Rabu 11 Mar 2026 03:01 WIB

I‘tikaf: Ketika Arus Waktu Ditarik ke Dalam Diri

Dalam sunyi i‘tikaf, manusia diingatkan bahwa ia bukan pusat semesta.

Itikaf di masjid (foto ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Itikaf di masjid (foto ilustrasi)

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Fraksi Gerindra, Daerah Pemilihan Jawa Tengah VI

REPUBLIKA.CO.ID, Setiap Ramadhan, ketika malam-malam terakhir tiba dan Madinah meredup, Nabi Muhammad ﷺ memilih berdiam. Bukan untuk menjauh dari dunia, melainkan untuk menempatkan dunia pada jarak yang aman dari hatinya. I‘tikaf—tinggal di masjid, memutus diri dari hiruk-pikuk—bukan ritual tambahan, melainkan poros batin dari seluruh perjalanan kenabian.

Dalam sirah, i‘tikaf dilakukan secara konsisten, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Fakta ini sering dibaca sebagai kesalehan personal. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, ia adalah pernyataan sunyi tentang kepemimpinan dan kuasa.

Perhatikan konteksnya: i‘tikaf tidak hanya dilakukan saat umat rapuh, tetapi juga ketika Islam telah kuat. Ketika pengaruh meluas, keputusan bertambah, dan zaman bergerak semakin cepat, Nabi justru memilih berhenti sejenak. Seolah beliau ingin mengatakan: semakin besar pengaruh seseorang dalam arus kehidupan, semakin dalam ia harus masuk ke dalam dirinya sendiri.

Kesunyian, dalam pengertian ini, bukan kekosongan. Ia adalah ruang penajaman. Di sanalah niat disisir ulang, ambisi diperiksa, dan tujuan dipulihkan dari debu-debu kepentingan. I‘tikaf adalah cara untuk memastikan bahwa perjuangan tidak berubah menjadi kebiasaan, dan kuasa tidak menjelma menjadi candu.

Ramadhan bagi Nabi bukan jeda dari pergulatan hidup. Ia justru nadi dari perjalanan itu sendiri. Perjalanan manusia yang melaju tanpa jeda batin akan berubah menjadi mesin—cepat, efisien, dan kehilangan arah. I‘tikaf hadir sebagai rem spiritual: bukan untuk menghentikan langkah, tetapi untuk meluruskannya sebelum melaju lebih jauh.

Di malam-malam i‘tikaf, tidak ada tausiah, tidak ada perundingan, tidak ada perencanaan besar. Yang ada adalah doa yang tidak diumumkan, zikir yang tidak dipertontonkan, dan keheningan yang tidak meminta disaksikan. Dari sanalah lahir kejernihan—kejernihan untuk memimpin tanpa terperangkap oleh peran, untuk berpengaruh tanpa merasa memiliki dunia.

I‘tikaf juga mengajarkan satu pelajaran yang sering hilang dalam perjalanan panjang manusia: bahwa perubahan luar tanpa perubahan batin hanya akan mengganti wajah penindasan. Karena itu, Nabi tidak pernah memisahkan kerja lahir dari kerja jiwa. Keduanya saling mengawasi.

Dalam sunyi i‘tikaf, manusia diingatkan bahwa ia bukan pusat semesta. Bahwa keberhasilan hari ini bisa menjadi ujian paling berbahaya esok hari. Bahwa doa lebih dulu mendahului keputusan, dan kerendahan hati lebih dulu mendahului kemenangan.

Maka i‘tikaf bukan pelarian dari dunia. Ia adalah cara paling jujur untuk kembali ke dunia tanpa merusaknya.

Dan barangkali, di situlah letak penajaman spiritual yang sejati: bukan menjadi suci untuk menjauh dari arus kehidupan, melainkan menjadi jernih agar perjalanan manusia tetap manusiawi.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement