Selasa 10 Mar 2026 10:03 WIB

Perang Israel-Amerika vs Iran dan Tantangan Persatuan Umat Islam

Islam mengajarkan bahwa umat ini adalah bangunan yang kokoh.

Pesserta berfoto sebelum KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam dan Liga Arab di Doha, Qatar, Senin (16/9/2025).
Foto: Anadolu Agency
Pesserta berfoto sebelum KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam dan Liga Arab di Doha, Qatar, Senin (16/9/2025).

Oleh : Ismail Suardi Wekke, Peneliti Senior CIDES ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, Geopolitik Timur Tengah kembali berada di titik nadir yang paling mengkhawatirkan. Eskalasi konflik yang melibatkan segitiga kekuatan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran bukan lagi sekadar bumbu diplomasi di meja perundingan, melainkan ancaman nyata yang menyulut api di padang ilalang.

Di tengah dentuman rudal dan retorika perang yang kian memanas, terselip sebuah pertanyaan fundamental yang terus menghantui nurani kolektif kita: di mana posisi persatuan umat Islam dalam pusaran badai ini?

Hubungan antara Israel dan Iran telah lama menjadi sumbu pendek di kawasan tersebut. Namun, keterlibatan aktif Amerika Serikat sebagai penyokong utama Israel memberikan dimensi yang jauh lebih kompleks.

Serangan demi serangan balasan, sabotase fasilitas nuklir, hingga pembunuhan tokoh-tokoh kunci militer bukan hanya persoalan keamanan nasional masing-masing negara, melainkan manifestasi dari benturan kepentingan ideologi dan hegemoni.

Bagi Israel, keberadaan pengaruh Iran melalui proksinya di Lebanon, Suriah, dan Yaman dianggap sebagai ancaman eksistensial. Sementara bagi Iran, perlawanan terhadap "Setan Kecil" (Israel) dan "Setan Besar" (Amerika Serikat) adalah bagian dari doktrin politik-religius yang mereka usung sejak revolusi 1979. Namun, di balik narasi perlawanan tersebut, jutaan warga sipil Muslim di kawasan tersebut menjadi pihak yang paling dirugikan.

Fragmentasi Umat: Luka Lama yang Menganga

Realitas pahit yang harus kita telan adalah bahwa dunia Islam saat ini masih terfragmentasi. Persoalan persatuan umat bukan sekadar jargon di mimbar-mimbar khutbah, melainkan tantangan geopolitik yang sangat berat.

Perbedaan mazhab, kepentingan ekonomi nasional, serta ketergantungan beberapa negara Muslim terhadap dukungan militer Barat seringkali menjadi penghalang terciptanya satu barisan yang solid.

Kita melihat fenomena di mana negara-negara Arab dan Muslim terbelah. Di satu sisi, ada kelompok yang memilih jalur pragmatisme dan normalisasi hubungan dengan Israel demi stabilitas ekonomi dan keamanan dari pengaruh Iran. Di sisi lain, ada kelompok yang tetap teguh pada jalur konfrontasi dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sebagai harga mati.

Tantangan Menuju Konsolidasi

Membangun persatuan di tengah bara konflik Israel-Amerika-Iran memerlukan lebih dari sekadar retorika. Ada beberapa tantangan nyata yang harus dihadapi:

Pertama, sentimen sektarianisme yang kian meruncing. Musuh-musuh dunia Islam seringkali menggunakan celah perbedaan Sunni-Syiah untuk mengadu domba. Perang antara Iran dan Israel seringkali ditarik secara paksa ke ranah teologis untuk memecah simpati umat.

Hal ini melahirkan polarisasi ekstrem di akar rumput. Di sebagian kalangan, muncul perdebatan sengit mengenai apakah layak seorang Muslim Sunni bersimpati pada pimpinan Iran.

Bahkan, dalam beberapa momentum krusial, seperti wafatnya pimpinan tertinggi atau tokoh militer Iran, media sosial diramaikan oleh narasi yang menganggap bahwa bersedih atas kematian tersebut adalah "kesedihan yang tak perlu".

Sebagian pihak menilai bahwa perbedaan ideologi mazhab lebih besar daripada solidaritas politik melawan penjajahan. Friksi ini menunjukkan betapa rapuhnya fondasi persatuan kita saat kebencian internal lebih mendominasi daripada kewaspadaan terhadap ancaman eksternal yang nyata di depan mata.

Kedua, ketergantungan ekonomi dan militer. Banyak negara Muslim yang terjebak dalam utang atau ketergantungan teknologi militer pada Amerika Serikat.

Hal ini menciptakan dilema luar biasa bagi para pemimpin negara Muslim; mereka sulit mengambil posisi tegas yang berseberangan dengan kebijakan Washington tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi nasional mereka sendiri.

Ketiga, krisis kepemimpinan yang berwibawa. Dunia Islam merindukan sosok atau lembaga yang mampu menjadi mediator jujur dan pengikat ukhuwah tanpa didasari syahwat kekuasaan regional.

Ketiadaan suara tunggal membuat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) seringkali hanya dianggap sebagai "macan kertas" yang mampu mengeluarkan resolusi namun mandul dalam aksi nyata di lapangan.

Urgensi Khittah Persatuan

Islam mengajarkan bahwa umat ini adalah bunyanun marshush—suatu bangunan yang kokoh dan saling menguatkan. Dalam konteks konflik global ini, persatuan umat Islam seharusnya bukan berarti menyatukan seluruh negara dalam satu sistem politik tunggal yang utopia, melainkan penyelarasan visi strategis.

Dunia Islam harus mampu meletakkan isu Palestina dan kedaulatan wilayah di atas kepentingan sempit kelompok atau sentimen mazhab. Persatuan harus dimaknai sebagai kerja sama ekonomi yang mandiri, pengembangan teknologi pertahanan bersama, dan satu suara diplomasi yang tidak bisa didikte oleh kepentingan luar.

Konflik antara Israel, Amerika, dan Iran tidak boleh menjadi alasan bagi umat Islam untuk semakin terpecah dalam debat teologis yang tidak produktif di tengah gencatan senjata yang terus dilanggar. Sebaliknya, krisis ini harus menjadi momentum wake-up call.

Jika umat Islam terus terjebak dalam pertikaian internal sementara pihak luar menguras energi dan sumber daya kita, maka sejarah hanya akan mencatat kita sebagai penonton di tanah kita sendiri.

Perang bukan hanya soal siapa yang menang secara militer. Perang adalah ujian bagi ketahanan ideologi dan soliditas sosial.

Tantangan persatuan umat Islam di tengah ketegangan Israel-Amerika-Iran adalah ujian sejarah yang akan menentukan apakah kita akan bangkit sebagai kekuatan penyeimbang dunia atau terus menjadi bidak dalam papan catur bangsa lain. Sudah saatnya ukhuwah Islamiyah melampaui batas-batas peta politik dan sekat-sekat mazhab demi kemaslahatan umat manusia.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement