Sabtu 14 Feb 2026 10:18 WIB

Abu Hamid Al-Ghazali, Membangun Karakter Muslim, Mukmin, dan Muhsin

Al-Ghazali memandang manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan struktur kompleks

ILUSTRASI orang beriman merenungkan keindahan ciptaan Allah.
Foto: pxhere
ILUSTRASI orang beriman merenungkan keindahan ciptaan Allah.

Oleh : Jarman Arroisi, Peneliti Psikologi Islam dan Pengelola Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis karakter yang melanda masyarakat modern pada hakikatnya adalah krisis keseimbangan hidup. Banyak manusia hidup aktif secara fisik, produktif secara ekonomi, tetapi rapuh secara batin.

Dalam Islam, keseimbangan hidup merupakan ciri utama seorang muslim sejati, yang mampu menata hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan dirinya sendiri. Pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali hadir sebagai tawaran konseptual dan praktis untuk membangun keseimbangan tersebut.

Baca Juga

Ia tidak hanya berbicara tentang moralitas lahiriah, tetapi juga tentang bagaimana jiwa manusia dibentuk agar selaras antara iman, Islam, dan ihsan. Dengan demikian, karakter menurut Al-Ghazali bukan sekadar etika sosial, melainkan jalan menuju kesempurnaan spiritual seorang mukmin.

Hakikat Manusia: Makhluk Jasmani dan Ruhani

Abu Hamid Al-Ghazali memandang manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan struktur yang kompleks dan seimbang antara dimensi jasmani dan ruhani. Manusia bukan sekadar tubuh biologis yang digerakkan oleh kebutuhan fisik dan dorongan instingtif, tetapi juga makhluk spiritual yang memiliki kesadaran, kehendak, dan tujuan hidup transendental. Pemahaman inilah yang menjadi fondasi utama dalam pembangunan karakter menurut Al-Ghazali.

Dimensi jasmani berperan penting sebagai sarana aktualisasi amal dan ibadah. Tubuh memungkinkan manusia bekerja, berinteraksi sosial, dan menjalankan kewajiban syariat. Namun, Al-Ghazali menegaskan bahwa jasad bukanlah pusat kepribadian manusia. Ketika kehidupan hanya diarahkan untuk memuaskan kebutuhan jasmani, manusia akan kehilangan makna dan keseimbangan hidup. Inilah yang sering terjadi pada manusia yang hanya berhenti pada level lahiriah keislaman.

Sebaliknya, dimensi ruhani merupakan inti kemanusiaan. Ruh memberikan arah, makna, dan orientasi hidup. Dari ruh lahir kesadaran iman yang menjadikan manusia mampu naik dari sekadar muslim menuju mukmin, bahkan muhsin. Dalam pandangan Al-Ghazali, iman yang hidup hanya dapat tumbuh jika manusia mampu menjaga hubungan harmonis antara jasad dan ruh. Keseimbangan antara jasmani dan ruhani inilah yang melahirkan ketenangan batin, kematangan karakter, dan kejernihan tujuan hidup.

Seorang mukmin yang seimbang tidak menolak dunia, tetapi menempatkannya sebagai jalan menuju akhirat. Dengan demikian, hakikat manusia menurut Al-Ghazali bukanlah makhluk yang terbelah antara dunia dan agama, melainkan pribadi utuh yang menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang untuk menyempurnakan iman dan akhlak.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement