan akan berhenti bersifat reaktif dan mulai preventif.
Kelima,edukasi publik: sehat bukan hanya soal obat, tapi ekosistem.Kesadaran masyarakat perlu digeser: kesehatan bukan sekadar urusan individu, tetapi hasil dari sistem pangan, tanah, air, dan makhluk kecil yang tak terlihat.Tanpa itu, kita hanya memindahkan biaya dari ladang ke rumah sakit—dari petani ke pasien.
Penutup
Dalam fitrah penciptaan, tidak ada makhluk yang hadir tanpa fungsi, dan tidak ada fungsi yang dicabut tanpa konsekuensi. Serangga bukan sekadar penghuni kecil ekosistem, melainkan bagian dari amanah keseimbangan yang menopang kehidupan—dari tanah, tanaman, hingga tubuh manusia.
Ketika mereka menghilang, yang sebenarnya terjadi bukan krisis alam,melainkan penyimpangan manusia dari tata hidup yang selaras.Kaidah fitrah mengajarkan bahwa kesehatan bukan hasil teknologi semata, tetapi buah dari ketaatan pada hukum alam: tanah yang dijaga,pangan yang bernutrisi, dan intervensi yang tidak melampaui batas.
Peradaban yang memulihkan fitrahnya akan menemukan bahwa menyembuhkan bumi adalah cara paling rasional untuk menyembuhkan manusia. Sebab tubuh yang hidup di atas sistem yang sakit, pada akhirnya hanya sedang menunggu giliran untuk jatuh sakit.
Sudah waktunya kita memperlakukan krisis ekologi bukan sebagai isu tambahan di luar kesehatan, tetapi sebagai kasus klinis terbesar dalam sejarah manusia. Karena pada akhirnya, planet yang sakit tidak akan pernah menghasilkan populasi yang benar-benar sehat—betapapun canggih rumah sakit dan obat yang kita miliki.Dan seperti dalam dunia kedokteran, semakin lama diagnosis ditunda, semakin mahal—dan semakin menyakitkan—harga terapinya.