
Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Swasembada beras berkelanjutan artinya kemampuan suatu negara atau wilayah memenuhi kebutuhan berasnya sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada impor dan dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Ini berarti produksi beras lokal harus cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi yang seimbang. Hal ini jelas berbeda dengan swasembada beras "on trend".
Mengapa? Sebab, swasembada beras "on trend" itu artinya swasembada beras yang bersifat sementara atau tidak berkelanjutan. Penyebabnya beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, ketergantungan pada impor, kurangnya investasi di sektor pertanian, dan dampak perubahan iklim.
Per 31 Desember 2025, Indonesia sebenarnya sudah mencapai swasembada beras, bahkan tidak melakukan impor beras sama sekali. Stok beras nasional juga sangat tinggi, mencapai 12,529 juta ton di awal 2026.
Ini berkat kerja keras petani dan dukungan pemerintah. Namun, pertanyaan kritisnya, apakah swasembada beras ini bisa berkelanjutan? Apakah kita bisa menjaga produksi beras yang stabil dan tidak bergantung pada impor lagi?
Swasembada beras 2025 memang telah tercapai, dengan produksi beras nasional mencapai 34,71 juta ton. Melebihi kebutuhan domestik. Ini berkat kerja keras petani dan dukungan pemerintah.
Hanya yang jadi pertanyaan besarnya apakah ini bisa berkelanjutan atau tidak, di mana swasembada beras yang diraih pada 2025, juga akan terjebak dalam sqasembada beras yang sifatnya on trend ?
Namun begitu, beberapa indikator positif menunjukkan potensi keberlanjutan, seperti pertama stok beras tinggi. Stok beras Perum Bulog mencapai 3,24 juta ton, memberikan ruang untuk menjaga harga dan pasokan.
Kedua, produksi beras meningkat 13,36 persen dibandingkan 2024. Ketiga, kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35, tertinggi dalam 25 tahun. Keempat, ekspor pertanian yang meningkat 33,6 persen pada Januari-Oktober 2025.
Hanya, perlu diingat swasembada beras sebelumnya juga pernah tercapai tetapi tidak berkelanjutan. Karena itu, pemerintah perlu menjaga konsistensi produksi, memperluas swasembada ke komoditas strategis lainnya.
Selain itu, pemerintah memastikan manfaat pembangunan pertanian dirasakan oleh petani dan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk menjaga konsistensi peningkatan produksi beras.
Pertama, ekstensifikasi dan intensifikasi. Pemerintah menjalankan program ini untuk meningkatkan produksi padi, termasuk perluasan lahan tanam dan peningkatan produktivitas.
Kedua, pemerintah melakukan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan untuk meningkatkan luas tanam dan produksi padi. Ketiga, distribusi alat dan mesin pertanian. Pemerintah menyediakan alat dan mesin pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani.
Keempat, regulasi pupuk subsidi. Pemerintah mengatur distribusi pupuk subsidi untuk memastikan ketersediaan pupuk bagi petani. Kelima, pemerintah membeli gabah petani dengan harga kompetitif untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Keenam, pemerintah menjaga stok cadangan beras untuk memastikan ketersediaan di masa darurat. Ketujuh, Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintah mendukung koperasi ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan stabilitas harga beras.
Kolaborasi yang berkualitas Koperasi Desa Merah Putih dengan pemangku kepentingan dunia perberasan merupakan kebijakan yang perlu secepatnya digarap.
Dengan upaya-upaya tersebut, pemerintah berharap dapat meningkatkan produksi dan menjaga ketersediaan beras. Pertanyaannya, apakah pemerintah telah memiliki strategi khusus untuk mewujudkannya ? Adakah jurus ampuh yang disiapkan?
Menurut beberapa ahli, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan:
1.Teknologi pertanian modern. Implementasi teknologi pertanian modern seperti drone, sensor tanah, dan irigasi presisi dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
2.Varietas padi unggul. Pengembangan dan penggunaan varietas padi unggul yang tahan terhadap perubahan iklim dan penyakit dapat meningkatkan hasil panen.
3.Pengelolaan air yang efektif dan efisien dapat membantu meningkatkan produksi padi, terutama di daerah dengan curah hujan rendah.
4.Pendidikan dan pelatihan petani tentang teknik pertanian modern dan pengelolaan usaha tani dapat meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan petani.
5.Kemitraan dan koordinasi pemerintah, petani, dan industri bisa membantu meningkatkan produksi dan distribusi beras. Namun, perlu diingat tidak ada "jurus ampuh" tunggal yang dapat mewujudkan swasembada beras berkelanjutan. Ini memerlukan upaya bersama dan komitmen dari semua pihak.
Akhirnya, sebagai penutup dari tulisan ini, perlu diingatkan akan adanya risiko politik cukup tinggi, bila kita ingin mewujudkan swasembada beras berkelanjutan. Pertama, resistensi dari importir beras.
Jika Indonesia berhasil meningkatkan produksi beras, importir beras mungkin kehilangan bisnisnya dan bisa memengaruhi hubungan diplomatik. Kedua, tekanan dari kelompok kepentingan. Petani, pedagang, atau industri terkait mungkin memiliki kepentingan berbeda dan bisa memengaruhi kebijakan pemerintah.
Ketiga, keterlibatan politik. Swasembada beras bisa menjadi isu politik yang sensitif, terutama jika ada kekurangan pasokan atau kenaikan harga. Keempat, ketergantungan pada teknologi. Swasembada beras berkelanjutan mungkin memerlukan teknologi canggih, yang bisa meningkatkan ketergantungan pada negara lain.
Kelima perubahan iklim bisa memengaruhi produksi beras dan mengancam swasembada beras. Semoga jadi perenungan bersama.