
Oleh : Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH keluarga FKPPI dan ICMI
REPUBLIKA.CO.ID, Ada jenis kebijaksanaan yang tidak lahir dari rapat panjang, grafika pertumbuhan, atau pidato kekuasaan. Ia lahir dari keheningan—dari sesuatu yang tidak tergesa, tidak reaktif, dan tidak silau oleh keuntungan sesaat. Gunung tidak berbicara, tetapi ia menyimpan ingatan. Ia menyaksikan bagaimana hutan tumbuh dan ditebang, sungai mengalir lalu tercemar, satwa datang lalu menghilang.Gunung hidup melampaui usia manusia dan rezim. Karena itu, gunung “tahu” sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: kehidupan hanya bertahan bila keseimbangan dijaga.
Di Indonesia, kesadaran ini sesungguhnya telah masuk ke kerangka strategis negara melalui ASTA GATRA.
keragaman hayati bukan lagi isu pinggiran, melainkan bagian dari fondasi ketahanan nasional. Lingkungan hidup ditempatkan sebagai penopang Trigatra—geografi, sumber daya alam, dan demografi—serta mempengaruhi Pancagatra: ekonomi, sosial-budaya, politik, ideologi, dan pertahanan-keamanan. Artinya jelas: negara tidak mungkin aman di atas ekosistem yang rapuh.
Kesadaran serupa kini muncul di luar negeri. Pemerintah Inggris, dalam dokumen-doktrin keamanan nasional terbarunya (National Security Assessment on Global Biodiversity Loss, Ecosystem Collapse and National Security; diterbitkan 20 Januari 2026), secara eksplisit memasukkan biodiversitas sebagai bagian dari kepentingan keamanan strategis. Kerusakan keanekaragaman hayati dipandang bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi ancaman terhadap stabilitas ekonomi, pangan, kesehatan publik, hingga kohesi sosial. Ini bukan romantisme hijau. Ini kalkulasi jelas dan tegas: tanpa ekosistem yang sehat, negara menjadi rentan.
Isi pokoknya: dokumen ini menganalisis bagaimana hilangnya biodiversitas dan potensi runtuhnya ekosistem global dapat mempengaruhi keamanan nasional Inggris, termasuk aspek pangan, air, kesehatan, dan rantai pasok.
Laporan tersebut secara jelas menyebut bahwa biodiversitas dan fungsi ekosistem bukan hanya isu lingkungan, tetapi fondasi bagi stabilitas, kemakmuran, dan ketahanan nasional.
Dalam konteks ini, Indonesia dengan ASTA GATRA-nya lebih duluan dibandingkan Inggris.
Fakta di lapangan menguatkan kesimpulan itu. Di Tanah Air, kita menyaksikan degradasi daerah aliran sungai yang berujung banjir berulang, longsor di wilayah hulu, krisis air di musim kemarau, konflik agraria yang tak kunjung padam, serta pesisir yang tergerus dan kehilangan nelayan. Di luar negeri, kita melihat kebakaran hutan skala benua, kekeringan ekstrem, runtuhnya terumbu karang, dan migrasi ekologis yang memicu ketegangan politik lintas negara. Polanya sama: ketika ekosistem runtuh, stabilitas sosial ikut runtuh.
Namun manusia sering terlambat belajar. Aldo Leopold adalah contoh jujur dari keterlambatan itu—dan sekaligus teladan keberanian untuk berubah. Pada awal kariernya sebagai rimbawan dan pemburu, Leopold mengikuti arus utama zamannya. Karnivora seperti serigala dianggap musuh. Mereka diburu dan dimusnahkan demi melindungi ternak dan memperbanyak rusa. Leopold sendiri ikut menembak serigala. Tidak ada rasa bersalah kala itu; yang ada justru keyakinan bahwa manusia sedang “memperbaiki” alam.
Lalu kenyataan berbicara lain. Tanpa serigala, populasi rusa meledak. Padang rumput habis digerogoti, tunas pohon muda tak sempat tumbuh, tanah terbuka ter-erosi, sungai membawa lumpur, dan lanskap perlahan kehilangan kemampuannya menopang kehidupan. Ekosistem runtuh bukan karena satu tindakan jahat, melainkan karena satu fungsi kunci dihilangkan.
Momen puncaknya terekam dalam esai terkenal Leopold, "Thinking Like a Mountain". Ia menulis tentang “api hijau” yang padam di mata serigala yang sekarat—sebuah simbol kesadaran. Di situlah ia memahami bahwa gunung “membutuhkan” serigala. Bukan karena gunung menyukai kekerasan, tetapi karena keseimbangan membutuhkan pengendali. Dari pengalaman inilah lahir gagasan besar Leopold: "Land Ethic"—etika yang menempatkan manusia sebagai anggota, bukan penguasa, komunitas kehidupan.
Kontemplasi ala gunung mengajarkan kita untuk keluar dari cara pandang sempit. Ia menuntut kita melihat rantai sebab-akibat yang panjang, bukan sekadar hasil cepat. Ia menuntut kerendahan hati: mengakui bahwa tidak semua yang
tampak rasional dalam jangka pendek akan bijak dalam jangka panjang. Ia juga mengajarkan keberanian untuk melindungi peran-peran yang tidak populer—seperti karnivora dalam ekosistem, atau regulasi ketat dalam ekonomi—karena fungsinya vital bagi kestabilan sistem.
Dalam konteks hari ini, pelajaran Leopold beresonansi dengan kuat. Banyak kerusakan ekosistem terjadi bukan karena kebodohan, melainkan karena cara berpikir yang terlalu sempit.Pembangunan dipacu tanpa menghitung daya dukung. Keanekaragaman hayati dikorbankan demi efisiensi. Alam diperlakukan sebagai stok, bukan sistem hidup. Padahal, seperti yang kini disadari dalam doktrin keamanan modern, biodiversitas adalah infrastruktur tak terlihat yang menjaga negara tetap berdiri.
Kontemplasi ala gunung juga menuntut perubahan dalam tata kelola. Ia menolak kebijakan reaktif yang hanya memadamkan krisis, dan mendorong pencegahan berbasis ekosistem.
Ia menggeser pertanyaan dari “berapa cepat kita bisa tumbuh?” menjadi “berapa lama sistem ini bisa bertahan?”. Dalam bahasa ASTA GATRA, ini berarti menjadikan ketahanan ekosistem sebagai prasyarat semua kebijakan strategis—ekonomi, pertahanan, hingga pembangunan wilayah.
Pada akhirnya, gunung tidak pernah menulis manifesto. Ia hanya bertahan. Ia hanya menunjukkan bahwa segala sesuatu punya batas, punya ukuran, dan punya waktu. Manusia yang menolak belajar dari gunung akan terus mengulangi kesalahan yang sama: merayakan keuntungan sesaat sambil menabung krisis.
Refleksi
Sejarah jarang mencatat negara runtuh karena kehabisan senjata. Yang sering terjadi, negara runtuh karena kehilangan pijakan. Ekosistem yang rusak adalah pijakan yang rapuh. Aldo Leopold bertobat setelah melihat satu gunung kehilangan serigalanya.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita setuju dengan gunung, melainkan berapa banyak gunung yang harus runtuh sebelum kita mau berkontemplasi.
Kontemplasi itu mutlak perlu.